Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 54. Terkacangi


__ADS_3

Tiga hari setelah pernikahan Ervin dan adiknya budhe Efa, Caca.. Ervin kembali bekerja. Senyum Ervin seperti matahari di siang hari, begitu menyilaukan. Pertanyaan beberapa orang yang dia lewati dijawab dengan sangat ramah.


"Hai maskuuuuh.. Ayem kombek nih (i'm comeback) Kangen diriku tak maaass??" Ervin merangkul Teguh dari belakang.


"Enggak usah sok manis. Kerjaan banyak. Awas." Teguh cuek. Senyum Ervin hilang seketika. Dia kena mental digituin sahabatnya.


"Mas.. Kok kamu gitu sih mas.. Enggak tanya aku gitu? Tanya lah mas.. Aku lagi suka ditanya-tanya lho ini.." Menghadang Teguh yang membawa list pesanan di tangannya.


"Iya nanti aja sesi tanya jawabnya. Ini udah siang, aku tak kerja dulu." Seperti tak menganggap Ervin ada. Teguh berlalu pergi meninggalkan Ervin dengan mulut maju karena manyun.


Tujuan selanjutnya adalah ruang kerja budhe Efa, sang kakak ipar tersayangnya. Kakinya melangkah mantap. Terbit lagi senyum yang tadi hilang, baru mau mengetuk pintu.. Matanya membulat sempurna melihat kertas yang ditempelkan di depan pintu dengan tulisan 'SIAPA SAJA BOLEH MASUK JIKA ADA KEPERLUAN YANG BENAR-BENAR PENTING, KECUALI ERVIN!!'


"Apaan? Kenapa diskriminatif banget sama aku gini, budhe eh kakak.. Hiiie kok serem manggil dia kakak ya.. Bud- Eh.. Kakaaaak.. Kakaaaak aku salah apa kok enggak boleh masuk?? Aku udah kerja ini lho, enggak kangen apa sama aku??? Bud- Aaah mulut.." Ervin mengetok pintu ruang kerja budhe Efa secara bar-bar.

__ADS_1


"Mas.. Kata budhe Efa mas Ervin di suruh bantu mbak Ana nyetaplesin kardus di belakang." Seorang karyawan menepuk pundak Ervin.


"Dieh apaan?! Nyetaples kerdus?? Enggak mau lah.. Kok abis nikah malah turun pangkat gini aku, bud- hiiiih ini mulut kenapa bad bud bab bud mulu lah," Ervin menepuk mulutnya sendiri.


"Kak Efa yang cantik jelita bak bulan purnama di tengah hamparan padang yang panas membaraaaaa.. Aku mau kerja lah, ini aku mok ya ditemui dulu... Di suruh apa gitu lho bud- Aaah.. Sutris (Stress) aku lama-lama kayak gini. Itu adikmu bisa makan nasi aking sama bekatul kalau aku enggak mok kasih kerjaan! Lagian aku salah apa sih, kok kayaknya pada jutekin aku gini.." Ervin masih berada di depan ruangan budhe Efa.


"Tadi mas Teguh cuek sama aku.. Sekarang giliran kakak ipar cantikku... Tapi kalau dia sih enggak heran, tiap hari juga nyuekin aku." Bergumam kecil.


Tak ada yang merespon. Dia menyerah, kakinya dilangkahkan ke bagian paling belakang toko. Di sana ada beberapa karyawan yang sibuk menata kardus, menempelkan label dan stiker untuk box, kardus dan beberapa tempat lain.


"Kamu ngapain ke sini Vin? Adik ipar bos kok malah disuruh ke belakang," Ucap mbak Ana melihat Ervin sekilas lalu meneruskan aktifitasnya kembali.


"Yang bos budhe Efa. Aku cuma jongos di sini An. Kamu ngapain sih itu, ajarin aku dong.. Biar aku bantu nanti kalau udah bisa." Ervin memperhatikan mbak Ana yang melipat kardus unik berdesain khusus yang diperuntukkan untuk bungkus kue-kue kecil toko mereka bekerja.

__ADS_1


"Udah enggak usah. Kamu tempelin stiker aja yang gampang." Jawab mbak Ana enteng.


'Ya Allah.. Beneran dah... Dari supir kok anjlok ke tukang tempel stiker. Ini berkah apa musibah sih?' Ucap Ervin dalam hati.


'Apa budhe Efa lagi ngeprank aku ya? Siapa tahu bentar lagi aku di panggil buat naik jabatan, jadi aspri dia misalnya. Eh tapi enggak mau lah.. Jadi asprinya bisa tegangan tinggi tiap hari aku nanti.' Masih dengan pikirannya sendiri.


"Manten baru kok murung gitu, kenapa? Harusnya seneng dong Vin.." Ana bertanya dengan tangan bergerak cepat merangkai lipatan kardus menjadi benda yang bisa digunakan untuk tempat makanan.


"Tadinya aku seneng An.. Tadinya.. Tapi pas ke sini ya, lihat mas Teguh.. Aku sapa dia, dia cuek. Aku mau tanya ke budhe Efa, dikasih tugas apa aku hari ini.. Di pintu kantornya ditulisin.. Siapa aja boleh masuk asal bukan aku. Emangnya aku salah apa sama dia? Kok gitu amat sama aku? Malah dari si Lusi aku dikasih tahu kalau harus ke sini bantuin kamu. Kan sueeee banget!! Mau dikasih makan apa itu nanti biniku kalau aku kerjanya makin enggak jelas gini.." Panjang lebar Ervin menjelaskan.


"Gaji bulanan kita sama aja Vin. Mau kamu bagian cuci piring, waiters, kasir, supir, petugas kebersihan, semua kan sama. Ya dinikmati aja lah." Jawab Ana tak begitu tertarik dengan curhatan Ervin. Mukanya datar saja.


"Tapi kalau supir kan ada plus plus nya An.. Ah elah kamu mah enggak plen (friend)" Masih merengut.

__ADS_1


"Terserah mu lah Vin." Ana balik cuek.


'Ini perasaan ku aja apa emang aku dicueki seluruh manusia di toko ini sih? Ya Allah... Baim salah apa Ya Allah.. Baim minta maaf Ya Allah.. Baim enggak bisa diginiin.. Eh namaku kan Ervin yak.. kok jadi Baim sih! Aah sueee banget lah!!'


__ADS_2