Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 94. Kenyataan


__ADS_3

Setiap hari adalah penantian untuk Vera. Dia berharap setelah operasi yang dia jalani beberapa hari lalu bisa kembali menautkan asanya untuk bisa melihat seperti sedia kala.


Saking hebohnya dengan euforia itu, Vera sampai belum bertanya tentang keadaan Dinda di hari ke empat pasca operasi.


Dokter mengatakan setelah enam hari perban di matanya bisa dibuka. Tak sabar Vera mengetahui hasil operasi yang dia jalani.


"Mas.. Kira-kira siapa ya yang donorin mata ke aku? Aku kasih apa nanti ya sama keluarganya?" Vera bertanya pada Djaduk yang ada di sana, menungguinya.


Djaduk diam tak menjawab. Hal itu ditanggapi Vera dengan mendengus kesal.


"Oiya, Dinda gimana kabarnya mas? Bulek Mimin juga jarang ke sini sekarang, apa Dinda udah pulang?" Tanyanya lagi. Tapi, meski ada di sana Djaduk tak mengeluarkan sepatah katapun.


"Kamu kenapa sih mas? Dari tadi diem aja! Mending enggak usah di sini kalau cuma diem kayak patung!" Vera ngambek lagi.


"Memang kenapa kalau kamu tahu siapa yang donorin mata ke kamu? Mau kamu ganti apa matanya nanti?" Tanya Djaduk membuat Vera kelimpungan. Dia sendiri bingung, dengan apa dia berterima kasih nanti kepada orang yang bersedia mengorbankan cahayanya untuk orang lain.


"Apa pendonor mataku korban kecelakaan mas?" Vera hanya fokus tentang hal yang sama, tentang siapa pemilik kornea mata yang sekarang berada di matanya.


"Kamu cukup doakan saja yang terbaik untuk pendonor matamu itu." Djaduk agak kesal. Menghadapi istri keduanya ini butuh kesabaran ekstra. Dan dia hampir kehabisan stok sabar dalam dirinya.


"Bulek Mimin kenapa nggak pernah nengok aku ya mas?" Vera kembali membuka obrolan, entah kenapa dia jadi cerewet sekali hari ini.


"Sibuk. Nggak semua orang bisa ngurusin kamu." Djaduk sudah terdengar tak ramah. Tahu lawan bicaranya ada pada mood terendah, Vera mengalah dan diam.


Seminggu sudah pasca operasi, Vera tak sabar ingin mengetahui hasil operasi. Dia antusias sekali ingin segera melihat.


"Perlahan buka matanya ya bu, jangan terburu-buru. Sesuaikan dulu dengan kemampuan mata bu Vera." Dokter sudah membuka perban di mata Vera.

__ADS_1


Vera gugup, dia ingin segera membuka mata tapi cahaya yang masuk mendadak saat dia membuka mata membuat matanya perih. Kembali dia pejamkan matanya, dia kembali mengulang apa yang tadi dia lakukan hingga senyum tercetak di wajahnya.


"Mas.. Aku bisa lihat mas..!" Vera melihat ke sekeliling, hanya menemukan Djaduk di sana.


"Mas, mana Dinda? Dia nggak ke sini?" Djaduk menggeleng sekenanya.


"Kenapa? Bukannya dia udah pulang! Dia itu benar-benar anak nggak tahu di untung, mamanya sakit aja nggak ada perhatiannya sama sekali! Pantes lah dia kayak gitu, kumpulnya saja sama si dekil!! Aku-"


"Diem Ver!! Bisa diem nggak???" Bentakan Djaduk menggema di telinga Vera. Dokter sudah meninggalkan ruangan Vera setelah memastikan keberhasilan operasi yang timnya lakukan.


"Kamu bentak aku mas???" Tak kalah sengit. Vera ikut melepas emosi yang dia tahan beberapa hari belakangan karena merasa anaknya tak perhatian padanya.


"Kamu udah bisa lihat kan? Itu yang kamu mau, iya kan? Dan.. Sekarang aku mau ajak kamu nemui anakmu. Dia enggak bisa ke sini, biar aku yang ajak kamu ke tempatnya. Biar kamu tahu kenapa dia tak menemui mu beberapa hari belakangan ini."


Muka Djaduk terlihat datar tapi menyimpan amarah mendalam. Tadinya dia masih menaruh iba pada Vera tapi, Djaduk tak bisa menahan diri lebih lama ketika Vera terus menyudutkan Dinda dengan semua argumennya yang butuh pembenaran.


