
Semua orang pasti pernah merasa berada di titik terbawah dalam hidupnya. Tidak punya apa-apa. Tidak punya siapa-siapa untuk sekedar berbagi cerita. Ada yang putus asa, ada juga yang menerimanya dengan lapang dada.
Berjalan dengan langkah gontai, Ervin sampai di tempat kerjanya. Beberapa temannya menanyakan kondisinya setelah kemarin sempat pingsan, hanya senyuman saja yang menjawab pertanyaan teman-temannya.
"Kemana motormu Vin?" Tanya Teguh yang datang bersamaan dengan Ervin.
"Tak jual mas. Enggak punya motor lagi aku sekarang." Keterkejutan jelas nampak pada raut muka Teguh mendengar kabar barusan.
"Ada masalah Vin?" Teguh duduk di samping Ervin sekarang.
"Banyak mas. Banyak." Terdengar putus asa.
"Kalau kamu mau, cerita aja.. Meski enggak bisa bantu banyak tapi mungkin berbagi cerita bisa sedikit mengurangi beban mu."
Ervin menghela nafas, rasanya cerita kepada Teguh pun tak akan membantunya. Dia kemudian tersenyum dan pergi meninggalkan Teguh yang melihatnya semakin menjauh.
"Budhe, Ervin kenapa ya? Sekarang jadi pendiam banget." Tanya Teguh penasaran.
"Kamu kan temennya, masa tanya aku! Udah kerja aja. Fokus, jangan pulang kalau pesenan costumer belum abis semua. Dan iya.. Ada yang membisikkan aku sesuatu, kepo itu memperpendek anumu! Jadi enggak usah kepo, ngerti?" Budhe Efa membuat Teguh tersenyum, tersenyum tak paham!
_____
"Yu.. Kamu tahu enggak, kata orang sini kita mau jadi sodara karena mamahku sama bapakmu mau nikah."
__ADS_1
Tumben hari ini Vera agak telat menjemput Dinda, saat ini Dinda dan Ayu sedang berada di bawah pohon cermai menunggu kedatangan Vera. Ayu bisa aja langsung pulang, tapi dia tak sampai hati meninggalkan Dinda sendirian.
"Aku enggak tahu Din." Ucap Ayu tak semangat.
Ayu memang tidak suka membahas gosip kedekatan bapaknya dan bulek Vera. Entah mengapa dia tak suka. Padahal akhir-akhir ini sikap Vera sudah baik padanya. Selalu memberikan bekal untuknya yang dititipkan pada Dinda, menyapanya setiap kali bertemu, bahkan pernah membelikan seragam juga sepatu untuknya. Tapi, kebaikan itu seperti belum cukup untuk membuat hati Ayu luluh.
"Ayu kamu enggak suka ya kalau kita jadi sodara?" Tanya Dinda menatapnya lekat.
"Hmm Din, itu mamahmu datang," Ayu mengisyaratkan dagunya menunjuk ke arah kedatangan Vera.
Meski diajak pulang bersama Vera dan Dinda, Ayu kekeh menolak. Dia lebih suka jalan kaki. Ayu sengaja tak menjawab pertanyaan Dinda tadi karena hati kecilnya menolak jika bapaknya menikah dengan bulek Vera.
Sesampainya di rumah, Ayu melihat ada Vera duduk di depan rumahnya. Seketika dia terdiam di tempat. Melangkah pelan takut-takut melihat sosok itu.
"Ada apa bulek?" Tanya Ayu saat tepat di hadapan Vera.
"Hmm... Bapak mu belum pulang ya? Mau makan di rumah tante? Ayo!" Bujuknya. Gelengan itu menjawab pertanyaan Vera.
Tak habis ide, Vera menyodorkan tupperware berisi rendang ke arah Ayu. "Ya udah kalau gitu, ini buat kamu.. Sama bapak mu."
Ayu menerima kotak bersusun tiga itu. Entah apa saja isinya, Ayu tak tahu. Yang Ayu tahu saat ini bulek Vera, begitu dia memanggil wanita di depannya, sedang berusaha mendekatinya juga bapaknya.
"Tante pulang dulu ya Yu.. Jangan lupa dimakan. Kalau habis kamu bisa ke rumah tante, di sana masih banyak. Kalau mau ke rumah tante ajak juga bapakmu ya.." Senyum dan usapan pelan pada kepala Ayu itu menutup kunjungan Vera di rumah Teguh.
__ADS_1
Buru-buru masuk ke dalam rumah, Vera langsung mengelap tangannya yang tadi dia pakai untuk mengusap kepala Ayu. Masih seperti itu, Vera tidak menyukai Ayu. Apapun yang dia lakukan hanya caranya mengambil hati Teguh.
"Berapa hari tuh bocah enggak keramas! Iyuuuh.." Menyemprotkan hand sanitizer berulang kali. Seakan banyak kuman yang saat ini menempel pada tangannya.
"Mamah.. Maaaah mamaaah" Dinda memanggil Vera.
"Apa sih Din? Kamu kayak di hutan tahu enggak, teriak-teriak kayak gitu? Ada apa?" Vera selesai dengan ponselnya. Ada sesuatu yang dia rencanakan lagi ternyata.
"Mah.. Kata orang, mamah mau nikah sama paklek Teguh ya?" Sekilas senyum tercetak di wajah Vera tapi, lenyap setelah menyadari Dinda memperhatikan perubahan raut wajahnya.
"Kamu suka enggak kalau mamah nikah sama paklek Teguh? Nanti kan kamu jadi punya papa lagi, kamu bisa panggil paklek papa Din."
Dinda menatap tak percaya dengan apa yang mamahnya sampaikan.
"Mah.. Paklek Teguh memang baik, tapi Dinda sayang sama papah sampai kapanpun. Buat Dinda, papah cuma satu. Dinda enggak mau punya papah baru... Mamah enggak ngerti.. Dinda malu mah.."
"Malu? Malu kenapa??" Vera meninggikan suaranya.
"Dinda malu, mereka ngomongin mamah.. Katanya mamah sering godain paklek Teguh sekarang.. Dinda malu mah.. Di sekolah temen-temen Dinda juga bilang kalau mamah mau nikah lagi, Ayu juga sekarang sikapnya beda sama Dinda.. Mamah enggak ngerti itu!!"
Dinda menangis. Di saat bersamaan, terdengar ketukan pintu dari luar. Suara itu membuat Vera tak memperdulikan tangisan anaknya.
"Kita bahas ini nanti Din! Mamah mau nemuin orang!" Vera berlalu pergi meninggalkan Dinda yang menatapnya tak percaya.
__ADS_1