Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 142. Drama?


__ADS_3

"Pak Teguh duda? Masa sih? Kenapa bisa duda? Gila aja ya.. Kalo ada cewek yang nyia-nyiain pak Teguh! Matanya buta apa gimana, pak Teguh lho kurang apa?! Udah ganteng, baik, ramah, sopannya itu bikin umuush.."


Mereka bergosip. Sudah jadi rahasia umum jika pimpinan mereka adalah seorang duda, banyak karyawan yang notabene adalah gadis lajang di sana berlomba-lomba mencari celah agar bisa dekat dengan atasan mereka. Tapi ya itu, semua terasa begitu syulit! Teguh benar-benar teguh dengan pendiriannya. Menutup rapat hatinya dengan gembok yang dia lempar jauh ke jurang terdalam tanpa bisa ditemukan.


"Jaga tuh mulut! Istrinya pak Teguh tuh meninggal, dia duda karena bininya meninggal karena sakit. Bukan karena bininya nyia-nyiain dia! Udah lama beliau menduda tapi belum pernah denger dia deket sama cewek selama aku kerja di sini." Ujar salah satu yang bekerja lebih senior dari yang lain.


"Waah bagus dong, artinya dia tipe cowok setia. Ya Allah pak Teguh.. Tiap hari di sepertiga malam ku, ku sebut namamu biar kita bisa bersatu di dalam KK mu. Aaah bayanginnya bikin adem panas euiy." Kata salah satu karyawan menghalu.


"Baek-baek kalo ngomong, di denger orangnya bisa kena depak dari sini. Cari masalah aja! Kalo nggak ada kerjaan mending bantuin aku aja, nggak usah ghibah pak Teguh." Untung saja masih ada orang yang berfikir jernih di sana dengan menghentikan obrolan unfaedah yang mereka lakukan.


Karyawan yang tadinya berkumpul membentuk satu kelompok ghibah sana sini akhirnya dibubarkan karena melihat atasan mereka memasuki tempat kerja. Kondisi kafe saat ini memang rame oleh alunan musik juga costumer yang duduk manis menikmati pesanan mereka, memberi ruang mereka untuk asyik berbagi cerita.


"Pagi pak." Sapa gadis berpakaian waiters tersenyum manis saat melihat Teguh berjalan melewatinya.


"Pagi." Teguh nyelonong pergi.


Senyum itu hilang. Karena ternyata dia hanya dilewati saja, dia pikir Teguh akan berhenti sekedar menyapanya dengan pertanyaan lain semisal 'Kamu karyawan baru ya?' Atau 'Senyummu manis. Siapa namamu?'


Tapi yang dia bayangkan tak sesuai realita. Ada yang menahan diri untuk tidak tertawa melihat pemandangan barusan.

__ADS_1


Cueknya Teguh akhir-akhir ini bukan tanpa alasan, pernah terjadi masalah sampai mengakibatkan resign nya sepasang karyawan di sana. Ya, sepasang! Karena yang resign adalah dua orang yang ternyata pasangan kekasih. Yang satu bagian packing. Dan yang lain merupakan supir di sana.


Awalnya baik-baik saja, sampai ada perasaan khusus yang timbul karena sering berinteraksi bersama. Si mbak packing sering bertemu Teguh untuk melaporkan produk yang sudah siap kirim. Ternyata dari situ timbul rasa suka yang mana si mbak lupa jika sudah memiliki pasangan yaitu si mas supir yang rela bertarung dengan teriknya panas dan derasnya hujan hanya untuk mengumpulkan biaya agar bisa segera menghalalkannya.


Sampai puncaknya terjadi pertengkaran di depan tempat kerja mereka. Dan menjadi tontonan banyak mata di sana. Termasuk Teguh tentunya.


"Kamu berubah.. Aku nggak buta sampai nggak bisa melihat perubahan pada dirimu." Tekan mas supir yang sudah capek dicuekin pacarnya.


