Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 126. Kemarahan Selvi


__ADS_3

Di tempat lain, ibunda Selvi.. Bu Indun sedang menyapu halaman dan sekeliling rumahnya. Dia merasa rumahnya nampak kotor dengan banyaknya rumput liar yang cepat sekali tumbuh di area rumahnya.


Bu Indun melihat gundukan tanah mencurigakan yang seperti dipakai seseorang untuk mengubur sesuatu. Bu Indun takut jika gundukan tanah tersebut adalah makam janin yang sengaja dikebumikan asal oleh orang tak bertanggungjawab, sekarang ini marak terjadi hal tersebut.


"Pak.. Pak sini sebentar pak." Terbatuk-batuk bu Indun memanggil suaminya.


Ya, batuk bu Indun tak kunjung sembuh meski sudah berobat beberapa kali. Dia pasrah, mungkin juga itu adalah teguran dari sang Pencipta karena selalu ini dia lalai, dia melenceng dari jalan yang seharusnya.


"Apa bu? Udah tak kasih tau to, di rumah aja. Ini kok ya masih nyapu, biar aku aja yang beresin ini." Pak Darmaji kasihan pada istrinya yang makin hari makin kurus saja.


"Ini apa ya pak, tak perhatiin kok kayak kuburan. Tapi kuburan apa? Coba bapak gali, aku takut kalau misal ini kuburan janin kayak berita di tipi-tipi itu lho pak." Bu Indun menunjukkan sebuah gundukan tanah yang seperti sengaja ditumpuki sampah dedaunan agar terlihat seperti tumpukan sampah.


"Kamu ini, terlalu sering nonton pilem horor bu! Ini kan paling tempat kucing buang hajat. Udah ayo masuk aja, anginnya kenceng ini.. Kamu jadi makin sering batuknya." Pak Darmaji tak menghiraukan permintaan istrinya.


Di giring masuk ke dalam rumah, bu Indun pasrah saja. Nyatanya dadanya juga sudah sakit karena sering batuk.


"Tapi nanti dibongkar ya pak, aku kok nggak tenang. Aku cuma mau memastikan tumpukan tanah tadi bukan kuburan bayi. Nanti kalau ada polisi sidak ke sini, kita juga yang kena!" Pinta bu Indun masih memikirkan setumpuk tanah yang dia curigai tadi.


____

__ADS_1


Dengan bujukan budhe Efa, Ervin mau meminum air mineral yang diberikan Teguh tadi. Air yang sudah didoakan, dan punya efek membuat Selvi marah dan kesal. Gadis itu bahkan memaki tanpa henti saat tahu Ervin menghabiskan air itu.


"Enakan Vin?" Tanya budhe Efa pada iparnya.


Ervin memegang tengkuknya yang tadi terasa sakit seperti ditindih sesuatu.


"Iya budhe.." Meski sudah membaik pelet itu tak lantas hilang seluruhnya. Namun kekuatan doa memang sangat luar biasa, Ervin mulai bisa mengenali siapa Selvi.


"Mbak Selvi? Kok bisa ke sini?" Itulah kata pertama setelah rentetan kata pembelaannya kepada Selvi tadi.


Seperti yang dijelaskan, pelet mbah Ribut seperti hipnotis. Sebelum meminum air doa itu, Ervin terlihat layaknya kerbau yang dicucuk hidungnya. Manut apapun yang Selvi katakan. Untung saja Caca tak melihat bagaimana aksi suaminya itu yang begitu bodoh dengan mengiyakan semua tudingan Selvi pada Ervin. Budhe Efa bahkan hampir hilang kesabaran dan menggetok kepala Ervin, jika tak ingat kalau Ervin terkena pelet atau guna guna.


Tak banyak orang bisa tau tentang orang-orang yang memakai pelet atau guna guna tapi tidak dengan budhe Efa, dia paham akan dunia perdukunan itu. Bukan karena beliau juga penganut ilmu hitam tersebut tapi, kepekaan tinggi yang beliau miliki ini lah yang bisa mengantarkan beliau pada sebutan anak indigo. Sebuah rahasia yang tak banyak orang tau tentunya, jika budhe Efa adalah seorang anak indigo.


