Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 70. Berisik setiap hari


__ADS_3

Vera berjalan cepat memasuki mansion mewah milik Djaduk. Dia tinggal di sana dengan istri pertama Djaduk. Sikapnya yang egois, dan sombong membuatnya tak akur dengan madunya. Lagi pula, sedikit sekali orang yang ikhlas menerima suaminya memiliki istri lagi. Apalagi Vera yang merupakan istri baru suaminya mempunyai sikap mau menang sendiri.


"Dari mana Ver?" Tanya Djaduk pada Vera yang sekarang duduk di sampingnya. Vera diam sesaat menatap wajah istri pertama Djaduk yang seperti mengejeknya saat melihat Vera datang.


"Dari tempat Dinda. Mas.. Kamu bisa enggak bilangin ke bini tua mu yang emang udah tua itu kalau lihat aku tuh biasa aja!! Mata nyampe melotot gitu, biar apa? Biar dikata mirip Nyi Blorong?" Vera menatap jengah pada istri pertama Djaduk.


"Jangan mulai... Aku enggak suka keributan! Bisa enggak sehari aja jangan ribut! Berisik, kayak anak kecil!" Djaduk menghentikan ocehan Vera yang memancing Hermiku, istri pertama Djaduk untuk menjawab sindiran Vera.


Vera merasa di atas angin, meski dia adalah istri kedua tapi Vera merasa perlakuan Djaduk kepadanya selalu mengistimewakannya. Entah itu pikirannya sendiri atau tidak.


"Lon_Te." Ucap Hermiku tanpa suara memandang ke arah Vera. Siapapun yang melihat Hermiku tadi berucap, pasti bisa menebak apa yang diucapkan.


"Apa?? Kamu nantang aku hah?? Mas lihat mas.. Dia ngatain aku!!!" Teriak Vera meninggikan suaranya.


"Apa? Aku dari tadi aja diem." Hermiku tersenyum sinis.


"Maaaasss.. Jangan diem aja dong mas. Lihat itu, dia ngejek aku!!" Nada manja keluar dari mulut Vera.

__ADS_1


"Diem Vera dieeem!! Aku udah bilang kan.. Jangan berisik! Kamu enggak lihat apa dari tadi aku ngapain?? Aku kerja!! Bener-bener deh!" Djaduk menutup laptopnya dan berjalan menghampiri Hermiku.


"Ay.. Buatin aku teh hangat ya. Aku tunggu di ruang kerja." Djaduk berlalu pergi.


Djaduk memanggil Hermiku dengan panggilan Ay. Sudah lama. Sejak mereka belum menikah, sampai sekarang punya dua orang anak. Panggilan itu tak berubah.


Jika Djaduk sangat cinta pada Hermiku lalu kenapa dia malah menyakiti wanita yang telah memberikan anak untuknya dengan menikah lagi? Dan parahnya orang yang Djaduk nikahi adalah Vera. Perempuan yang dulu gagal menikah dengannya. Cukup membingungkan.


Karena Djaduk sebenarnya juga tertarik pada Vera, dia tak ingin berselingkuh atau diam-diam menyimpan wanita lain di pernikahannya. Akan lebih baik jika Hermiku mengetahui jika dia menyukai wanita lain dan menikah dengan wanita itu dari pada menyembunyikan kebenaran yang ada. Itulah yang Djaduk pikirkan.


Penolakan tentu saja Hermiku lakukan tapi lambat laun dia menyerah, setiap hari bertengkar dengan alasan yang sama membuat Hermiku pasrah. Dan seperti inilah hubungan mereka, sangat toxic dan tak ada keharmonisan antara Hermiku dan Vera.


Hermiku berbalik memandang ke arah Vera yang mukanya memerah akibat tak mendapat dukungan dari Djaduk. Apalagi tadi Djaduk membentaknya di depan Hermiku, Vera sangat marah. Mulut Hermiku terkunci tapi dengan gerakan tangan menunjukkan jari tengahnya ke arah Vera yang dia lakukan sekarang ini mampu memancing emosi rivalnya. Melihat hal itu Vera melotot dan ingin menjambak Hermiku saat itu juga.


"Sampah!" Ucap Hermiku tanpa suara.


"Sini kalau berani!! Wanita luck_nut!!" Teriak Vera terpancing emosi.

__ADS_1


"Kenapa lagi mereka haiiiih..." Djaduk memijit pelipisnya sendiri karena mendengar teriakan Vera yang nyaring.


"Ini ay.. Kamu capek ya, aku pijitin ya.." Hermiku tersenyum puas bisa membuat Vera mencak-mencak.


"Huuft.. Makasih ya ay.. Kamu baik banget. Tapi aku selalu nyakitin kamu.."


"Ay.. Ini buat kamu. Buat keperluan kamu dan anak-anak." Lanjut Djaduk menyerahkan kartu kredit pada istri pertamanya.


"Mas.. Aku belum terlalu butuh banyak uang. Lagi pula, uang yang mas selalu kasih buatku juga udah lebih dari cukup." Berkata dengan lemah lembut.


"Ini hak mu ay, dan kewajiban ku menafkahi kamu. Ambil ya." Djaduk memegang tangan kanan Hermiku yang ada di pundaknya.


Dalam hati Hermiku tersenyum puas. Tentu saja dia mau menerima uang dari suaminya itu berapapun jumlahnya. Dia tak rela jika uang suaminya berceceran untuk istri keduanya. Tapi basa-basi juga penting. Makanya Hermiku tak langsung menerima pemberian suaminya.


"Makasih udah selalu sabar ngadepin aku ya ay.." Djaduk mencium punggung tangan istrinya.


'Sabar batuk mu!! Kalau aku yang punya suami lagi dan kamu ku suruh tinggal bareng suami baruku, apa kamu bisa sabar??'

__ADS_1


Hanya suara hati Hermiku, tanpa dia ucapkan. Dia lebih memilih tersenyum membalas kalimat suaminya tadi.


__ADS_2