Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 119. Kenalan


__ADS_3

Selvi kembali ke tempat mbah Ribut, kali ini dia bermaksud menyingkirkan Caca. Baginya, Caca sangat mengganggu. Dia ingin mbah Ribut mengirimkan teluh, santet atau guna-guna lainnya agar memuluskan rencananya.


Sebelum itu, dengan pede Selvi datang ke rumah Teguh untuk meminjam sejumlah uang. Tentu saja uang itu akan dia pakai untuk mahar yang akan diberikan pada mbah dukun, lelaki pertama yang pernah menyentuhnya.


"Buat apa Sel?" Tanya Teguh menatap lekat pada diri sepupunya.


"Kebutuhan ku banyak Guh, dan bapak belum panen. Beras di rumah udah abis, kenapa tiap aku pinjem duit selalu mok tanya buat apa buat apa?! Mau buat bayar dukun sekalipun harusnya itu bukan urusan mu. Tugasmu cuma minjemin aku duit! Dikasih ya sini, nggak dikasih kok ya kelewat kebangetan." Meski tujuannya meminjam uang pada sepupunya, tapi Selvi malah terlihat lebih garang dan tak menunjukkan etika yang baik.


"Astaghfirullah tan tan, kelakuan kayak gitu minta dipinjemin uang sama bapak? Eh tant.. Tak kasih tau ya, mending tante kerja. Kalau susah dapet kerjaan, ikut aku jualan banana roll, pasti dapet cuan. Jangan minjem mulu bisanya, kapan mau mok balikin emang hmm?" Ayu, gadis manis ini selalu tak bisa manis jika berhadapan dengan Selvi.


"Lancang banget kamu! Bocah kemarin sore tapi sok-sok'an ngatur aku! Baru jualan pisang gulung beberapa kotak aja sombongnya minta ampun, tak sumpahin nggak laku, bangkrut, nggak bisa jualan lagi baru tau rasa!" Belum apa-apa Selvi sudah menebar sumpah serapah.


"Sel.. Bener kata Ayu. Kalau butuh uang, ya harus kerja. Segala sesuatu nggak akan bisa kita dapatkan dengan mudah tanpa usaha. Dari kemarin aku nawarin kamu kerja di tempatku tapi kamu nggak respon apapun." Tutur Teguh membela anaknya.


"Nah.. Denger tuh tan! Untung aja kita napas pake oksigen gratis dari Gusti Allah, lha kalo mau napas kudu beli dulu, aku yakin tante udah lama ada di alam berbeda!"


Selepas berkata demikian, Ayu langsung mendapat tonyoran dari tantenya. Si tante mendorong ponakannya itu sebagai bentuk ketidaksukaannya pada Ayu.


Ayu kesal, bisa saja dia membalas perbuatan tantenya tadi tapi Teguh langsung menengahi. Teguh menggeleng pelan sebagai isyarat agar Ayu tak menanggapi Selvi.

__ADS_1


"Nanti aku ke rumahmu, beras mu habis kan? Aku kirim langsung ke rumahmu, tenang aja. Tapi, maaf.. Kalau tentang uang, aku nggak bisa ngasih." Ucap Teguh berwibawa.


Rasanya Selvi ingin memeriksa sendiri isi dompet Teguh, dan mengambil semua uang yang tersimpan di sana. Tapi, dia masih bisa mengontrol diri dan tak melakukan hal absurd itu.


Tak mendapatkan apa yang dia mau dari Teguh, Dengan perasaan kesal yang menumpuk dia pergi dari rumah Teguh, Selvi bermaksud menemui Pretty. Temannya yang dulu mengenalkannya pada mbah Ribut.


Tapi, saat telepon genggamnya dipakai untuk menghubungi Pretty, nomer temannya itu sudah tidak aktif. Sembari berpikir, apa yang akan dia lakukan untuk bisa mendapatkan uang.. Terlintas ide untuk menemui Ervin saja.


Jangan ditanya bagaimana perasaan Selvi ketika mengingat kejadian kemarin siang bersama Ervin, tentu saja hatinya berbunga-bunga. Dia bisa melukis tanda kepemilikan pada leher pujaan hati.


