
Langit mendung, kumpulan awan hitam bergerak berarak menuju tempat di mana mereka akan berubah menjadi tetesan air yang menyejukkan bumi.
Melihat langit menghitam seperti itu, tak membuat bocah lima tahun yang biasa dipanggil Sakti meninggalkan tempatnya bermain. Bocah itu sedang berada di depan rumah, sedang bermain dengan truk kesayangannya.
Meski sudah dipanggil neneknya beberapa kali, Sakti acuh saja membiarkan neneknya berucap jika dirinya ndablek atau susah dikasih tahu.
Tak berapa lama, guyuran air jatuh melesat cepat membasahi permukaan bumi. Memberikan kesejukan pada setiap jiwa yang mengharap anugerah ketika hujan tiba.
Ibunya Shopiah tergopoh-gopoh menuju cucunya yang malah diam tak bergeming meski hujan sudah turun dengan lebatnya.
"Ayo masuk! Bocah iki lho yoo, malah golek penyakit! Ayo le masuk, nanti nek kamu masuk angin, panas, pilek, batuk, mbah yi nanti yang kena omel ibumu! Ayo to.. Cepet masuk ke dalam!" Bukan tak mau mencoba menggendong Sakti, tapi ibunya Shopiah tak kuat menggendong cucunya. Tubuh kurus yang sering dimakan penyakit itu tak kuasa meraih Sakti dalam gendongannya.
Dengan payung yang dia bawa, beliau berusaha melawan jatuhnya air hujan yang berusaha turun mengenai kepala cucunya.
"Ini simbah kung mu juga kemana to, pergi dari siang ndak pulang pulang!" Masih bisa mengomel untuk suaminya di saat seperti ini. Beliau sudah merangkai kalimat panjang penuh luapan emosi jika suaminya pulang nanti.
Sakti tak menggubris setiap kata yang keluar dari mulut mbah yi nya. Seperti tak merasakan apapun, Sakti masih sibuk bermain dengan truknya.
__ADS_1
"Lho ini ada apa kok hujan-hujanan gini.. Ya Allah Gusti, ayo masuk masuk!" Datang dengan mengendarai sepeda motor, mbah kung segera menghampiri Sakti berniat menggendongnya masuk rumah.
Tapi, si bocah tak mau. Dia meronta saat akan digendong mbah kungnya.
"Kamu kemana aja to pak?? Udah tahu mau hujan kok ya malah kluyuran. Ini Sakti buruan digendong!" Perintah istrinya segera dikerjakan. Tapi bocah itu tak mau dibawa masuk ke dalam rumah.
Sakti berontak ingin tetap berada di bawah guyuran hujan. Dipaksa seperti itu meloloskan tangis si bocah. Dirinya tetap kekeh ingin di tempat yang sama meski hujan deras mengguyur badannya.
"Le, ini kalau ibumu tahu kamu jadi ndablek gini pasti dihajar kamu."
"Biarin! Ibu juga nakal, nggak mau dengerin aku! Ibu nakal! Ibu nakal.." Katanya di sela tangisannya. Mendengarnya, barulah kakek itu paham jika saat cucunya sedang merindukan sosok ibu di sisinya.
Dan tangis itu makin menjadi saat Sakti melihat ibunya keluar dari dalam mobil. Bocah itu berlari ke arah ibunya. Hal yang sama dilakukan Shopiah.
"Ibuu.. Aku kangen ibuuuu.. Jangan pergi bu.. Jangan pergi.. Aku nggak mau ibu pergi.." Bocah itu berkata apa yang dia rasa. Memberondong ibunya dengan rentetan kata rindu ala bocah lima tahun.
"Ibu di sini kak.. Ibu nggak akan pergi lagi, ayo masuk ya kak.."
__ADS_1
Ajaib. Sakti langsung luluh oleh ibunya, bocah itu menenggelamkan wajahnya pada ceruk sang ibu. Mendekap erat leher ibunya seakan tak ingin mereka terpisah kembali. Tak kalah dengan putranya, Shopiah juga menciumi kening putranya beberapa kali. Mengelus rambut hitam basah karena guyuran hujan.
Tak memperdulikan rasa capeknya, Shopiah memandikan serta menggantikan pakaian anaknya. Setelah itu, dengan tangannya sendiri dia menyuapi Sakti agar mau makan. Ditinggal dirinya dua bulan perubahan Sakti sangat drastis. Bocah yang dulunya gembul, dengan pipi imut seperti bakpao menjadi kurus dan tirus. Shopiah tak ingin menangis di depan anaknya, dengan telaten dia menyuapi Sakti hingga suapan terakhir.
Sakti tidur. Dan bocah itu tidur di pangkuan ibunya, tak ingin berjauhan barang sebentar saja. Ketakutan jika nanti ibunya akan pergi membuat Sakti punya ide untuk menjadikan ibunya bantal. Memeluk erat tangan Shopiah agar tak lagi pergi meninggalkannya.
"Jadi kamu berhenti bekerja Sho?" Ulang ibunya setelah mendengar penjelasan Shopiah.
"Iya bu. Aku di sana kepikiran Sakti terus, sering melakukan kesalahan, kebayang tangisan Sakti kayak tadi bu, nggak ada yang bisa nenangin." Jelas Shopiah menceritakan yang sebenarnya.
"Ya udah.. Nggak apa-apa. Kamu cari rejeki aja di sini, jualan kayak dulu. Malah bisa ngajak Sakti keliling kampung, sambil kerja juga bisa momong. Bukan ibu nggak mau momong anakmu, tapi kamu tahu sendiri tadi. Dia mau nurut cuma sama kamu.." Saran ibu Shopiah pada putrinya.
"Sebenarnya, aku juga dinasehati sama majikan ku di kota bu.. Katanya rejeki bisa di cari, jika berusaha, dan tidak putus asa pasti ada jalan untuk keberhasilan apapun yang kita kerjakan nantinya."
"Beliau bilang, 'anakmu tidak tahu kamu pergi itu tujuannya apa. Hanya mendengar cerita dari orang-orang di sekitarnya kalau kamu kerja cari uang. Uang untuk siapa dan untuk apa, anak sekecil itu tidak akan paham. Yang dia tangkap dari kepergian mu ke kota adalah, cari uang. Dalam benaknya, dia terus menanamkan pikiran jika uang lebih berharga dari pada dirinya. Lambat laun anakmu akan jauh darimu. Meski kamu sudah melakukan pengorbanan dengan merelakan waktu mu untuk mengasuhnya hilang, anakmu tidak akan peduli'
"Memang benar apa yang dikatakan bos mu Shop, uang memang bisa membeli segalanya tapi ada beberapa hal yang tak bisa dibeli dengan uang. Salah satunya adalah waktu.."
__ADS_1
Apa yang dikatakan ibunya Shopiah memang benar. Begitulah manusia, kerja keras untuk kebahagiaan anak mereka.. Mengorbankan waktu serta momen tumbuh kembang anak anaknya, demi memuliakan derajat mereka di mata manusia lain. Agar kesejahteraan mereka bisa terjamin, tapi ada hati yang teriris sedih karena musti merelakan masa kecilnya kehilangan momen bersama orang tua.