Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 60. Resign


__ADS_3

Setelah beberapa tahun menjadi orang kepercayaan Gendis untuk mengelola toko, kafe, serta usaha lain miliknya.. Hari ini budhe Efa memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Suami budhe Efa melarang beliau untuk terus bekerja dengan berbagai alasan mendasar. Salah satunya karena anak-anak mereka yang kurang mendapat perhatian.


Suami budhe Efa juga seorang yang giat bekerja. Hampir tak ada waktu untuk sekedar liburan bersama anak istrinya. Kedua orang tua yang super sibuk itu akhirnya mendapat protes keras dari anak-anaknya dengan cara mereka tak mau pulang ke rumah. Selama dua minggu, anak-anak budhe Efa tinggal di rumah kakek dan neneknya.


Dan di sinilah akhirnya budhe Efa, berdiri dengan mata sembab dan hidung memerah. Tak pernah ada dalam benaknya meninggalkan pekerjaan yang selama ini membuatnya emosi dan tensi tinggi malah bisa seberat ini.


Satu-persatu mereka semua berpamitan dengan budhe Efa, peluk dan ucapan selamat jalan mereka lakukan. Teguh dan Ervin menjadi orang yang paling kehilangan saat budhe Efa memutuskan resign dari pekerjaannya.


"Kelian jan banyak bercanda kalau kerja.. Inget, harus tetap solid. Jujur dan tanggung jawab dengan apa yang kelian kerjakan." Ucap budhe Efa bersalaman dengan Teguh kemudian Ervin.


"Buat kamu Vin.. Habis kerja langsung pulang. Di rumah ada Caca yang nunggu kamu. Aku enggak bisa terus ada buat kamu dan Caca, jangan sering berantem sama dia. Yang kamu nikahi itu masih belasan tahun, jadi kamu yang harus lebih sabar. Kalau ada masalah bicarain baik-baik, jangan mok tinggal nongkrong ngopi di warung!!" Pesan budhe Efa untuk Ervin.


"Iya budhe.. Nanti aku sama Caca bakal sering-sering main ke rumah budhe." Ucap Ervin penuh haru. Panggilan Ervin untuk budhe Efa tak berubah meski sekarang dia sudah menjadi saudara iparnya. Itu karena budhe Efa sendiri yang minta.


"Enggak usah keseringan main juga. Mau cari kopi gratisan di rumahku kamu hah??" Masih sejutek itu.


Tapi, meski budhe Efa terlihat sangat jutek, galak dan kaku dengan segala raut muka sangarnya.. Budhe Efa tetap menjadi kesayangan bagi karyawan yang bekerja di sana.


_____

__ADS_1


Dua hari setelah budhe Efa resign.. Datang orang yang bekerja menggantikan beliau. Seorang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai pak Jatmiko itu langsung menempati posisi yang dulu budhe Efa pegang.


Dari awal kemunculannya, Ervin sudah tak menyukai sosok lelaki tambun itu. Padahal baru bekerja dengan pak Jatmiko tapi rasa tak nyaman sudah menyelimuti hati Ervin.


"Mas.. Aku kok enggak suka sama si Ijat itu. Matanya kalau lihat orang kayak merendahkan." Kata Ervin sudah di dalam mobil.


"Jangan gitu. Kita belum terbiasa aja kerja sama dia." Teguh berusaha memberi suntikan positif pada jiwa rapuh Ervin yang menilai pak Jatmiko dari luarnya saja.


"Tapi emang aku enggak suka lah mas.. Lihat itu cara jalannya?! Kayak pinguin lagi bunting! Lihat itu kalau ngomong?! Selalu pecicilan matanya.. Kok bisa sih mbak Gendis nyuruh orang kek gitu mimpin kita??" Masih menggerutu.


"Vin.. Kamu yang kayak gini malah kayak budhe Efa lho. Udah sana turun, ambil daftar list kedua. Banyak kerjaan kita hari ini Vin. Enggak ada waktu buat ngurusin pinguin bunting." Ervin tertawa.


Teguh tak masalah dengan siapa saja yang menggantikan posisi budhe Efa, baginya.. Dia bisa terus bekerja di sana adalah nikmat yang terus dia syukuri. Dari bekerja di tempat mbak Gendis, perlahan perekonomian Teguh berubah. Dia bisa memperbaiki rumah, meski tak meninggalkan kesan kunonya. Dia juga bisa membeli sepeda motor untuk mempermudah aktivitas kesehariannya.


"Selamat ya. Jadi bapak bentar lagi kamu." Sesimpel itu ucapan selamatnya kepada Ervin.


"Hehehe.. Kirain mau meluk aku pas tak kasih tau kabar ini mas." Tak bisa ditutupi, Ervin terlihat sangat bahagia.


"Jaga baik-baik itu istrimu.. Wanita yang hamil muda biasanya melakukan hal-hal diluar kebiasaannya. Jadi jarang makan atau makin sering makan, jadi makin manja, minta diperhatiin lebih. Yang paling penting... Kamu harus selalu sabar." Kata Teguh kembali fokus pada jalanan.

__ADS_1


"Iya mas. Makasih udah dikasih tau. Emang iya sih.. Dia akhir-akhir ini makin cerewet, tetep manis sih. Masih dalam tahap wajar, cuma ya lucu aja.. Dulu dia pendiem banget sekarang makin banyak ngecipris." Ervin tersenyum seakan mengingat kecerewetan istrinya.


"Anakmu cewek mungkin.. Ati-ati mirip budhe Efa. Kamu anti banget sama budhe Efa, eh taunya adiknya kamu embat juga hahaha"


Mereka ngakak. "Enggak apa-apa lah mirip budhenya ini, asal jangan mirip pinguin bunting aja. Hiiiii" Ervin bergidik ngeri.


"Aku aamiin'in enggak nih Vin?"


"Weh jangan mas.. Amit-amit jabang bayi.."


____


Theo keluar dari sebuah toko pakaian bersama Vera tentunya. Tangan mereka bertaut tak terpisahkan. Seakan menunjukkan pada dunia, ini lho milikku!


"Yank... Aku udah ngomong sama keluarga ku buat ngelamar kamu untukku akhir bulan ini. Gimana kamu seneng?" Theo mengelus rambut Vera.


"Oh my.. Serius yank? Iyaa aku seneng banget!!" Dengan mata berbinar Vera langsung mengeratkan rangkulannya pada lengan Theo.


'Aku juga seneng.. Tujuanku sebentar lagi tercapai..'

__ADS_1


"Yank.. Aku mau kita nikahnya pake konsep ala-ala Korea gitu ya yank, Duuuuh aku enggak sabar deh rasanya pakai gaun pernikahan putih dan bawa buket bunga di tangan.." Vera sangat antusias.


"Apapun sayang.. Apapun asal kamu bahagia. Kamu enggak pake apa-apa juga terlihat sangat aaach di mataku." Theo mengedipkan satu matanya. Keduanya tersenyum bahagia. Bahagia dengan tujuan yang berbeda.


__ADS_2