
Malam tiba, seorang bernama Djaduk benar-benar datang ke kediaman Vera. Lekaki dengan kumis dan rambut klimis, Badan tinggi, dengan kulit sawo matang, kalung bak rantai kapal menghiasi lehernya. Belum lagi kemeja bunga-bunga dan celana cutbry dengan warna kuning, membuat lelaki bernama Djaduk itu terlihat mencolok.
"Pi.. Yang benar saja, lihat penampilannya itu?! Dandannya.. Aah dia seperti hidup di jaman sebelum masehi! Oh my... Mi.." Pandangan mata Vera memohon agar semua ini dibatalkan.
"Masuk mas Djaduk. Wah mas, kesini bawa mobil baru lagi ya?" Papinya Vera sok akrab dengan menepuk pundak Djaduk ringan.
"Mobil itu? Biasa saja om, di rumah ada lima lagi yang kayak gitu. Itu aja tadi aku males makenya, cuma mau manasin aja karena lama enggak dipakai. Aku biasa jalan pakai sedan ku sih om, yang mpv itu paling para supir aja yang make." Keterangan Djaduk makin membuat orang tua Vera berdecak kagum.
Meski penampilannya terlihat ngejreng mentereng tapi, isi dompetnya enggak bisa disepelekan. Ingat rumus ini? Orang kaya itu bebas! Saat yang memakai pakaian seperti itu adalah seorang Djaduk, tak akan ada yang berkomentar buruk. Bahkan mungkin pujian akan datang untuk lelaki itu, meski kebanyakan yang memujinya mengatakan sesuatu kebohongan agar bisa lebih dekat dengan mas Djaduk ini.
"Di mana-mana orang jalan pake kaki! Pamer!" Vera menatap malas.
"Ver! Tunjukan sopan santun mu!" Bentak maminya.
"Oowh ini ya Vera. Cantik. Tapi ya, waktu aku ke Amerika dan Jepang kemarin juga lihat banyak wanita yang lebih cantik dari kamu. Mereka enggak sombong." Djaduk duduk karena terus dipaksa maminya Vera.
"Pasti yang kamu temuin itu si Anabelle sama si Okiku!" Vera menopang dagunya, melihat ke arah lain.
Djaduk hanya tersenyum, senyum mengejek. Dia berpikir, perempuan di depannya ini belum tahu saja siapa Djaduk, Djaduk Mangku Langit seorang kaya raya yang hartanya bisa membelah diri sendiri. Itu hanya perumpamaan karena kekayaannya yang mengalir bagai air terjun.
"Sekarang mas Djaduk sudah kenal dan melihat sendiri betapa cantiknya anakku kan, jadi kapan kita membicarakan kelanjutan hubungan ini? Aku harap sih secepatnya mas Djaduk mengambil keputusan untuk memperistri Vera ya." Tanpa rasa malu maminya Vera berkata demikian.
__ADS_1
"Hmm oke. Minta kapan? Aku nurut aja, besok? Lusa? Minggu depan? Bilang aja. Nanti biar aku kosongin jadwal hilingku." Djaduk tersenyum penuh arti.
Melihat ketertarikan yang nyata di mata Djaduk kepada anaknya, papi dan mami Vera begitu bersemangat. Dia yakin, Djaduk adalah lelaki yang pas untuk jadi ayah sambung Dinda nantinya. Meski sedikit aneh, tapi Djaduk kaya. Dia juga sat set dalam memutuskan sesuatu.
Vera yang mendengar hal itu justru membelalakkan matanya. Bisa-bisanya lelaki itu dengan mudah memutuskan kapan mereka akan menikah tanpa berpikir lebih dahulu. Rasanya dia ingin melampiaskan amarahnya saat ini. Tapi lagi lagi, dia hanya diam saja. Tak suka tapi tak menolak!
____
Di toko, semua karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Karena seperti biasa, toko kue tempat Teguh dan Ervin bekerja tak pernah sepi, ada saja yang datang ke sana untuk menikmati makanan dan minuman yang ditawarkan.
Ervin yang buru-buru mengantarkan pesanan costumer yang memang sudah ditunggu dari tadi, tak sengaja menumpahkan minuman ke sepatu pembeli.
"Astaghfirullah.. Maaf mas enggak sengaja." Ervin menunduk meminta maaf.
"Maaf mas.. Tapi saya tadi beneran enggak sengaja." Bela Ervin.
Di kejauhan, Teguh dan budhe Efa melihat kegaduhan yang sedang terjadi. Budhe Efa masih tak bergeming. Ingin melihat bagaimana cara Ervin mengatasi masalah yang dia buat.
"Ya udah sih, lap aja sepatuku beres kan!!" Senyum merendahkan itu muncul.
Dibayar sekalipun Ervin tak sudi merendahkan harga dirinya dengan mengelap sepatu yang masih dipakai orang itu, apalagi Ervin tahu jika saat ini dia sedang direkam untuk konten si empunya sepatu.
__ADS_1
"Ya udah mas, copot dulu sepatunya. Nanti saya lap. Saya bersihin." Masih bisa menahan diri.
"Wooow banyak ba_cot kamu ya, nyuruh aku lepas sepatu lagi! Mau kamu maling hah? Mahal nih mahaaaal!! Gaess lihat kan muka sengak orang ini, dia cuma pelayan di sini tapi songong banget! Viralin dia gaess.. Bentar namanya.. Ervin! Nah..!!"
Teguh datang. Tanpa permisi dia jongkok dan melepas sepatu yang masih terpasang di kaki si mas. Otomatis gerakan cepat Teguh yang tak diduga tadi nyaris membuat lelaki itu terjengkang. "Oee apa-apaan kamu!! Lancang! Gaess di sini karyawannya gila semua, nyampe jantungan rasanya.. Lihat kan tadi?? Aku mau di hajar sama temennya! Waaah.. Enggak beres nih. Tempatnya bagus sih, tapi yang kerja enggak punya o_tak semua! Saranku-"
Ervin mengambil ponsel si mas yang sedang melakukan live streaming itu. Mematikannya secara paksa.
"Nih mas, udah bersih. Pake lagi! Apa mau aku pakein?" Sorot mata Teguh tak bersahabat saat ini.
"Nyesel aku ke sini!! Gila ya.. Aku laporin kelian semua. Aku tandai kelian! Si_alan!!" Si lelaki pergi. Pergi dengan kedongkolan menyelimuti hati.
Sedang Ervin bisa tersenyum dan tos dengan mengepalkan tangan ke arah Teguh.
"Makasih mas, hampir aja aku hajar tuh orang. Lagi enggak ada sabar-sabarnya aku hari ini mas.. Rasanya pengen cari pelampiasan." Ucap Ervin terus terang.
"Makanya aku ke sini. Dari jauh tadi aku bisa lihat kamu udah nahan diri buat enggak banting kursi ke muka tuh orang kok."
Keduanya tertawa. Lagi asyik ketawa, pengeras suara yang tadinya memutar musik asik, jadi berubah dengan suara budhe Efa yang memanggil Teguh dan Ervin ke ruangannya.
"Maaf mas... Mas jadi kena masalah gara-gara aku.." Kebahagiaan sesaat diganti perasaan menyesal.
__ADS_1
"Yo wes lah.. Kita hadapi aja, emang kita juga salah kok. Yok!" Teguh melangkah lebih dulu.