"Aku nggak ngerti kamu ngomong apa. Berubah apa? Jangan bikin malu lah, aku mau kerja! Minggir!" Si mbak packing berusaha berkelit menghindari si mas supir.


"Karena kita udah mau nikah makanya aku serius jalani ini sama kamu! Kamu ngerti nggak sih?? Cara kamu liat pak Teguh, bicara dengannya dan kamu yang selalu tanya informasi tentang dia bikin aku sadar kalo kamu nggak lagi fokus jalani hubungan ini dengan ku? Mau mu apa sebenarnya?" Lantang. Mas supir tanpa ragu langsung mengutarakan isi hatinya.


Dan yang menyedihkan bagi mas supir, ketertarikan itu jelas ditunjukkan pacarnya untuk Teguh, atasan mereka.


"Apa sih?? Makin nggak jelas tahu nggak!" Si mbak mau berkelit lebih dari itu tapi tak bisa.


Saat itu Teguh muncul, keributan yang terjadi tepat di depan kafe dan ada namanya yang turut diseret di sana tentu membuatnya tak mau berdiam diri.


"Hmmm.. Mas Lingga, mbak Anis bisa ke ruangan saya sebentar?" Ajak Teguh berjalan gagah diikuti kedua pegawainya.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Teguh memandang keduanya bergantian.


Merasa di beri waktu untuk bicara, Lingga nama mas Supir itu langsung bercakap apa yang dia rasakan dan menjelaskan statusnya sebagai calon suami dari Anis si mbak packing itu sudah tak lagi di posisi aman. Dengan gamblang Lingga menjelaskan duduk permasalahan tadi tanpa ada maksud menyerang atasannya dengan tuduhan merebut calon istrinya.


"Maaf pak, saya serius menjalani ini semua dengan dia. Tapi kalau semakin ke sini malah dia semakin ke sana.. Saya bisa apa?" Tutup Lingga mengakhiri curhatannya pada Teguh.


"Bukan gitu pak! Dia nya aja yang sensian! Dia jarang ada waktu! Aku kan juga butuh perhatian, butuh dingertiin! Selama ini aku udah cukup bersabar sama dia, tapi dia makin lama malah makin cuek! Ya wajar kalau misal hatiku belok ke orang lain!" Tanpa rasa bersalah, Anis berkata demikian.


Teguh bisa mengambil kesimpulan dari cerita Lingga dan Anis. "Orang lain yang kamu maksud itu saya?" Tanya Teguh kepada Anis.


Anis tak berani menatap Teguh, wajahnya bersemu dan menunduk malu. Dia berpikir mungkin akan ada balasan untuk perasaannya. Sedangkan Lingga, dia berdecak sambil memalingkan wajahnya ke samping. Seakan malas melihat drama di hadapannya.


"Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik di sini tanpa melibatkan perasaan. Jujur saja, jika saya jadi mas Lingga punya pasangan yang diajak serius tapi maju mundur nggak jelas pasti saya stop dan berhenti di titik itu. Karena percuma mempertahankan suatu hal yang tidak menghargai usaha saya!"


Teguh tak meneruskan ucapannya karena setelah itu Lingga meminta ijin mengundurkan diri. Dia memilih berhenti bekerja dari sana karena merasa tidak nyaman dan jika diteruskan atau dipaksakan dia tidak menjamin jika akan bisa fokus pada pekerjaannya.


Dan seperti drama, Anis juga ikut menyerahkan id card nya saat melihat Lingga keluar dari pintu dengan menunduk lesu. Entah dapat ilham dari mana, Anis meminta maaf kepada Lingga sambil memeluk Lingga dari belakang. Sebagian orang yang melihat hal itu akan beranggapan jika mereka romantis tapi sebagian lainnya akan tepuk jidat dan geleng kepala seperti yang dilakukan Teguh.


Dan, sejak saat itu Teguh benar-benar memberi batasan pada dirinya agar tak lagi ada Anis Lingga lainnya yang resign meninggalkan drama untuknya di tempat kerja.

__ADS_1


__ADS_2