Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 114. Dipersulit?


__ADS_3

Kali ini Selvi berperan sebagai gadis manis yang sopan dan sabar. Meski Teguh terdengar memarahinya beberapa kali, dia hanya bilang maaf dan menundukkan wajah seolah menyesali perbuatannya.


Di dalam hati Selvi, dia mengutuk Teguh habis-habisan. Saudara macam apa itu yang memarahinya tanpa tahu alasan dia melakukan semua ini, seandainya anaknya ditempatkan pada posisinya.. Menggilai lelaki yang sudah beristri, pasti juga lelaki yang berdiri tegap di depannya itu akan mendukung apa yang Selvi lakukan sekarang ck! Setidaknya itulah yang Selvi pikirkan.


"Kamu minta maaf untuk apa? Aku bukan bapakmu, minta maaf ke bapak dan ibumu saja."


"Kamu ke sini mau apa?" Teguh berusaha tidak bicara lantang, dia mencoba menetralkan emosi yang mendidih di hati.


"Iya mas.. Eh Guh, bapak sama ibu udah tahu kok aku kemarin pergi kemana, aku udah minta maaf sama mereka."


"Guh, kalau aku minta nomer telpon mas Ervin boleh nggak? Katanya dulu kalau ada apa-apa, aku boleh minta bantuan dia." Suara Selvi dibikin selembut mungkin. Yang sebenarnya dia ingin berteriak di depan sepupunya ini. Tak sabar rasanya jika lama-lama menjadi sosok yang berbeda.


"Minta bantuan pada Ervin? Bantuan yang bagaimana? Dia sudah berkeluarga. Nggak usah ngusik rumah tangga orang, kalau istrinya murka bisa diajak jatilan kamu nanti. Kalau cuma cari kerja, di sini aja. Banyak lowongan. Kemarin ada dua orang resign bersamaan." Teguh duduk menjaga agar tak melulu emosi bicara dengan Selvi.


"Kamu dulu yang nggak mau aku kerja di sini, kenapa sekarang malah minta aku buat ikut kamu." Selvi menaikan nada bicaranya.


"Dulu kamu minta kerja di posisi ku, kamu ingat? Aku bakal berikan dengan senang hati kalau tempat kerja ini kepunyaan bapakmu. Setidaknya aku bisa ngasih tanggung jawab pada tangan yang tepat, tapi tempat ini milik orang lain.. Bukan aku yang punya, bukan bapakmu juga. Aku juga kuli di sini, ikut orang. Mana bisa seenaknya ngasih tanggung jawab ini ke kamu."


Selvi menatap tak suka dengan jawaban yang diberikan Teguh barusan.


"Bilang aja pelit lah Guh. Nggak masalah, aku bisa minta kerjaan di tempat mas Ervin aja."


"Mana sini nomernya?!"


"Nggak punya." Teguh ingin tertawa saat melihat mata Selvi melotot ke arahnya saat dia jawab dengan singkat todongan Selvi yang terus meminta nomer telepon Ervin.


"Kamu bohong ya? Kalau mau bohong jangan keterlaluan lah Guh, bisa-bisanya bilang nggak punya nomernya mas Ervin! Kamu sama dia kan deket, harusnya punya dong! Terus biasanya kamu komunikasi sama dia lewat apa?" Kesal dan tak tahan harus bermanis-manis, meledak juga Selvi akhirnya.


"Lewat doa."


"Teguh!!! Aku lagi nggak bercanda!" Bentak Selvi.


"Apa Sel? Kan aku udah bilang, kalau mau kerja, di sini aja. Ervin juga kadang ke sini kok ngajak anak istrinya main di sini." Teguh bisa menyunggingkan senyum sekarang.

__ADS_1


"Main? Di tempat kerja main? Kayak anak bos aja!" Sungut Selvi tak suka.


"Adik bos lebih tepatnya, iparnya Ervin dulunya bos di sini. Meski sudah nggak kerja di sini, dia tetep pimpinan panutan buat kami semua."


Selvi mengalah, dia tak akan bisa melawan Teguh jika sepupunya itu sudah memutuskan sesuatu.


"Oke. Kapan aku bisa kerja di sini?" Tanya Selvi tak sabar.


"Sekarang juga bisa, ke belakang ya.. Bantu bikin kue." Ucap Teguh santai.


"Apa??? Teguh kamu yang bener dong!!"


"Iya emang bener, kenapa kamu teriak-teriak?" Lagi-lagi Teguh tersenyum.


"Kamu bilang mas Ervin sesekali ke sini, dan kalau aku kerja di dapur gimana dia bisa lihat aku?? Kamu sengaja ya??"


Kali ini Selvi tak bisa lagi bersabar menghadapi Teguh, dia putuskan untuk pergi dari kafe itu.


"Masa bodoh!" Bentaknya seakan tak peduli jika dirinya kini jadi pusat perhatian siapapun di kafe itu.


