
Rumah budhe Mimin ternyata tak jauh dari tempat tinggal Dinda. Budhe Mimin melarang Dinda membawa motornya karena dengan berjalan kaki akan lebih menyenangkan katanya. Entah kesenangan seperti apa yang dimaksud budhe Mimin, Dinda masih belum tahu.
"Lihat mbak.. Kalau jalan gini kan kita bisa menikmati pemandangan di sekitar kita. Banyak bunga yang tumbuh, banyak pohon yang berbuah, banyak orang yang menyapa.. Bukankah itu menyenangkan mbak Dinda?" Budhe Mimin menunjukkan nikmat Tuhan yang selama ini tidak diperhatikan oleh Dinda.
"Ini rumah budhe.. Mungkin jelek ya, tapi kokoh dan masih layak untuk kita berteduh di dalamnya." Budhe Mimin dan Dinda tiba di rumah.
"Assalamu'alaikum. Damai.. Ibu pulang." Budhe Mimin membuka pintu rumah.
"Damai siapa budhe?" Tanya Dinda ikut masuk ke dalam rumah.
"Anaknya budhe mbak. Itu.." Budhe Mimin tersenyum menunjuk ke arah perempuan yang duduk memandang ke arahnya.
Dinda mengerutkan keningnya. Dia melihat gadis yang mungkin berusia dua puluh tahunan atau mungkin lebih, dengan mata sipit nyaris tertutup dan kerudung coklat sedikit miring. Gadis bernama Damai itu langsung beranjak dari tempatnya duduk, mengambil tongkat di sebelah kakinya dan berjalan meraba.. Dinda makin tercengang saat melihat dari dekat fisik gadis itu.
"Wa'alaikumsalam. Ibu.." Gadis itu tersenyum gembira.
Budhe Mimin membetulkan letak kerudung Damai. Menanyakan apakah anaknya itu sudah makan atau belum. Tadi di rumah ngapain aja, dan semua itu dijawab dengan antusias oleh Damai. Budhe Mimin lantas menuju dapur.
__ADS_1
"Damai.. Putri budhe itu istimewa mbak. Waktu lahir dia enggak nangis. Bidan desa sampai menepuk-nepuk pan_tat serta punggung Damai tapi dia masih anteng aja. Damai baru nangis waktu itu pas bapaknya sampai di rumah bidan. Lahir prematur, berat cuma satu kilo tujuh ons.. Budhe pikir dulu Damai enggak bakal bertahan mbak." Budhe Mimin menceritakan masa lalu Damai di dapurnya. Sekarang Dinda dan budhe Mimin memang berada di dapur.
"Dua minggu setelah Damai lahir, bapaknya meninggal.." Sesaat budhe Mimin memberi jeda pada ceritanya.
"Anak budhe itu istimewa karena meski dia tak bisa melihat.. Dia bisa hafal Al-Quran mbak. Budhe yang udah tua gini aja cuma hafal satu dua juz saja. Waktu sekolah dulu, Damai susah mengikuti pelajaran.. Di sini belum ada sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Iya, seperti yang mbak Dinda lihat.. Damai itu penderita down syndrome."
Budhe Mimin menghentikan ceritanya karena dia melihat Damai berjalan menuju dapur.
"Buk.. Kenapa ngobrolnya di sini.. Mbak Dinda ayo ke depan." Damai tahu jika dia sedang dibicarakan. Tak apa, dia tak pernah marah.
"Iya Mai, ini ibuk juga mau ke sana. Tadi bikin teh dulu buat mbak Dinda, eh mbak Dinda malah ikut ke sini." Budhe Mimin berjalan diikuti Dinda menuju ruang tamu.
Tiba-tiba air mata itu menetes. Dinda merasa malu, dia yang normal, memiliki mata yang bisa melihat, akal sehat untuk berpikir malah mau menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan untuknya. Juga sedih memikirkan mamahnya.. Lagi-lagi mamahnya.. Jika dibandingkan dengan Damai, apa dirinya semenyusahkan itu sampai-sampai mamahnya tak ingin mengurusinya..
Lihat budhe Mimin yang sekarang sedang berbincang asik bersama Damai, tak ada raut menyesal, amarah, kekecewaan atau apapun itu yang ditunjukkan budhe Mimin saat berinteraksi dengan Damai. Dinda makin deras mengeluarkan air matanya.
"Mbak Dinda kenapa menangis? Sini mbak.." Ajak Damai bersahabat. Sangat ramah. Meski dia tak bisa melihat, dia tahu jika saat ini Dinda sedang menangis.
__ADS_1
"Lho.. Ada apa mbak..?" Tanya budhe Mimin mengusap pelan punggung Dinda.
"Dinda kangen mamah budhe... Dinda kangen mamah..." Ucapnya terisak.
"Ya Allah sini nduk.." Budhe Mimin memeluk Dinda erat. Seakan menggantikan pelukan Vera untuk Dinda.
___
Vera beberapa kali menekan tombol memanggil di ponselnya untuk menghubungi Dinda. Masih tak ada jawaban. Karena kesal dia ingin membanting ponsel di tangannya.
"Kemana sih nih anak. Bikin susah aja! Udah gila apa itu bocah nyampe enggak sekolah tiga hari! Bikin malu aja!" Vera mengomel setelah mendapat teguran dari pihak sekolah yang mengatakan jika Dinda tak masuk sekolah tanpa memberi keterangan alias membolos.
"Makanya kalau mau anakmu enggak bikin malu, ubah kelakuanmu dulu. Perbaiki kelakuanmu!" Hermiku makin membuat Vera meradang.
"Diem kamu ya! Tahu apa kamu tentang hidupku!! Enggak usah sok pinter menggurui ku. Kamu itu- Aaaaachhh.."
Teriakan Vera yang jatuh dari tangga lantai dua membuat Hermiku menoleh ke arah rivalnya.
__ADS_1
Sebenarnya Vera baru keluar dari kamarnya di lantai atas. Maksud hati ingin melampiaskan kemarahannya siang ini pada Hermiku karena Dinda yang susah dihubungi sedari pagi kandas karena dia jatuh terpeleset dan meluncur bebas ke lantai satu. Tempat Hermiku menikmati teh hangatnya.
Hermiku panik, dia langsung berlari ke arah Vera yang terlihat tak sadarkan diri.