"Kita ngapain ke sini mas?? Kita mau ngapain?? Mas.. Aku nggak suka kamu bercanda kayak gini!!" Hatinya sudah merasakan ketidakberesan, tapi sebisa mungkin Vera menepis pikirannya.


"Mas!! Jawab.. Kenapa kita ke sini!?" Vera makin cepat mengikuti langkah kaki Djaduk. Dia tahu tempat ini, di sinilah mantan suaminya dimakamkan. Lalu untuk apa dia diajak ke sini?


"Assalamu'alaikum manis.. Maaf om baru bisa ke sini lagi, manis.. Ini om bawa makmu ke sini.. Dia udah bisa lihat lagi.. Makasih atas sinar yang kamu titipkan untuk makmu. Kamu bisa tidur dengan tenang di sana ya.. Kamu jangan sedih, jangan kepikiran tentang makmu, dia masih jadi tanggung jawab om sampai makmu bosan sendiri." Lirih Djaduk setelah tiba di gundukan tanah yang masih basah dengan taburan bunga nampak layu. Djaduk menaburkan banyak bunga di atas makam Dinda, mengguyur air mineral setelahnya.


Air mata Vera mengalir deras. Dia sempat teriak tak percaya. Mengais kuburan dengan tangannya seolah ingin memastikan jika yang telah berbaring abadi bukanlah Dindanya.


"Apa ini??? Dindaaaa... Apa ini?? Lelucon apa yang kamu kasih ke mamah?? Bangun nak.. Maafin mamah.. Dinda.. Dindaa... Maafin mamah.." Dia berteriak. Dia histeris. Bahkan memukul sendiri dadanya yang sesak. Seakan oksigen malas melewati paru-parunya.


"Dindaaa.. Mamah nggak pengen kamu lakuin ini semua buat mamah nak, kalau tahu kamu yang akan ngasih penglihatan mu untuk mamah, mamah lebih milih buta seumur hidup.. Maafin mamah.." Dia terus meratapi kepergian anaknya.

__ADS_1


Djaduk hanya bisa melihat dari jarak tertentu karena dia sempat diamuk karena berusaha menenangkan istrinya itu.


"Buat apa mamah bisa lihat kalau kamu malah ninggalin mamah.. Kenapa semua jadi seperti ini??? Lelucon apa yang Engkau berikan padaku ya Allah??? Seumur hidup ku, hanya Dinda yang bikin aku bertahan.. Pura-pura bahagia menikah dengan laki-laki beristri.. Buat siapa??? Buat siapa aku lakukan semua itu? Aku nggak ingin kamu hidup kekurangan nak.. Bangun sayang.. Maafin mamah, selama ini mamah nggak punya waktu buat kamu.." Tangisan itu makin lama makin pilu.


Djaduk yang melihat hancurnya seorang ibu yang kehilangan anaknya hanya bisa diam, sedih sudah pasti. Tapi memberi waktu untuk Vera meluapkan emosinya adalah pilihan yang diambil Djaduk.


Jika ingin melihat hancurnya seorang ibu, maka pisahkan dia dengan anaknya. Ibu akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya bahkan mengorbankan kebahagiaan serta nyawanya pun tak akan dipikir dua kali agar sang anak bisa mendapatkan sesuatu terbaik di hidupnya. Tapi, jika perpisahan abadi yang Vera dapatkan hanya raungan serta ratapan tangis sebagai tanda penyesalan mendalam.


-----Mamah-----


Mah.. Ijinkan aku berbakti padamu


Meski bakti ku tak sesuai dengan apa yang mamah mau


Aku ingin mamah selalu tahu jika aku sayang kamu mah


Aku tak sepintar yang lain, aku tak pernah membanggakan mu, aku juga sering membuat mu kecewa


Tapi mah, saat kelakuan ku seperti itu.. Aku hanya ingin perhatian dari mu


Pelukanmu, belai lembut di rambut ku, serta senyum manis yang hanya untuk ku


Mah.. Aku lelah.. Ijinkan aku tidur..


Mengarungi mimpi meski ku tahu, aku takkan bangun lagi


Berharap ketenangan bisa ku raih nanti

__ADS_1


Mah.. Maafkan aku, bakti ku padamu hanya sampai di sini...


__ADS_2