
Dipimpin oleh pak Jatmiko, usaha milik Gendis mengalami perubahan. Banyak yang mengeluh tentang cara kepimpinan pak Jatmiko itu. Apalagi Ervin, pemuda yang akan menjadi seorang ayah itu kerap kali ngedumel di setiap kesempatan.
"Kok aneh ya, masa dia sering minta dibungkusin kue dari sini. Emang dia enggak pernah makan kue apa? Mana enggak bayar lagi." Keluh sang kasir yang sekarang ada di depan Ervin.
"Masa sih? Kok kamu enggak lapor mbak Gendis aja?" Ervin mulai geram dengan cerita yang dia dengar.
"Katanya dia udah ijin mbak Gendis mas.. Aku mana berani bantah." Tutur sang kasir selanjutnya.
Yang diomongin muncul, dia berdehem agar seluruh mata tertuju padanya. Usahanya berhasil, sekarang dia menjadi pusat perhatian. Saat mata Ervin bertemu dengan mata empat milik pak Jatmiko, Ervin langsung menatap lelaki itu seolah ingin mengajak duel.
"Siapa nama kamu? Kenapa lihat aku kayak gitu? Udah bosan kerja di sini?" Tantang pak Jatmiko mulai tak suka dengan cara Ervin melihatnya.
"Kenapa pak? Enggak suka dilihatin?" Jawab Ervin jutek.
"Jangan kurang ajar kamu ya, aku boleh baru kerja di sini tapi aku tetap atasan kelian di sini! Ingat.. Apa yang kelian kerjakan semua itu tak luput dari pantauan ku. Jika kelian masih mau bekerja di sini, jaga tingkah laku kelian!! Ngerti??!" Bentak pak Jatmiko, tak ada yang menjawab ucapannya.
"Kamu.. Ikut aku ke dalam. Yang lain kembali kerja! Kalau udah enggak suka kerja, tinggal ngomong. Dengan senang hati aku ucapkan selamat tinggal pada kelian!" Ucap pak Jatmiko lantang.
Sekali lagi tak ada yang berani menjawab. Ervin berada di ruangan pak Jatmiko, setengah jam dia mendapat siraman kalbu dari beliau. Keluar dari ruangan itu, banyak pasang mata memperhatikannya.
__ADS_1
"Diomelin?" Tanya Teguh.
"Enggak mas. Dia cuma ngajak kenalan hehehe."
Ervin berbohong, di dalam tadi dia mendapat teguran keras dari pak Jatmiko. Dia dianggap sebagai provokator yang memancing karyawan lain untuk menentangnya.
"Vin, mending kita jalani aja pekerjaan kita sebagaimana mestinya. Asal tugas yang diberikan tak menyalahi peraturan dari mbak Gendis ya kita manut aja."
"Kedepannya kamu akan butuh banyak biaya. Butuh banyak uang untuk segala keperluan rumah tanggamu. Jangan sampai emosi sesaat mu itu membuat kamu diberhentikan dari sini." Sebisanya Teguh memberi nasehat kepada Ervin yang mukanya sudah semerah tomat karena menahan emosi.
"Iya mas. Makasih ya.. Huuft mungkin aku cuma kangen budhe Efa. Si Ijat itu terlalu kaku dan seakan enggak menghargai orang. Aku pikir budhe Efa udah tergolong manusia kanebo kering ternyata masih ada yang lebih parah dari dia." Kata Ervin menenangkan hatinya.
Acara lamaran sederhana selesai, tanggal pernikahan juga sudah di depan mata. Vera seakan menutup mata dan telinga dari gunjingan orang kepadanya. Baginya, bahagia itu diciptakan oleh dirinya sendiri. Dia bahkan tak peduli saat papinya menegurnya karena terlalu mengekspos kedekatannya dengan Theo.
"Kamu ini punya anak perempuan Ver, bagaimana kalau tingkah laku mu itu ditiru Dinda? Masa kamu enggak malu berciuman seperti tadi di depan umum??" Papinya bahkan tak habis pikir dengan kelakuan Vera.
"Kenapa emang? Theo kan calon suamiku pi, wajar lah kami menunjukkan pada orang kedekatan kami." Ujarnya santai.
Kepala papinya Vera mendadak pening, pusing melihat Vera yang sudah lepas kontrol tak bisa diatur.
__ADS_1
"Baru calon suami Ver, kita enggak pernah tahu kamu bakal berjodoh dengannya atau tidak. Kamu ingat? Dulu kamu hampir saja menikah dengan Djaduk tapi di hari pernikahan kelian, Djaduk malah membatalkan pernikahan yang sudah di depan mata. Belajarlah dari pengalaman itu!" Tambah papanya Vera memberi nasehat.
"Aku malah bersyukur enggak jadi nikah sama makhluk purba itu pi.. Papi lihat Theo dong.. Masa bandingin Theo sama makhluk purba itu sih?? Enggak jelas deh papi nih." Vera memutar bola matanya malas.
"Terserah kamu Ver.." Menyerah. Papinya Vera menyusul istrinya menuju kamar. Rasa penat dan pening melihat kelakuan anaknya akan dia lampiaskan dengan tidur mengarungi mimpi malam ini.
"Pak.. Ini dari bulek Vera." Ayu menaruh nasi kotak di atas meja. Ada beberapa jenis kue juga di sana.
"Makan aja Yu. Bapak udah makan tadi." Teguh duduk bersila setelah selesai menyetrika pakaian.
"Makan apa pak?" Ayu membuka bungkusan nasi kotak itu. Ada nasi, rendang, acar, telur bacem dan kerupuk sebagai pelengkapnya.
"Nasi Yu, soalnya bapak enggak doyan makan kerikil." Gurau Teguh yang langsung membuat Ayu mengukir senyum.
"Pak kalau nanti bulek Vera gagal nikah lagi gimana ya pak?" Ayu bertanya sambil berjalan menuju dapur.
"Ya enggak tau Yu. Kalau gagal lagi ya berarti enggak jodoh." Jawabnya santai.
"Kirain bapak mau bilang, kalau gagal ya coba lagi gitu." Diikuti gelak tawa Ayu. Teguh ikut tertawa mendengar gurauan anaknya.
__ADS_1