
"Kamu udah nembak dia?" Wildan sangat penasaran dengan perkembangan kisah cinta alot antara Ayu dan Reza.
Di warung mi ayam kecil dekat kampus mereka, Reza dan Wildan terlihat bersama. Ada Seruni juga di situ. Tapi dia sibuk dengan ponselnya.
"Belum. Tapi kayaknya dia nggak ada rasa ke aku deh Wil.. Nggak tau lah, bingung aku." Reza memutar ingatannya pada pagi di mana dia bertemu Ayu tapi si pemilik hatinya itu tapi justru tak menggubris panggilannya.
"Coba aja dulu! Cemen amat sih, keduluan Ganesh tahu rasa kamu! Kamu nggak tahu apa kalo Ganesh juga ada hati sama Ayu? Untung aja ati ku nggak ikut-ikutan latah demen sama cewek yang disukai separuh cowok sekecamatan itu, lha kalo aku juga suka dia, aku pastiin kelian gigit jari! Kalo aku suka sama orang, tak pepet terus pokoknya! Nggak ku biarin lepas sebelum nerima cintaku." Bangga sekali pemuda satu ini.
"Ngomong doang gampang! Dia itu nggak kek cewek lainnya yang silau sama harta Wil. Selama kita sama-sama nggak pernah aku lihat dia ngasih perhatian lebih ke aku. Semua rata. Ke kamu, ke aku, ke Ganesh juga. Susah nebak isi hatinya Wil." Reza curhat ke Wildan tapi Seruni ikut mendengarkan.
"Apanya yang rata? Udah pernah kamu raba?" Pertanyaan nyeleneh dari Seruni yang baru menaruh ponselnya di dalam tasnya.
"Dari tadi diem sekalinya ngomong bikin sesek telinga aja." Wildan memprotes duluan ucapan Seruni.
"Aku nggak mau cuma pacaran.. Aku serius pengen jadiin dia pasangan hidupku lho." Reza terlihat bingung sendiri.
"Gini ya para cowok yang otaknya cuma diisi daleman mbak Miyabi. Cewek itu simpel, setengah mati kamu rangkai kata jadi novel pun nggak akan dilirik kalo cuma ndabrus aja! Buktiin kalo kamu serius. Caranya? Ke rumahnya lah, samperin bapaknya minta ijin ke bapaknya. Kalo ijin udah turun tinggal kamu senggol targetmu. Jangan kasih cewek perhatian lewat ketikan, samperin langsung lah! Sat set ngono lho.. Lanang kok males berjuang." Seruni ngomel sendiri.
"Lambemu Ni Uni.. Siapa yang kamu bilang males berjuang? Kamu nggak liat apa kayak gimana aku berusaha deket sama bapaknya, minta ijin ke almarhumah ibunya, dari kecil kira bareng-bareng.. Aku selalu ngasih setrum ke dia lewat tindakan nggak cuma bualan, tapi apa Ni? Dia lempeng aja." Reza kesal mendapat tudingan cowok mageran dari Seruni.
"Lha kamu nyetrumnya pake daya batre alka_lin kok, mana kerasa. Coba ambil kabel SUTET terus pegang bareng dia. Nyoos mazeh! Aku yakin getarannya nyampe ngrontokin kalbu." Kata Seruni ngakak.
__ADS_1
"Modyyaar lah! Mok kiro opo.. Usahaku wes ra kurang kurang." (Mati lah! Di kira apa.. Usahaku udah nggak kurang kurang-"
"Jangan dilanjutkan Za, curhatanmu bikin aku pengen nyanyi! Nggak lucu kalo tiba-tiba aku ambil kicrikan gara-gara omongan mu kayak lirik lagu!" Wildan menghentikan Reza bicara, Seruni malah ngakak tanpa bisa dicegah.
"Kelian ini yang bener to.. Aku lagi pusing kok ya bercanda mulu. Kasih solusi gitu lho!" Sambung Reza kemudian.
"Ngomongo... Jalok mu pie? Tak turutane , tak usahakne, Aku ra masalah... yen kon berjuang dewe. Sing penting kowe bahagia endinge." Seruni makin ngakak karena Wildan bukan menjawab pertanyaan dan kegalauan Reza malah asik nyanyi.