"Mbak? Apanya yang mbak? Mas.. Aku Selvi pacarmu.. Mas kenapa kamu jadi gini?? Ingat mas.. Aku yang paling kamu sayangi, iya kan? Aku yang kamu utamakan, aku udah kasih semuanya ke kamu mas.. Jangan siksa aku kayak gini.." Selvi menangis tersedu. Antara sedih dan takut. Dia takut kebohongannya terkuak sebelum dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Aku? Aku sayang kamu? Mbak.. Aku udah punya istri, aku-"


"Ervin kamu ke kamar aja, wudhu, sholat! Temenin Caca, dia nangis mulu dari tadi!" Perintah budhe Efa memotong ucapan Ervin.

__ADS_1


Budhe Efa tak ingin iparnya kembali terpengaruh oleh ular di depannya ini.


"Mas.. Jangan pergi! Aku udah di sini mas, aku ke sini buat kamu.. Aku hamil anak mu mas! Anak kita!! Mas!!" Selvi kembali menggila saat tak lagi melihat punggung Ervin yang menghilang di balik pintu.


"Aaaah!! Bang_sat!!! Kamu kurang ajar!! Teguh, aku bakal inget semua ini!! Aku bakal bales kamu, aku akan bikin hidupmu lebih menderita dari pada di neraka!! Ingat ini!! Aku Selvi nggak bisa diginiin!!" Selvi melampiaskan kemarahannya.


"Astaghfirullah.. Dia ini kenapa.." Ucap Teguh sedih. Dia sedih bukan karena sumpah serapah yang Selvi berikan untuknya tapi sedih karena sepupunya itu sudah terlalu jauh melangkah.


Terlalu banyak batasan yang diterobos oleh Selvi. Bahkan menggadaikan kehormatan pun tak jadi masalah jadinya.


"Dia pakai pelet Guh, maaf ya.. Aku nggak bilang dulu sama kamu. Takut kamu nggak percaya. Kalau kamu sendiri yang buktiin kayak tadi kan kamu juga bisa tau, saudaramu yang bersalah di sini. Bisa aja aku yang bacain doa tadi, tapi kalau aku yang praktekin itu.. Bisa jadi kamu mikir aku dukunnya di sini karena komat-kamit nggak jelas." Ucap budhe Efa memberi penjelasan.


Teguh mengelus dada sembari beristighfar, dia tak habis pikir jika Selvi bisa berbuat sejauh itu. Akibat perbuatannya, Ervin telah kehilangan pekerjaan, kehilangan kepercayaan dari istri serta bosnya. Lagi lagi Teguh meminta maaf mewakili Selvi selaku sepupunya.


Dan Selvi pergi, dia berjalan cepat karena memang tadi ke rumah Ervin di antar oleh karyawan Ervin. Sambil terus memaki dan menyumpahi Teguh juga wanita tua yang dia tak tahu namanya, Selvi berharap mendapat bantuan dari mbah Ribut.


"Aku udah korbanin kesucian ku, hei tua bangka tak tau diuntung!! Dengerin ini!! Kamu bisa lihat inikan, aku hamil!! Hamil anak setan!! Hamil anakmu, bajing_an!! Mana janji mu yang bilang bisa bikin aku hidup bersama mas Ervin??" Selvi memukul mukul perut ratanya.


Di tengah kemarahan dan kekecewaan yang begitu besar, Selvi teringat pada sosok Djaduk. Lelaki tajir melintir itu masih bisa dia manfaatkan.

__ADS_1


Seperti sebuah peribahasa, tak ada rotan akar pun jadi. Tak bisa mendapatkan Ervin karena tembok penghalang yang kokoh, bisa bersama dengan Djaduk pun tak masalah. Dia tak ingin hidup susah! Dia tak ingin anaknya tak memiliki ayah, meski dia tahu pasti ayah biologis dari janin yang dia kandung adalah dukun tua bernama Ribut Wahgelo tapi tentu ego nya tak membiarkan jika dia harus dipersunting dukun tua bangka itu.


__ADS_2