Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 113. Alasan pergi


__ADS_3

"Kamu kemana saja? Anak gadis pergi dari rumah nggak pamit! Berhari-hari nggak ngasih kabar? Kamu pengen buat orang tuamu ini cepet mati hah? Anak kalau terlalu di manja ya kayak gini jadinya. Nginjak-injak kepala orang tua! Seenaknya sendiri!"


Pak Darmaji marah. Sudah tiga hari Selvi pergi dari rumah. Dan baru malam ini dia kembali. Yang makin membuat orang tuanya cemas dia tak meninggalkan pesan apapun. Orang tua mana yang tak khawatir jika berada di posisi pak Darmaji dan bu Indun.


"Bapak apa sih? Berisik, aku baru pulang pak! Badan capek, bisa nggak jangan ngajak ribut dulu!" Deg. Mengucapkan kata ribut, langsung memaksa ingatan Selvi untuk membayangkan bandot tua bangka yang sudah mengungkungnya selama dia pergi dari rumah.


"Sudah pak sudah.. Biarin aja dulu. Nanti aja ditanya lagi. Biarin dia istirahat, besok kan bisa kita omongin baik baik."


Sebenarnya dalam relung hati bu Indun, beliau juga sangat ingin tahu dari mana saja anak semata wayangnya itu pergi. Tapi, dari pada menciptakan keributan malam malam, bu Indun menekan rasa penasarannya dan memilih menenangkan suaminya agar tak lagi berkata dengan suara keras.


"Kita ini sudah gagal bu. Gagal! Dari kecil, dia selalu terbiasa mendapatkan apapun yang dia mau. Saat kita tak lagi bisa memberi apa yang dia inginkan, hanya bentakan dan amarah yang kita dapatkan sebagai balasannya." Pak Darmaji hampir menangis. Netranya sudah berembun. Kabut air mata menutupi pandangannya.


"Nggak pak. Jangan berpikir begitu. Selvi anak baik, dia seperti itu pasti ada alasannya. Pak jangan kebanyakan mikir, nanti tensi mu naik lagi! Kita sudah tidak punya uang untuk sekedar beli obat sakit kepala di warung." Bu Indun bergerak mendekati suaminya.


"Udah malem pak. Istirahat saja. Besok kita bicarakan ini lagi." Lanjut bu Indun.


Meski dipaksa terpejam, nyatanya pak Darmaji tetap saja terjaga. Orang tua ini merasakan sesuatu yang berbeda dalam diri anaknya. "Apa yang kamu sembunyikan nduk..?"


Pak Darmaji tertunduk memikirkan anaknya. Padahal untuk ukuran perempuan, anaknya itu memiliki paras cantik alami. Tapi, anaknya lebih suka bersolek dengan kiblat artis artis negeri ginseng yang putih glowing berbadan tinggi juga ramping.

__ADS_1


Selvi seperti tak bersyukur dengan kelebihan yang dia punya, dia terus melihat ke atas dan membandingkan kehidupannya dengan Ayu atau gadis lain yang dianggapnya lebih beruntung dari pada dirinya.


____


Pagi itu Selvi bersolek, hanya mengusapkan beberapa kali spon bedak pada kulit wajahnya. Dan lipstik warna salem dia tambahkan untuk menyempurnakan penampilannya. Senyum itu timbul, dia siap memulai hari ini!


Seperti anjuran mbah Ribut, Selvi tengah melakukan puasa hari ini dan empat hari ke depannya.


Alih-alih diam di rumah, dia lebih memilih pergi ke tempat kerja Teguh. Saran lain dari mbah Ribut agar dirinya cepat memperoleh apa yang dia mau adalah mendekati sepupunya itu.


"Mau kemana lagi Vi? Bapakmu lho beberapa hari nggak tidur mikirin kamu. Kamu ini anak gadis, belum menikah, mbok ya di kurang-kurangi main di luarnya. Tetangga itu lho Vi suka ngomongin kamu, apalagi kalau mereka tahu tiga hari kamu nggak pulang ke rumah."


"Sebenarnya kamu kemarin itu kemana? Jangan bikin orang tuamu mati berdiri karena kelakuanmu Vi. Aku dan bapakmu udah tua, nggak bisa ngasih apa-apa kecuali nasehat. Kamu dengar nggak to Vi?"


Hati ibu mana yang tak sakit diperlakukan seperti itu olah anaknya. Diacuhkan dan tak dianggap keberadaannya.


Lima belas menit berada di jalanan, Selvi sampai juga di kafe tempat Teguh bekerja. Selvi langsung menuju meja kasir yang terletak di samping pintu keluar.


"Mas Teguh ada mbak? Aku Selvi sodaranya, mau ketemu." Selvi langsung mengutarakan maksud kedatangannya.

__ADS_1


"Ada bu. Biasanya pak Teguh akan keluar dari ruangan kalau pekerjaannya sudah selesai." Senyum ramah mbak kasir tercipta saat menjawab pertanyaan Selvi.


"Bisa kasih tahu nggak ruangannya di mana? Ini penting mbak." Selvi sedikit memaksa.


"Sebentar ya bu." Mbak kasir memanggil temannya untuk menyampaikan pesan dari Selvi kepada pak Teguh, atasannya.


Nggak lama Selvi menunggu, Teguh keluar dari ruangannya. Mukanya merah padam. Terlihat dia seperti dewa perang yang menghampiri Selvi. Selvi masih memasang wajah tak tahu apa-apa. Padahal dia bisa menebak, kenapa sepupunya itu terlihat sangat murka saat melihatnya.


"Ikut aku!" Teguh memerintahkan Selvi untuk mengekornya.


"Kemana aja tiga hari kemarin?" Pertanyaan pertama yang Teguh berikan saat keduanya sudah berada di ruangan tempat Teguh bekerja.


Ingin rasanya Selvi menjawab dengan sengaknya, tapi dia kembali teringat untuk bersikap baik kepada Teguh.


"Aku itu kecopetan mas.. Semua uangku diambil orang, aku tadinya ke kota buat lamar kerja tapi malah nyasar.. Aku bingung karena nggak pernah keluar kota sendirian, bawa uang juga hasil utang temen.. Sialnya, udah kayak gitu malah uang hasil minjem itu juga ilang dicopet orang." Selvi menangis, aktingnya tak bisa menipu Teguh.


Teguh mengerutkan keningnya. "Kamu kecopetan? Ponselmu masih ada kan? Kamu bawa ponsel waktu itu?"


"Bapakmu udah kayak orang gila kebingungan nyari kamu. Minta tolong ke aku buat nyari kamu, dia sangat khawatir kamu kenapa-napa. Tapi yang dikhawatirin nggak mikir." Teguh jelas emosi.

__ADS_1


"Kamu biasa manggil aku pake nama aja, jangan kasih embel-embel mas! Aku nggak suka."


Sebenarnya mengalah bukan sifat Selvi tapi demi bisa mendapatkan apa yang dia mau secara instan, dia mencoba tenang menghadapi amarah Teguh.


__ADS_2