
Di sebuah bangku tua, tengah duduk seorang lelaki yang sudah lama menyandang status duda. Lelaki itu diam seperti memikirkan sesuatu dalam dirinya.
"Pak.." Panggil Ayu kepada bapaknya yang sejak tadi diam tanpa kata.
"Hmm iya Yu." Tak biasanya Teguh seperti ini.
"Bapak kelihatan berbeda sejak pulang kerja tadi, jadi pendiem banget. Kayak ada sesuatu yang dipikirin gitu. Ada apa pak? " Tanya Ayu penasaran.
Teguh yang awalnya enggan berbagi cerita tapi, akhirnya terdorong untuk membagi kisah Sakti kepada Ayu. Ayu diam mencermati cerita bapaknya sambil menebak ke arah mana sebenarnya inti dari pembicaraan tersebut.
"Jadi bapak mau nikah sama ibunya Sakti gitu pak?" Ayu mencoba menebak isi hati bapaknya.
"Bukan nduk.." Sangkal Teguh.
"Bapak ingin meringankan beban di hati bapak ini, rencananya bapak mau menyekolahkan Sakti hingga lulus sekolah. Semoga saja bapak masih dipercaya Allah dengan menitipkan sedikit rejeki sehingga bisa menuntaskan pendidikan Sakti nanti sampai gerbang universitas."
"Bapak merasa bersalah.. Dan selalu berpikir jika semua yang terjadi pada ayahnya Sakti adalah kesalahan bapak.." Lanjut Teguh.
__ADS_1
"Pak kita semua juga tahu.. Kematian itu adalah rahasia Allah. Jika malam itu bapak ndak minjemin jaket kepada om Wibi pun pasti om Wibi juga akan meninggal. Semua itu sudah digariskan. Apabila seorang hamba belum digariskan harus meninggal, meski jantungnya terhunus pedang pun pasti akan tetap hidup atas kuasa Allah SWT." Ayu berkata bijak.
"Tapi, Ayu setuju dengan niat baik bapak menyekolahkan Sakti. Nanti Ayu juga akan bantu-bantu ya pak, Ayu udah lulus.. Ayu pengen langsung kerja aja. Kemarin Ayu dapat panggilan kerja di dua PT sekaligus pak.." Terang Ayu dengan senyum teduhnya.
"Ndak Yu. Kamu harus nerusin kuliah, kebutuhan manusia terhadap ilmu jauh lebih besar dari pada kebutuhannya terhadap makan dan minum, karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan sekali atau dua kali saja dalam sehari, sedang ilmu, dibutuhkan dalam setiap embusan napas. Kamu tahu, orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." Bapak satu ini meski membesarkan anak seorang diri, dia selalu berusaha memberikan semua hal terbaik yang dia punya.
Demikian juga dengan ilmu, dia ingin anaknya menimba ilmu sedalam mungkin. Karena dirinya dulu tak memiliki kesempatan untuk hal itu, dia tak ingin anaknya juga mengikuti jejaknya yang hanya menjadi lulusan sekolah menengah atas saja.
Obrolan selesai, malam semakin larut dan Ayu sudah berada di kamar untuk beristirahat. Sedangkan Teguh, dia masih setia duduk di atas sajadahnya. Terus menasbihkan sholawat untuk nabi Muhammad SAW. Dan di sepertiga malam, dia pun melakukan sholat dan berdoa untuk mendiang istrinya. Seseorang yang selalu bertahta di hatinya. Berharap suatu saat dirinya akan dipertemukan kembali dengan sang bidadari surga.
____
Tak ada amukan atau bentakan untuk Damai.. Karena budhe Mimin ikhlas menerima keadaan Damai sejak Damai lahir. Baginya Damai adalah anak yang istimewa.
"Buk.. Maafin aku ya.. Aku nyusahin ibuk terus." Ucap Damai ketika budhe Mimin sudah siap berangkat bekerja.
"Kamu ini ngomong apa to nduk, ndak ada itu kata nyusahin. Kamu sudah sangat membantu ibu. Dan ibu pengen ucapin terimakasih untuk bantuan kamu, yo?"
__ADS_1
Damai tersenyum. Melambaikan tangan ketika ibunya sudah keluar dari rumahnya untuk menyusul rejeki hari ini.
Di sambut dengan sepiring nasi goreng, budhe Mimin hampir tak percaya jika yang di depannya adalah Vera, majikannya.
"Apa ini bu? Bu Vera kelamaan nunggu bulek pasti ini ya, sampai bikin nasi goreng sendiri." Ucapnya tak enak hati.
"Bukan bulek. Itu nasi goreng buat bulek sarapan. Aku udah tadi. Rumah juga udah rapi, udah nggak ada yang perlu diberesin.."
"Maksudnya gimana bu? Apa bu Vera minta saya berhenti bekerja dari sini?" Terjadi percakapan antar keduanya.
"Nggak gitu. Aku semalem nggak bisa tidur. Dari pada bingung mau ngapain ya aku beres-beres rumah aja. Kalau ada Dinda, aku nggak akan bingung gini bulek." Tersenyum sendu.
"Aneh.. Dulu aku anggap Dinda itu berisik, tiap dia memanggilku, berteriak ingin diperhatikan oleh ku, aku acuh. Aku cuek. Aku bahkan sering membentaknya. Tapi, sekarang aku rindu suara itu, suara panggilannya untukku.. Aku lah ibu yang gagal. Semua meninggalkanku kecuali Dinda, tapi sekarang saking kesalnya dia kepadaku, Dinda bales ninggalin aku untuk pergi jauh.. Saking jauhnya sampai dia sendiri tak bisa kembali lagi." Air mata yang keluar hingga kering pun tak akan mengembalikan Dinda kepadanya.
"Bulek.. Di rumah kamu ada siapa aja?" Tanya Vera kemudian.
"Hanya Damai bu, Sinar sudah menikah. Dia sendiri kalau saya belum pulang bekerja." Jawab budhe Mimin terus terang.
__ADS_1
"Ajak aja Damai tinggal di sini bulek. Lagian aku juga udah nggak punya siapa-siapa lagi, percuma rumah segede ini ditinggali aku seorang aja.."
Antara percaya dan tidak percaya, budhe Mimin masih belum bisa mengiyakan atau menolak ajakan Vera barusan.