Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 132. Terungkap


__ADS_3

Sudah beberapa hari setelah Selvi keluar dari penjara dan Teguh kembali ke rumah. Banyak hal yang terjadi setelah itu. Orang tua Selvi belum tahu tentang kehamilan anaknya, mereka juga tidak tahu jika putri semata wayang mereka pernah bermalam di hotel prodeo.


Teguh, dia yang berperan penting menjaga rahasia Selvi. Untuk saat ini semua masih bisa ditutupi. Tapi mau sampai kapan? Teguh tak bisa terus menerus menutupi kebenaran yang seharusnya orang tua Selvi juga mengetahuinya.


Tak sampai hati rasanya Teguh menceritakan semua peristiwa yang menimpa dirinya juga Selvi kepada pak Darmaji atau bu Indun. Kedua sepuh itu sudah banyak pikiran dan beban hidup, juga.. Hanya mereka lah yang Teguh punya sebagai pengganti orang tuanya. Teguh ingin egois sekali ini saja. Tidak tahu bagaimana dan apa yang terjadi nanti, dia ingin sedikit menjaga hati paklek serta buleknya saja.


Jangankan pada kedua orang tua itu, pada Ayu saja Teguh tak memberi tahu perihal kehamilan Selvi. Teguh tak tahu nantinya hal ini akan menjadi masalah atau tidak untuknya. Dia ingin mencari waktu yang tepat, mungkin saat Selvi sudah tak mampu lagi menutupi kehamilannya dengan perut yang makin membesar itulah saatnya dia bercerita kepada kedua orang tua Selvi.


"Kerja yang fokus! Kamu salah nulis angka sebiji aja bisa lain ceritanya! Yang kena omel bukan cuma kamu tapi juga orang lain yang kirim pesanan." Budhe Efa akhir akhir ini sering ke tempat kerja Teguh.


Apalagi setelah Teguh ijin tak masuk kerja lima hari, hal itu menjadi tanda tanya besar. Kenapa dia sampai ijin selama itu? Ada urusan apa?


Budhe Efa bukan orang yang mudah dibohongi, dengan semua pelajaran hidup yang menempa dirinya hingga sepeka ini, beliau bisa tahu jika Teguh sedang dalam masalah. Tidak baik-baik saja!


"Maaf budhe, ini ada beberapa hal yang harus dicocokkan.. Hmm permisi." Teguh ingin pergi, menepi dari keramaian adalah tujuannya.


"Mau kemana? Sini, Liat draft mu dulu!" Teguh lantas menyerahkan map yang dia bawa.


Budhe Efa jeli menemukan kesalahan meski itu sebesar tanda titik sekalipun.


"Ini pesanan sudah terkonfirmasi kemarin, kenapa kamu tulis dobel? Kayak gini kok bilangnya nggak ada apa-apa!" Budhe Efa memang suka bicara lantang. Itu sudah jadi ciri khasnya.


"Astaghfirullah.. Iya, nanti aku ganti budhe. Untung budhe ingetin, kalau nggak bisa salah kaprah ini." Senyum itu sangat terlihat terpaksa untuk timbul. Tapi, tak apa dari pada mukanya kempeng tanpa senyum. Budhe Efa lebih suka jika orang yang sudah dianggap adiknya itu bisa mengulas sebaris senyum. Lebih enak dipandang mata, katanya.

__ADS_1


"Dari tadi nggak fokus, apa karena Selvi bikin Ervin di pecat dari sini?" Tanya budhe Efa ke inti pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya.


"Terlalu banyak yang aku pikirin budhe. Itu juga termasuk di antaranya, " Pundak itu telah berat dengan beban hidup yang terus membuatnya menunduk dengan kata sabar dan ikhlas.


"Ada apa? Cerita aja." Budhe Efa menarik kursi yang dia jadikan tempat duduk agar nyaman untuk dia duduki.


Dengan segala pertimbangan yang ada, dia menceritakan apa yang dia alami sewaktu meminta ijin tak masuk kerja beberapa hari yang lalu. Semua dia ceritakan. Tak ada yang dia tutupi. Saat menyelesaikan cerita itu pada budhe Efa rasanya separuh bebannya sedikit berkurang.