"Aku harus gimana ya? Nemuin mbah Ribut dulu apa nyamperin mas Ervin..? Kalau aku nyamperin dukun tua bangka itu tanpa bawa uang mahar, yang ada pasti dia minta dikelonin lagi! Minta jatah kuda-kudaan lagi!! Jijik banget aslinya, tapi aku nggak punya uang, nggak bisa melawan karena nggak punya pilihan.. Huuuft.."


Sedang sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri, Selvi yang sekarang ini ada di depan warung untuk ngadem di kagetkan dengan bunyi klakson mobil. Kesal sudah pasti karena saat sedang bingung mau melakukan apa untuk melanjutkan rencananya, dia malah kena semprot klakson mobil.


"Heh! Bisa nggak bunyiin klaksonnya rada sopan dikit! Kaget tahu nggak! Baru punya mobil gitu aja songong banget!! Dari sini masuk jurang, abis kamu!!" Umpat Selvi sesuka hati. Semua rasa kesal dan amarahnya sudah memuncak, dia butuh menyalurkan emosinya.


Seorang lelaki turun dari mobil tersebut, matanya mengunci Selvi yang berdecak pinggang. Dia melepas kacamata hitamnya dan di taruh diantara kancing kemeja yang terbuka dan memperlihatkan sedikit dada bidangnya.


Penampilan nyentrik bukan membuat Selvi melirik, malah bergidik karena dia berpikir jika lelaki itu adalah supir atau sekelas jongos lainnya.

__ADS_1


"Kalau mau berhenti di jalan, bisa kali agak minggir dikit. Tadinya aku mau marah lho ya.. Tapi nggak. Buat bidadari semanis kamu, aku nggak bisa marah." Ujar lelaki itu menatap genit pada Selvi.


"Heeeh ngaca! Nggak pantes orang udik, kacungnya orang lain sok ngrayu aku!" Bentak Selvi kepedean. Sekarang dia percaya dengan apa yang dikatakan mbah Ribut, jika jampi-jampi darinya tak hanya membuat Ervin bertekuk lutut. Lelaki lain juga bisa tunduk padanya, meski hanya seorang kacung!


"Siapa kacung? Aku? Wah wah dek.. Kamu nggak kenal siapa aku rupanya. Sini dek tak bisikin tipis-tipis." Si lelaki membusungkan dada, dengan tarikan nafas dia kembali berkata.


"Aku Djaduk Mangkulangit! Yang punya tanah yang sekarang kamu injak, yang punya pabrik pornituuur kelas internasional, yang punya mool di banyak kota, dan yang punya mobil gituan di rumah lusinan! Tapi, aku nggak pernah sombong lho ya.. Aku kan cuma ngasih tau karena kamu nggak tau aku siapa. Itu nggak keitung sombong."


Ya, lelaki itu adalah mas Djaduk. Lelaki dua istri, dan dua anak hampir launching anak ke tiga dari istri keduanya, Vera itu seperti ingin menarik perhatian Selvi rupanya.



Selvi menutup mulutnya tak percaya, rupanya yang di depannya ini adalah orang tajir melintir tak kiwir-kiwir. Sesaat senyum di wajah Selvi timbul, dia seperti sedang merencanakan sesuatu di kepalanya.


"Nah gitu dek, senyum kalau liat aku. Aku emang ganteng dari benihnya. Jelas bisa bikin orang bahagia meski baru melihat sekali aja." Sungguh pede sekali lelaki satu ini.


"Hmm maaf aku nggak tau, iya ini mau aku minggirin motornya. Maaf ya mas.. Mas.. siapa tadi?" Selvi pura-pura lupa nama Djaduk.


"Ahaaay... Iya sini sini kita kenalan aja. Biar makin akrab, aku Djaduk. Kamu siapa? Aku tahu kamu pasti bidadari yang diutus langit untuk turun ke bumi agar memberi warna pada setiap hati yang gersang.."

__ADS_1


Selvi meraih tangan itu, mereka berjabat tangan. Djaduk tersenyum smirk. Dia merasa telah menemukan sebongkah berlian di tepi jalan. Tanpa dia tahu jika penglihatannya teracuni oleh asap kemenyan mbah Ribut Wahgelo.


__ADS_2