Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 86. Calon Pesakitan


__ADS_3

Tepat tujuh hari setelah kepergian Wibi, polisi berhasil membekuk satu dari tiga pelaku kasus pembunuhan yang membuat masyarakat merasa geram.


Seorang bernama Timus berhasil diciduk polisi saat akan melarikan diri ke luar kota. Polisi bisa melacak pelaku dari hasil penyelidikan serta dibantu adanya rekaman cctv di tempat kejadian.


Dari rekaman cctv memang tak memperlihatkan jelas wajah pelaku, tapi jangan ragukan kehebatan pihak kepolisian dalam mengungkap kasus ini. Semua tim ahli dikerahkan untuk mengusut tuntas kasus yang masih hangat dibicarakan oleh masyarakat luas itu.


Shopiah datang ke kantor polisi dengan amarah berkecamuk di dada. Dia mendapat kabar jika salah satu pelaku yang mengeksekusi suaminya sudah tertangkap.


Teguh malah lebih dulu ada di sana. Dia bahkan sudah mendengar penjelasan dari polisi tentang Timus dan kawan-kawannya yang salah menargetkan orang. Ya, dia syok.


"Jadi.. Kenapa kamu bunuh suamiku??? Kenapa?? Salah apa dia?? Dosa apa yang dia lakukan sampai kamu tega misahin ayah dari anaknya?? Kamu tahu?! Kamu tahu karena perbuatan mu itu.. Anakku sakit sampai sekarang menanyakan terus di mana ayahnya!!! Dasar penjahat!!!" Shopiah mengamuk saat di hadapkan dengan Timus.


Beberapa polwan dan Teguh berusaha membujuk Shopiah agar tenang dan bisa mengendalikan emosinya.


"Apa kamu punya anak? Apa kamu punya istri? Jawaaab!!! Jawab jangan diem aja?! Jawab pertanyaanku!!" Timus hanya menunduk, lidahnya kelu. Tak mampu dia berkata melawan amarah Shopiah yang meledak-ledak.


"Jika kamu punya anak.. Pasti kamu tahu gimana sedihnya saat kamu akan pergi bekerja, ditangisi anak karena ingin ikut tapi kamu hanya bisa melambaikan tangan dan berjanji bakal pulang esok hari. Tapi... Suamiku enggak akan pulang, dia enggak akan pulang.. Dia nggak bisa pulang kembali bersama anakku karena perbuatan keji mu! Manusia macam apa kamu ini???" Shopiah bahkan berhasil menampar Timus meski sudah dipisah oleh petugas di sana. Emosi membuat Shopiah memiliki tenaga ekstra hingga polisi kewalahan dibuatnya.

__ADS_1


"Maaf bu. Bu Shopiah bisa tenang tidak? Kalau ibu seperti ini, kami malah akan mengantar ibu pulang ke rumah." Salah satu polwan berusaha memenangkan Shopiah yang masih berapi-api.


Setelah agak tenang. Giliran Timus yang dipersilahkan bicara. Lelaki itu bicara sambil menunduk tanpa berani melihat ke arah Teguh atau Shopiah. Nyalinya tiba-tiba menciut dihadapkan amarah seorang istri yang suaminya telah dia lenyapkan.


"Aku cuma di suruh orang... Maaf mbak, sebenarnya aku salah mengenali target. Harusnya.. Malam itu, mas itu yang jadi target kami.. Maaf mas... maaf mbak.. Karena dari awal kita disuruh ngabisin masnya. Malam itu, kami udah ngintai masnya dari awal datang ke rumah sakit. Tapi, pas kami udah berhasil mengeksekusi orang yang kami anggap masnya... Ternyata kami salah orang," Timus menunduk dengan segudang perasaan bersalah di hatinya.


Shopiah kaget bukan main. Mata merahnya akibat amarah dan tangisan langsung menatap tajam ke arah Teguh yang dipanggil 'masnya' oleh Timus.


"Apa? Apa maksud semua ini? Apa maksudnya?? Salah orang gimana? Kenapa bisa salah orang? Salah orang mu itu bikin suami ku meninggal!!! Itu bukan salah orang tapi emang matamu yang buta!! Apa kamu enggak bisa bedain muka suami ku dan dia itu beda???" Secara tidak langsung, Shopiah lebih ingin jika Teguh saja yang menjadi korban dari Timus dan kawan-kawannya.