"Ini bawa, buat bapak sama ibumu." Tambah Teguh mengikuti Selvi sampai parkiran. Teguh menaruh paper bag di jok belakang motor Selvi.


Tak ada ucapan terimakasih, tapi bingkisan tetap dibawa. Selvi menghilang dengan cepat. Teguh diam di tempat sampai sepupunya itu tak nampak dari pandangannya.


____


Ayu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu sebagai alat pembayaran atas belanjaan yang dia beli di warung sederhana di pinggir jalan.


"Kamu aneh deh Yu, kita kan bisa beli ginian di mall. Harganya bisa lebih murah dan nggak ribet gini, bayarnya pakai uang digital juga bisa." Keluh Wildan mengikuti Ayu dan Reza yang berjalan beriringan.


"Kalau aku belanja di mall, warung kecil kayak punya nenek tadi pasti tutup lebih cepat karena nggak ada yang beli Wil. Mereka nggak ambil untung banyak kok, lagian cuma beli beras, telur sama mie instan doang. Di warung juga banyak yang jual Wil," Ayu menjawab protes Wildan.


"Tapi kan ribet Yu, warung pertama kehabisan telur, kita kudu ke warung ke dua yang jaraknya jauhnya bikin otot kakiku menjerit minta dipijit. Eh udah jauh-jauh warung kedua malah cuma punya mi instan satu dus! Jalan lagi buat cari kurangnya!" Masih ngedumel.

__ADS_1


Sesaat Ayu seperti berbincang dengan Dinda, ya Dinda.. Cara bicara Wildan mirip dengan Dinda. Meski mereka tak punya hubungan apapun, tapi di beberapa kali kesempatan Ayu seperti melihat Dinda dalam diri Wildan.


"Berisik banget sih Tejo! Ngutang kopi aja masih di warung, giliran belanja banyak dikit lari ke mall! Rewel banget jadi cowok!" Giliran Reza yang langsung membuat Wildan ngakak.


"Iya iya.. Yang bucin maha benar, aku mah Mahalini aja wez!" Sambung Wildan cengengesan yang langsung disikut oleh Reza.


"Kamu berasa jadi Rizky Febian, Wil?" Ayu tersenyum.


"Bukan.. Aku tuh reski tak direstui, tapi tetep sayang kamuh! Hahaha." Mata Reza membola, makin senang saja Wildan menggoda Reza yang diam-diam menaruh rasa pada Ayu.


"Itu meski kambeeeng! Ah kamu, gemes deh pengen lemparin kamu ke segitiga bermuda!"


Ayu sering melakukan baksos, dia memberikan bantuan apapun yang dia bisa lakukan. Dengan tenaga, dengan sedikit materi yang Tuhan titipkan padanya, terkadang dia juga membelikan kebutuhan pokok seperti sekarang ini lakukan.


Beberapa waktu lalu terjadi gempa, meski tidak berpotensi tsunami tapi kerusakan yang diakibatkan oleh gempa dari pergeseran lempeng-lempeng bumi itu mampu membuat puluhan kepala keluarga mengungsi karena tempat hunian mereka rusak tak layak huni.


"Satu mobil penuh ini. Wah aku duduk di mana?" Wildan sok kebingungan.


"Di atap kisanak. Monggo, waktu dan tempat dipersilahkan!" Reza kesal dengan tawa Wildan yang gercep mengambil kontak motor yang Reza lemparkan ke arahnya.


"Motornya di mana?" Tanya Wildan celingukan.


"Aku parkir di warung pertama tadi kita ketemu." Jawab Reza enteng.


"Weh gila.. Ogah! Jauh banget itu, udah capek bawa lima dus mi, masih disuruh jalan lagi ke warung tadi buat ambil motormu! Kamu aja sendiri yang pake motor! Aku capek, nggak mau!" Wildan merajuk.


"Ya udah, kelian aja naik mobil. Kita ketemu nanti di lokasi, kesian juga Wildan. Za, motormu tadi udah dikunci kan? Aku tak ngojek aja. Di jalan aku tadi lihat banyak tukang ojek nganggur, kesian.." Ayu selalu seperti itu.


"Eh.. Jangan Yu. Hmm gini aja, kamu sama Wildan langsung ke sana. Aku tak ambil motorku." Larang Reza khawatir jika Ayu harus naik ojek sendiri.


"Alah Jenab Bambwaaang.. Kelian jalan aja udah, ambil motornya.. Aku mo langsung ke lokasi. Beres, no debat! Aku udah capek kek kuli dari tadi disuruh Ayu angkut angkut barang."


Ayu setuju saja dan bisa ditebak seperti apa senangnya Reza saat ini. Dalam hati dia berkata 'Good brother, nanti ku traktir pop es di abis ini.' Senyum Reza tak hilang dari wajahnya selama dia menapaki jalan bersama Ayu.

__ADS_1


__ADS_2