Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 47. Efek Kehujanan


__ADS_3

Teguh memijit kepalanya, merasakan pusing di bagian sana. Meski sudah tahu jika dia sakit tapi, dia tetap bekerja hari ini. Tadi Teguh sudah beli obat flu di warung, tapi tak tahu kenapa pusing di kepalanya belum mereda.


"Kenapa?" Tanya budhe Efa melihat Teguh memijit tengkuknya sendiri.


"Pusing dikit budhe." Jawab Teguh terus terang.


"Ya udah jangan bawa mobil. Kasih kuncinya ke Ervin, kamu bantu-bantu di toko aja. Tapi, kalau emang sakit mending pulang. Berobat dulu sebelum pulang, biar dianter siapa gitu." Kata budhe Efa.


"Iya budhe." Jawab Teguh singkat.


Saat beranjak dari tempatnya duduk, Teguh menyenggol seorang pembeli yang dia kenal. Teguh hanya menunduk sopan dengan sedikit senyum sebagai ganti sapaan.


"Kerja di sini ya pak Teguh?" Wanita itu duluan menyapanya.


"Iya bu guru. Permisi.." Teguh berlalu pergi.


Dia tak menanyakan alasan kenapa jam segini seorang guru masih bebas di luar area sekolah. Teguh memang bukan tipe orang yang suka mengurusi urusan orang lain. Tak ada gunanya juga.


"Mas.. Katanya sakit? Ayo ikut aku, nanti tak anter ke dokter abis itu tak anterin pulang." Ervin menyapa Teguh yang sekarang menyusun box mau diangkatnya.


"Jangan mas.. Biar aku aja. Nanti jatuh malah kita semua yang repot." Empat box kue itu ditaruh kembali di atas etalase. Karena mendapat bantuan dari temannya yang lain.


Dia ini hanya flu tapi diperlakukan seperti orang yang sakit parah. Teguh jadi tak enak hati jika diperlakukan seperti itu.


Ervin mengendarai mobil. Beberapa kali dia mengajak Teguh mengobrol tapi, lawan bicaranya seperti malas menanggapi.


"Istirahat aja mas. Besok pasti sembuh kok. Dokter tadi itu selain udah bersertifikasi halal dari MUI dia juga pinter nyambuhin segala macem sakit akibat pernganuan lho. Yok mas, aku lanjut lagi ngulinya ya."

__ADS_1


Teguh sudah tiba di depan rumahnya setelah diantar ke dokter terlebih dahulu sama Ervin tadi. Temannya yang satu itu memang unik. Bahasa yang dia gunakan lain dari pada yang lain, tingkah polahnya selalu bisa menghibur orang-orang di sekitarnya.


"Lho bapak udah pulang." Ayu berlari melihat bapaknya akan membuka pintu rumah. Ayu sendiri baru pulang sekolah.


"Bapak.. Bapak kok udah pulang? Bapak sakit?" Pertanyaan pertama ketika kedua netra mereka bertemu.


"Disuruh pulang Yu, ya bapak pulang. Ayo masuk.."


Teguh merebahkan diri di bangku panjang. Memejamkan mata barang sekejap karena netranya terasa panas. Ayu yang melihat hal itu berinisiatif memijiti kaki bapaknya. Pasti bapaknya capek. Pikirnya.


"Eh enggak usah Yu.. Bapak cuma mau rebahan bentar kok." Teguh ingin bangun dari tidurnya. Tapi dicegah Ayu.


"Enggak apa-apa pak, lagian udah lama Ayu enggak mijitin bapak. Pak.. ini kaki bapak kok panas.. Beneran bapak lagi sakit ya?" Ayu tergerak untuk menyentuh telapak tangan bapaknya. Di sana juga panas.


"Bapak cuma pusing dikit Yu, nanti juga sembuh." Teguh berusaha tersenyum agar tak membuat Ayu cemas.


Ayu diam. Sekarang bocah itu memijit tangan bapaknya. Beberapa menit kemudian Teguh sudah terbuai ke alam mimpi. Tahu bapak tersayangnya sudah tidur, Ayu berjalan menuju kamar mengganti baju. Setelah itu bocah itu ke dapur. Membuatkan teh panas. Hal mudah baginya, hanya menuangkan air panas dari termos ke dalam gelas yang sudah diberi teh terlebih dahulu.


Membawa uang receh pecahan lima ratusan, Ayu mantap melangkahkan kaki ke rumah bulek Juju.


"Assalamu'alaikum bulek.. Bulek Ju.. Beli.." Ayu memanggil si pemilik rumah.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, eh Ayu.. Tumben siang-siang ke sini Yu. Iya, mau beli apa?" Bulek Juju selalu senang melihat Ayu.


"Mau beli bulek. Beli nasi sama tempe sama pisang goreng sama... Sama apa lagi ya.." Ayu berpikir.


"Eh sebentar deng bulek.." Ayu melihat lagi plastik putih bening yang dia pakai untuk wadah uangnya tadi.

__ADS_1


"Ayu mau beli nasi, tempe goreng, dan pisang goreng?" Tanya Bulek Juju tersenyum.


"Iya bulek.. Tapi uang Ayu enggak cukup deh kayaknya, ini ada tujuh ribu aja.."


"Cukup Yu. Cukup banget. Ini." Bulek Juju menyerahkan plastik berisi apa yang dia sebutkan tadi kepada Ayu.


"Bulek, Ayu beli bukan minta.. Ayu tahu kalau uang Ayu enggak cukup.. Kenapa malah dikasih banyak banget?" Ayu tak langsung menerimanya.


"Itu dari bulek. Buat kamu sama bapakmu ya.. Bulek ikhlas. Kamu kan ke sini bawa uang, niatnya mau beli kan? Uangnya bulek terima ya,"


Ayu tak enak hati jadinya. Dia hanya membawa uang tujuh ribu rupiah dengan pecahan lima ratusan tapi mendapatkan barang yang nilainya lebih dari itu.


Setelah berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada bulek Juju, Ayu pulang membawa dua bungkus nasi dan beberapa gorengan. Ayu takut jika dikira minta dikasihani oleh orang lain. Pasti bapaknya akan kecewa jika tahu Ayu menggunakan kekurangan mereka sebagai alasan agar dikasihani orang lain dengan cara meminta-minta.


"Dari mana nduk?" Tanya Teguh yang ternyata sudah bangun. Teguh memperhatikan bingkisan di tangan putrinya.


"Dari rumah bulek Juju pak. Ayu beli ini, buat bapak." Menaruh apa yang dia bawa di meja. Teguh memperhatikan sekilas.


"Beli apa dikasih Yu?"


"Beli pak."


"Dapet uang dari mana?"


Ayu tak menjawab. Dia berjalan ke kamarnya. Mengambil benda berbentuk ayam yang sudah bolong karena baru saja dia pecahkan.


"Ini pak.. Ayu tiap hari nabung dari sisa uang saku yang bapak kasih. Tadi Ayu pakai buat beli nasi.. Buat makan bapak." Takut-takut Ayu mengatakan hal ini.

__ADS_1


Tak disangka Teguh malah menghampiri Ayu dan memeluk anaknya, dia tak menyangka anaknya bisa menyisihkan uang saku yang bahkan dia pikir jumlahnya tak seberapa itu.


"Maturnuwun cah ayu.. Kamu selalu jadi alasan bapak untuk tetap kuat dan terus semangat. Kamu anak sholehah nduk.. Maturnuwun.." Teguh terharu. Ayu tak mengerti maksud bapaknya, yang dia tahu.. Bocah itu sangat menyayangi bapaknya.


__ADS_2