Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 72. Nasehat untuk Dinda


__ADS_3

Pagi itu, Dinda sengaja tidak berangkat ke sekolah. Sudah dua hari dia bolos, dan hari ini sepertinya dia juga belum punya keinginan untuk masuk sekolah. Bukan karena sakit, dia hanya malas. Mungkin itulah cara dia untuk mendapatkan perhatian dari mamahnya. Bagaimanapun juga, dalam hati kecilnya.. Dinda pasti merindukan kasih sayang mamahnya.


"Mbak Dinda enggak sekolah lagi?" Tanya asisten rumah tangga kepada Dinda. Dinda cuek, diam tak menjawab. Malah membenamkan mukanya pada bantal yang tadi dia dekap.


Bu Mimin namanya, sudah sejak lama beliau mengabdikan diri di keluarga Minolta. Keluarga terpandang pada masanya, tapi sekarang keluarga Minolta sudah tak dikenal di masyarakat sebagai keluarga kaya raya lagi. Hanya sisa-sisa kejayaan mereka masih terasa dengan adanya bangunan yang sekarang ditempati Dinda.


Wanita paruh baya itu sudah menyelesaikan tugasnya. Menyapu, memasak, juga mencuci baju kotor Dinda. Beliau tak pernah mengeluh dengan apa yang dikerjakan, bu Mimin sangat bersyukur di usianya yang tak lagi muda beliau masih dipercaya untuk bekerja di rumah peninggalan keluarga Minolta. Banyaknya kebutuhan hidup yang memerlukan biaya membuat bu Mimin bertahan di sana.


"Budhe.. Biasanya abis beberes di sini terus ngapain lagi?" Dinda menegakkan badannya memandang wanita paruh baya yang sekarang mengelap meja kaca.


"Pulang mbak. Di rumah kan budhe ada anak, meski sudah besar tapi anak budhe kan beda dari anak yang lain.. Si mbaknya udah nikah, tinggal sama suaminya.. Kadang-kadang aja dia datang tengokin budhe sama adiknya." Terang bu Mimin duduk di lantai.


"Beda gimana budhe?" Dinda mulai tertarik pada pembahasan ini.

__ADS_1


"Anak budhe istimewa mbak." Ucap budhe Mimin sambil tersenyum tulus.


"Eeemmh maaf ya mbak, budhe mau tanya.. Kenapa mbak Dinda enggak mau sekolah? Kan sayang mbak.. Udah kelas tiga, bentar lagi lulus.." Giliran budhe Mimin yang bertanya.


"Males lah aku. Sekolah juga buat apa? Enggak ada yang bangga kalau aku berprestasi di sekolah, enggak ada yang kasih selamat kalau aku ranking di sana, enggak ada yang ambilin raport.. Enggak guna.." Ada kekecewaan yang terasa saat Dinda mengucapkan deretan kata tadi.


"Lho ya ada mbak.. Mbak Dinda ini kok lucu, ibunya mbak Dinda pasti seneng punya anak pinter. Almarhum bapaknya mbak Dinda juga pasti tersenyum di surga melihat keberhasilan mbak Dinda.. Dan lagi, mbak Dinda dapet nilai plus dari orang-orang di sekitar mbak kan. Pasti mereka pada mikir gini, aduh anaknya pak Cokro.. Meski tinggal sendiri tapi sekolahnya pinter, berprestasi, sholehah. Gitu mbak.." Budhe Mimin berusaha memotivasi remaja di depannya itu.


"Mbak Dinda tak kasih tahu ya, dulu jaman budhe masih muda.. Sekolah enggak pernah budhe utamakan. Budhe mikirnya asal lulus aja udah. Tamat SD juga budhe enggak melanjutkan lagi ke SMP, ya dulu budhe mikirnya sama kayak mbak Dinda sekarang.. Males. Dan lihat, apa jadinya budhe sekarang karena sifat malas itu? Enggak punya keahlian apapun selain mengandalkan tenaga untuk mencari rupiah.. Dan kalau nanti budhe sudah enggak sekuat sekarang, apa lagi yang bisa budhe lakukan untuk menyambung hidup?"


"Mungkin akan lain ceritanya jika dulu budhe bersungguh-sungguh sekolahnya, mau melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.. Setidaknya budhe punya ilmu yang bisa dibagi untuk anak cucu budhe nanti. Punya penghasilan lebih dari keahlian yang didapat dari menimba ilmu di bangku sekolah.. Kamu paham enggak mbak maksud budhe?"


Dinda diam tanpa menjawab. "Gunakan masa muda mu sebaik mungkin nduk.. Timba lah ilmu sebanyak yang kamu bisa, karena masa depanmu nanti akan terbentuk dan ditentukan dari masa sekarang. Jangan karena marah, kecewa atau putus asa.. Kamu korbankan kesempatan yang ada. Karena suatu saat akan ada kekecewaan yang lebih besar jika kamu menyia-nyiakan waktu yang Allah berikan. Jangan sampai kamu menjadi golongan orang yang merugi ya nduk.."

__ADS_1


Deg. Seperti mendapat siraman kalbu, semua nasehat budhe Mimin mampu membuat Dinda tersadar akan cara berpikirnya yang salah kaprah.


'Benar... Kalau aku seperti ini terus, akan seperti apa hidupku nanti? Mamah aja enggak peduli sama aku.. Aku harus tunjukin tanpa mamah aku bisa! Aku enggak mau jadi manusia produk gagal atau manusia yang merugi nanti!'


"Budhe.. Makasih ya, aku jadi semangat ke sekolah kalau gini. Eh tapi udah jam delapan, besok aja lah sekolahnya hehehe.." Untuk pertama kalinya senyum semringah Dinda muncul lagi.


"Hmm budhe, abis ini aku ikut ke rumah budhe ya. Aku bosen di rumah terus.." Dinda sudah berganti pakaian.



"Alhamdulillah kalo mbak Dinda sudah mau berangkat sekolah, iya mbak.. ikut aja. Tapi nanti mbak Dinda jangan kaget ya, rumah budhe jelek. Kayak kandang bebek." Budhe Mimin tertawa setelahnya.


Dinda melihat tawa renyah itu.. Kenapa mamahnya enggak bisa seperti budhe Mimin atau paklek Teguh.. Orang-orang baik yang ikhlas dengan apapun yang Allah gariskan untuk mereka. Hati Dinda kembali berdesir mengingat keegoisan mamahnya yang terlalu mengagungkan kekayaan.

__ADS_1


__ADS_2