Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 63. Tinggal Bersama


__ADS_3

Dunia seakan milik Vera, yang lain ngungsi di pojok gorong-gorong. Mungkin itu yang ada di pikiran Vera saat dia dengan manja menyenderkan kepalanya di dada bidang Theo meski masih banyak tamu undangan di sana.


Sangat romantis ya? Iya, itu lah yang Vera sendiri pikirkan. Karena untuk sebagian orang yang melihat cara Vera bermanja kepada suaminya itu malah menciptakan gunjingan. Ada yang mau mun_tah juga saking tak tahannya dengan adegan lebay mereka.


Teguh dan Ayu beranjak dari kursi mereka, bermaksud pamit pulang. Acara juga sudah selesai, jadi kehadiran mereka guna memenuhi kursi undangan agar terlihat penuh oleh tamu saat di video pun sudah tuntas.


"Selamat atas pernikahan kelian ya. Aku dan Ayu pulang dulu." Teguh memberi ucapan selamat lalu mengulurkan tangan.


Vera hanya melihatnya saja, lalu Theo yang menyalami Teguh. Theo tersenyum atas keberhasilannya menikah dengan Vera. Theo tak peduli dengan siapa yang dia salami saat ini. Tujuannya menikah dengan janda kembang kaya raya terwujud. Hal lain tak penting baginya.


"Yu.. Kamu mau pulang?" Tanya Dinda yang dari tadi tak ingin bergabung di dalam ruangan. Gadis kecil itu bahkan tak mau diajak foto bersama mamah dan papah barunya.


"Iya Din. Kamu jangan sedih terus. Semoga pilihan mamah mu menikah lagi akan jadi sumber kebahagiaan baru buat kamu dan mamah mu ya Din." Ayu mengusap pundak itu pelan. Dinda tak menjawab.


Sumber kebahagiaan apa yang Ayu maksud? Pernikahan ini saja tidak membuat Dinda bahagia sama sekali.


____

__ADS_1


Pagi itu Theo sudah pergi. Entah mau kemana, tapi yang jelas sekarang dia tak ada di samping Vera. Vera bangun tanpa menemukan suaminya di sisinya. Tangan Vera meraih ponsel, ingin menghubungi suaminya. Menanyakan ke mana suaminya itu pergi pagi-pagi sekali.


Tak ada jawaban. Nomernya tidak aktif. Tapi, Vera menemukan memo kecil di atas nakas. 'Aku pergi sebentar sayang. Mau bawa kejutan buat kamu.'


Dan senyum itu merekah setelah membaca pesan dengan tulisan tangan suaminya. Dia jadi teringat malam tadi, malam di mana Vera disentuh secara halal oleh suaminya. Malam yang membuat mereka mera_cau tak karuan dengan keringat membasahi keduanya.


Rasanya Vera tak ingin keluar dari kamar bekas pertarungan dengan sang suami semalam, tapi dia juga tak ingin terlihat masih berantakan saat suaminya datang nanti. Dengan langkah malas Vera beranjak menuju kamar mandi.


Sekarang Vera ada di ruang tamu. Tampak cantik dengan balutan busana yang pas di badannya. Dia dikejutkan dengan kemunculan Theo. Lelaki itu datang bersama wanita sepuh yang mungkin adalah ibunya.


"Sayang.. Dia?" Tanya Vera menunjuk wanita itu.


"Oowh iya.. Bu.." Vera hendak mencium tangan ibunya Theo tapi wanita paruh baya itu langsung mundur selangkah. Menunjukkan gestur penolakan. Dia jadi ingat, semalam dia pun menolak bersalaman dengan Teguh. Aaah cepat sekali dia mendapatkan balasannya.


"Mulai sekarang mama akan tinggal di sini bareng kita yank." Ucap Theo santai.


"Apa mas? Kok gitu? Ya nggak bisa dong mas." Tanpa sungkan Vera seperti menunjukkan penolakannya.

__ADS_1


"Kenapa? Mama kan ibuku, satu-satunya orang tuaku. Wajar kalau beliau ini tinggal bareng aku yank." Theo seakan tak terpengaruh dengan penolakan Vera.


"Kamu ini, baru jadi istri anakku sehari aja udah kurang ajar sama mertua. Tunjukkan sopan santun mu!" Mamanya Theo mendengus kesal.


Vera akan menjawab. Tapi tarikan tangan Theo menghentikan niatnya. Mereka berada di kamar sekarang.


"Apa sih mas? Mas... Harusnya kamu bicarain ini jauh-jauh hari. Kok tiba-tiba kamu ajak mamah mu tinggal bareng kita di sini itu ya gimana ceritanya?!" Vera sedikit menaikan nada suaranya.


"Sayaaang.. Aku enggak bisa biarin mamah ku jauh dari aku. Kamu tahu kan, tinggal jauh dari orang tua itu enggak enak. Contohnya Dinda. Masa iya kamu mau biarin mertua kamu hidup sendiri di usia tuanya? Enggak kan? Sayang.. Aku tahu kok kamu itu berhati lembut. Ayo lah yank.." Theo menyentuh pundak Vera pelan.


Vera ingin menolak tapi sepertinya cintanya pada Theo mengalahkan segalanya. Dia diam beberapa saat. Hal itu dianggap Theo sebagai bentuk Vera menerima kehadiran mamahnya di rumah istrinya.


"Makasih ya yank.. Aku tahu kamu yang terbaik. Aku makin sayang sama kamu." Theo memeluk erat istrinya itu. Vera tetap diam tak membalas pelukan suaminya.


"Vera tadi cuma bercanda mah... Mamah boleh kok tinggal di sini. Iya kan yank?" Ucap Theo saat berada di depan mamahnya.


"Ya harus boleh lah. Rumah istrimu kan rumah mu juga, artinya rumah mamah juga. Bukan begitu Vera?" Ucapan penuh penekanan. Entah semboyan mana yang dipakai sampai bisa terjadi istilah 'Rumah mantuku adalah rumahku juga.'

__ADS_1


___


-Gaess.. maaf banget ya, karena kesibukan di rl aku jadi ga up Bahu Bakoh nyampe beberapa hari. Tapi, mulai hari ini insya Allah.. BB akan up rutin lagi. Sebelumnya aku mau ucapkan minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT. Dan kita semua bisa memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat untuk semua orang. Sehat selalu gaess.. Love you all.


__ADS_2