Teguh lebih memilih diam. Dia sudah mendengar semua penjelasan dari pihak kepolisian lebih dulu, dia sampai tak tahu ingin mengatakan apa. Dia tak menyangka, secara tidak langsung.. Dia lah yang menggiring para penjahat itu untuk menghabisi Wibi, mereka mengira Wibi adalah dirinya karena saat itu Wibi menggunakan jaket kepunyaannya.


Sontak Shopiah menghampiri Teguh. Teguh melihat kilatan amarah di sana. Sedetik kemudian, telapak tangan Shopiah sudah berbekas di pipi kanan Teguh. Semua yang di sana kaget. Tidak dengan Teguh. Dia tahu, ya.. Dia sangat tahu bahwa inilah yang akan terjadi saat Shopiah mengetahui jika suaminya merupakan korban salah sasaran.


"Apa kamu sengaja?" Tiga kata itu langsung ditanggapi gelengan oleh Teguh.


"Kamu sengaja ngasih jaket mu biar mas Wibi yang diserang mereka, bukan kamu! Ya kan? Pantes aja kamu baik banget.. Ternyata,,," Shopiah tak meneruskan kalimatnya. Daranya sangat sakit.

__ADS_1


Dia berjongkok dan menangis di sana. "Mbak.. Aku minta maaf.." Teguh tak mampu bicara banyak. Dia sendiri bingung harus bagaimana menanggapi masalah ini. Di satu sisi, dia bersyukur karena selamat dari algojo yang sudah siap mencabut nyawanya malam itu tapi di sisi lain.. Ternyata temannya justru menggantikan dirinya sebagai korban pembunuhan karena memakai jaket pemberiannya.


___


Malam itu, seorang lelaki tambun dengan langkah terburu-buru berjalan cepat memasuki mobil. Dia sudah menyiapkan segalanya untuk bisa lolos dari jerat hukum atas perbuatan yang dia lakukan.


Dia belum tahu jika salah satu anak buahnya sudah diringkus polisi. Mobil mulai bergerak, dia menginjak pedal gas menaikan kecepatan. Dia Yakin bisa meninggalkan tempat ini sesuai keinginannya. Tak masalah misi melenyapkan kedua musuhnya belum terealisasi asal dia bisa kabur dulu saja. Masih ada lain kali untuk mencelakai kedua penghalang bagi hidupnya, pikirnya.


Saat memasuki gerbang tol, dia dikejutkan dengan banyaknya polisi yang berjaga di sana. Seakan sengaja mereka berbaris untuk menyambut kedatangannya.


Pak Jatmiko tak berpikir jika dia lah target incaran polisi. Dia dengan santai masuk ke dalam barisan mobil yang mengantri diperiksa satu persatu barulah setelahnya diperbolehkan meneruskan perjalanan.


Seorang oknum polisi menyuruh pak Jatmiko turun dari mobil, lelaki tua itu mengerutkan keningnya. Dia sudah memperlihatkan kartu Identitas, surat kendaraan serta SIM seperti yang diminta petugas itu tapi kenapa dia disuruh keluar dari dalam mobil.


Pak Jatmiko menaruh curiga, saat mobil lain melakukan hal yang sama dan langsung diperbolehkan melenggang pergi.. Kenapa hanya dia yang diberhentikan oleh petugas kepolisian?


Bukannya turun menuruti perintah polisi, pak Jatmiko justru menginjak kembali pedal gasnya. Dia sudah dilanda ketakutan. Barisan motor polisi yang ada di bahu jalan kena seruduk olehnya. Dia tak peduli saat mendengar tembakan peringatan meletus ke udara.

__ADS_1


Baru beberapa ratus meter melewati blokade polisi di gerbang tol, pak Jatmiko makin terkejut oleh banyaknya mobil polisi yang menghalangi jalannya. Dia ingin terus memacu kendaraannya agar menerobos barisan mobil penegak hukum itu berharap lolos dari sana, tapi keinginannya terhenti karena dia merasakan ban mobilnya diberhentikan paksa oleh tembakan timah panas polisi.


__ADS_2