Reza manyun. Nggak ada yang salah dengan kedua temannya, mereka hanya ingin menghiburnya agar tidak makin frustasi karena masalah cinta-cintaan.
"Umur mu belum matang Za, mungkin itu yang jadi bahan pertimbangan Ayu. Ayu suka yang dewasa, ini hanya kemungkinan lho ya.. Secara kita kan seumuran, paling beda bulan doang brojolnya. Ya coba aja kamu rubah KTP mu ganti tanggal lahirnya di mundurin sepuluh tahunan gitu." Bukannya seneng Reza malah makin makin gabutnya karena ucapan Seruni.
"Eh mau kemana?" Tanya Wilda yang puas menertawakan temannya. Reza beranjak dari warung itu dan memilih pergi.
"Gimana Ser?" Wildan melirik Seruni.
"Dieh manggilnya yang bener dong sar ser sar ser, kamu kira lagi joget dangdutan?!" Seruni nggak suka namanya cuma diambil setugel bagian depan untuk dijadikan nama panggilan.
"Lha namamu kan Seruni, kudu manggil kamu apa cuba? Aku kalo sama kamu bawaannya laper mulu Ser, hahaha keinget nasi gudeg yang ada serundeng nya." Wildan makin ngawur.
"Manggil Uni kan bisa! Sana lah makan! Dah aku mau ke perpus dulu, bye!" Seruni pun ikut pergi. Tinggal Wildan sendiri yang cuek meski ditinggal kedua temannya pergi ke tempat tujuan mereka masing-masing.
__ADS_1
"Bulek, mi ayam setunggal nggeh." (Bulek, mi ayam satu ya.)
"Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga tapi hidup tanpa makan, bisa-bisa taman bunga berubah jadi tanah makam! Realistis aja lah, mikir cinta mulu.. Kenyang kagak tambah bego iya!" Wildan ngoceh sendiri sambil menunggu pesanan mi ayamnya datang.
_____
Pak Darmaji akan berangkat ke sawah. Satu-satunya kegiatan yang bisa beliau lakukan sekarang. Dia berharap panen kali ini bisa menghasilkan dan harga jual di pasar stabil agar beliau bisa menabung untuk nanti biaya anaknya bersalin.
Semua harus dipikirkan dari sekarang. Meski Teguh menyanggupi menolong mereka kapanpun mereka butuh tapi selalu menengadahkan tangan juga tidak baik. Pak Darmaji masih bisa berusaha dengan kekuatan yang dimiliki, dan dia bersyukur masih diberi kesehatan agar bisa menggarap sawah seperti yang akan dia lakukan.
"Pak, mau kemana?" Selvi baru bangun ketika bapaknya akan pergi ke sawah.
"Ke sawah." Singkat menjawab pertanyaan anaknya.
"Aku ikut ya pak? Nggak enak di rumah sendiri, bosen." Pak Darmaji melihat ke arah anaknya yang baru meminta ijin ikut ke sawah bersamanya.
"Kamu nggak pernah ke sawah. Nanti malah bikin repot saja, aku ndak lagi mau piknik!" Pak Darmaji sudah memakai capingnya.
"Bikin repot apa pak? Dikira aku anak kecil? Aku mau bantu bantu!" Selvi langsung cemberut.
"Di rumah saja. Kamu sedang hamil, nanti kecapean. Nggak usah bantu aku di sawah, ini rumahnya diberesin. Banyak daun kering di depan rumah itu di sapu. Kalo mau makan nasinya masih bentuk beras, dimasak dulu. Bikin sayur, jangan beli terus. Boros. Aku tak ke sawah, udah siang."
__ADS_1
Setelah bu Indun meninggal dan tahu jika Selvi hamil di luar nikah, pak Darmaji jadi sedikit cuek pada anaknya. Jarang terjadi obrolan lama meski mereka tinggal bersama. Selvi duduk di kursi melihat kepergian bapaknya. Jangankan ikut ke sawah, diantar Selvi ke sana saja pak Darmaji tak mau.
"Marah aja terus pak.. Marah terus! Aku kok kesel lama-lama idup kayak gini. Kapan aku bisa nyusul ibu? Semua yang di sini nggak ada yang peduli sama aku." Selvi menitikkan air mata.