Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 48. Bertemu Lagi


__ADS_3

Gadis itu duduk dengan anggun di depan toko tempat kerja Ervin. Tak melakukan apapun saja sudah terlihat anggun, apalagi saat dia tersenyum simpul menerima daftar menu yang diberikan karyawan di sana.


Ervin awalnya tak memperhatikan siapa saja yang datang untuk sekedar nongkrong di toko, tapi saat namanya dipanggil rasa penasaran itu muncul. Ervin mengernyitkan dahi karena merasa tak mengenal perempuan yang duduk menatapnya.


"Iya mbak.. manggil aku?" Ervin masih terpaku di tempat.


"Lupa sama aku Mpin?"


Seketika Ervin terkejut. Mpin.. Hanya orang di dunia halu saja yang mengenalnya dengan nama itu. Siapa dia? Ervin merasa tak mengenal perempuan yang sekarang menatapnya dengan intens.


"Delavona. Kamu beneran udah lupain aku?" Tanyanya untuk kedua kali.


Jantung Ervin berdegup kencang. Nama itu tak asing. "Avon?" Tanya Ervin tergagap.


Senyum miring itu makin membuat Ervin kalang kabut. Delavona atau Avon adalah pacar onlennya yang beberapa bulan lalu datang ke sini, juga di siang hari seperti sekarang ini hanya untuk mencari Ervin. Dan dengan teganya Ervin malah memilih bersembunyi dari pada menemui gadis gendut yang sekarang terlihat seperti orang lain. Terlalu banyak perbedaan antara Delavona yang dulu dan sekarang.


"Maaf.." Kata yang terucap dari bibir Ervin.


"Untuk apa?" Tanya Delavona.


"Kamu pasti anggep aku orang jahat banget. Kamu jauh jauh ke sini dulu buat nemuin aku malah aku nya.. Aku-"

__ADS_1


"Ngumpet? Karena fisikku? Aku tahu. Tapi, aku juga mau ucapin makasih sama kamu Mpin, gara-gara penolakan mu dulu.. Aku termotivasi untuk berubah. Aku jadi ngerti kalau apa yang kamu gaung-gaungkan di chat mu semua itu bohong."


"Mpin.. Dari awal aku tulus sama kamu. Aku enggak peduli kayak apa kamu di rl, aku malah mikir foto yang kamu kasih dulu ke aku itu bukan foto asli.. Tapi, setelah ke sini.. Aku sadar Mpin. Selain jelek di matamu.. Aku juga mungkin kamu anggap bodoh."


Panjang lebar Delavona bicara. Caranya bicara juga tidak menggebu-gebu sepertinya gadis itu sudah bisa menguasai diri dengan baik. Mempersiapkan semuanya sebelum menemui Ervin lagi.


"Von.. Aku minta maaf, aku salah." Entah apa yang ingin Ervin utarakan, lidahnya seakan kelu. Semua yang dikatakan Delavona adalah kebenaran. Ya.. Dia memandang Delavona yang dulu tak lain dari fisiknya. Dia tak menyangka perubahan yang terjadi pada diri Delavona mampu menguncang jiwanya.


"Erviiiiin!! Kamu mau ngobrol nyampe kapan?? Bisa-bisanya masih berdiri di situ? Teguh enggak masuk, kamu malas kerja! Kalau emang udah enggak betah kerja di sini bilang aja!!!" Budhe Efa membuat perasaannya makin ambyar.


"Iya budhe ini juga mau jalan." Ucapnya lemas. Yang sebenarnya dia malas beranjak meninggalkan Delavona, dia masih ingin berlama-lama dengan gadis bergigi gingsul itu.


"Kerjanya hati-hati Mpin, jangan banyak melamun. Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum." Setelah selesai mengucapkan salam, Delavona menaruh uang dua ratus ribu di meja untuk membayar apa yang dia pesan tadi tapi belum sempat diantarkan.


Budhe Efa memperhatikan semua gerak-gerik Ervin dari dalam toko. Sangat jelas terlihat Ervin tak semangat hari ini.


"Kenapa? Kamu juga sakit kayak Teguh?" Budhe Efa sudah ada di dekat Ervin.


"Iya budhe sakiiiit sakit semua muanyaaa.. Aaah kesel lah!" Ervin menghentakkan kaki.


"Heh anak muda.. Makanya, jangan nilai orang dari fisik.. Pas gendut kamu sia-siain giliran berubah mirip gitar Spanyol nangis darah kamu udah ninggalin dia." Sindir budhe Efa.

__ADS_1


"Budhe bisa enggak jangan bikin hariku dan hatiku makin hancur? Budhe kayak nyiram bensin ke hatiku yang udah terbakar tahu enggak.. Sakit budhe sakit.." Ervin memegang dadanya.


Di mobil, Ervin sesekali membuka kembali aplikasi yang mempertemukan mereka. Fokusnya terpecah.. Kemana dia bisa menemukan Delavona? Dia ingin meminta maaf dengan cara yang benar.


____


Jangan bayangkan saat sakit seperti sekarang Teguh akan tiduran sepanjang hari di rumah, dia malah sudah dua kali naik turun ke atap rumah untuk mengganti genteng-genteng yang bocor. Semua dia kerjakan sendiri.


Vera yang melihat Teguh baru turun dari atap dengan menggunakan tangga segera berlari ke seberang jalan untuk menghampiri Teguh. Meski sudah punya calon suami tapi, perasaan Vera pada Teguh tak direm sama sekali. Karena dari awal dia berdoa semoga Djaduk tidak jadi menikahinya.


Banyak orang yang ingin segera punya pasangan tapi Vera bukan bagian dari orang-orang tersebut yang menginginkan cepat menikah. Meski perasaannya tak terbalas tapi Vera tetap suka menunjukkan perhatiannya pada Teguh.


"Mas.. Minum dulu" Vera menyodorkan air mineral dingin untuk Teguh. Teguh tak menjawab. Dia hanya mengambil air di tangan Vera. Menaruhnya asal tanpa membukanya.


"Mas.. Kamu enggak cemburu? Aku bentar lagi mau nikah.." Vera seperti belum sadar statusnya.


"Ver, mending kamu pulang aja." Tidak juga menjawab apa yang di tanyakan Vera.


"Mas.. Bilang sekali saja kalau kamu cemburu, aku akan membatalkan pernikahanku." Vera masih berharap sedikit keajaiban datang untuknya.


"Semoga hidupmu bahagia ke depannya bersama suami dan anakmu. Aku masuk dulu."

__ADS_1


Harusnya Vera bisa menebak apa yang akan dia dapatkan jika terus berharap pada Teguh. Hanya kekecewaan dan sakit hati karena pada dasarnya... Bertepuk sebelah tangan itu tak bisa terjadi.


__ADS_2