"Jadi dia hamil benih kecebong si dukun yang membantunya menggunakan ilmu hitam? Aku juga nggak percaya kalau Ervin suka tanam saham sembarangan. Meski dia biasa sesukanya sendiri, tapi dia tau mana yang pantas atau tidak pantas dia lakukan." Budhe Efa memberi komentar.


"Lalu sekarang gimana? Kamu harus memberi tau pada orang tua Selvi, mereka juga berhak tau kalau mau punya cucu." Lanjut budhe Efa.


Belum selesai bercerita kepada budhe Efa, Teguh kaget dengan kehadiran pakleknya berjalan terburu-buru menuju arahnya.


"Guh.. Bulek mu, bulek mu muntah darah.. Tadi aku bawa ke klinik katanya di suruh bawa ke rumah sakit besar saja..."


"Astaghfirullahalazim.. Ya udah paklek ayo aku anterin ke rumah sakit-"


Tangan pak Darmaji menahan langkah Teguh.


"Bulek mu sudah di rumah sakit.. Tadi orang klinik nganterin aku sama bulek mu ke rumah sakit pake ambulan." Pak Darmaji melihat sekeliling, netra tuanya menangkap sosok budhe Efa yang menundukkan kepala seakan memberi salam padanya.


"Guh.. Aku ndak punya uang, cuma ada rumah sama sawah itu saja.. Kalau nanti bulek mu butuh banyak biaya, tolong kamu bantu jualin ya," Teguh nampak terkejut dengan pernyataan pakleknya.

__ADS_1


"Paklek gini aja.. Untuk biaya, jangan dipikirin. Nanti biar aku yang tanggung semuanya. Lalu sekarang, bulek siapa yang jagain?" Teguh berpikir jika pasti Selvi yang menjaga ibunya di rumah sakit. Tapi dia terkejut dengan jawaban pakleknya.


"Selvi pergi dari kemarin Guh, aku sudah pusing sama kelakuan bocah satu itu. Ibunya sampai kayak gini juga kepikiran Selvi terus. Tapi yang dipikirkan ndak pake otaknya. Guh, aku ke sini bukan mau ngemis.. Aku ngasih tau kamu, buat jualin ini aja. Aku sengaja bawa, soalnya dari kemarin Selvi tanya uang terus. Minta sertifikat rumah, padahal yang kami punya cuma ini."


Tangan berkeriput termakan usia itu mengeluarkan kertas yang tersimpan di plastik hitam yang dia bawa. Budhe Efa yang tahu jika mereka ingin membicarakan masalah yang bisa dibilang privasi, beliau sudah pergi sejak pak Darmaji bercerita tentang kondisi istrinya.


"Guh, bulek mu kemarin nemuin baju yang dikubur di samping rumah. Baju lengan panjang, masih bagus.. waktu dibuka buntalan yang dikubur bersama baju itu... Bulek mu nemuin ini," Ada boneka dari kain yang sudah lusuh dan kotor yang diperlihatkan pak Darmaji kepada Teguh.


"Astaghfirullah.."


Teguh melihat benda yang dibawa pakleknya. Mengambilnya dan menerka apakah semua ini ada hubungannya dengan Selvi yang terobsesi kepada Ervin.


"Bakar aja Guh." Ucap budhe Efa berdiri di belakang pak Darmaji dan membawa segelas air.


"Itu bentuk menyekutukan Tuhan. Meminta tolong pada setan, akibatnya bukan hanya tersesat di dunia tapi juga menderita di akhiratnya." Kembali berseloroh.


"Tapi siapa yang berbuat seperti ini mbak?" Tanya pak Darmaji kepada budhe Efa.


"Nuwun sewu pakdhe.. Tanpa mengurangi rasa hormat tapi yang aku lihat, semua ini bersumber pada Selvi. Anak pakdhe sendiri."


Mendengar hal itu, pak Darmaji merasa kepalanya seperti kena hantam palu. Kenapa di usia tuanya masih harus berkutat dengan masalah yang menguras emosi serta kesabarannya seperti ini..


"Ya Allah.. Nduk.. Kamu udah salah langkah, salah kaprah.."

__ADS_1


__ADS_2