
Hari pernikahan Djaduk Mangkulangit dan Vera Nacia Minolta dilaksanakan hari ini. Seluruh persiapan sudah selesai. Semua tamu undangan datang untuk menyaksikan akad nikah kedua kalinya si janda kembang di desa mereka. Decak kagum dan pujian terus mereka berikan untuk pengantin wanita, begitu cantik dengan pakaian pengantinnya.
"Kenapa jadi begini mas Djaduk? Di luar sana penghulu sudah nungguin. Mau ditaruh di mana mukaku ini kalau mas Djaduk tiba-tiba membatalkan pernikahan secara mendadak begini?" Mohon papinya Vera. Wajah lelaki sepuh itu nampak pias memucat.
Pembicaraan terjadi di kamar tamu yang di sulap menjadi kamar rias pengantin. Djaduk menatap dengan sorot mata tak ramah sama sekali. Dia masih santai tak bergeming. Sesekali dia melihat jam tangannya.
"Mas.. Tolong kasihani aku.. Juga Vera putriku.. Mas, aku sudah tua.. Aku hanya ingin Vera hidup bahagia jika nanti aku dan istriku sudah tak ada. Dan aku yakin mas Djaduk adalah laki-laki yang pas dan pantas untuk bersanding dengan anakku Vera." Berusaha membujuk. Keringat dingin sudah membanjiri keningnya.
"Sudah?" Tanya Djaduk berdiri dari duduknya.
"Apanya yang sudah mas? Mas Djaduk pasti mau bilang kalau sedang bercanda.. Tak apa, kadang kita juga butuh hiburan sekedar pelepas nervous. Ya.. Aku tahu mas Djaduk sedang bergurau karena gugup akan melaksanakan ijab nanti, ya kan mas?" Berusaha menenangkan diri dengan berucap seperti itu.
Djaduk tersenyum tapi, bukan senyum kegembiraan yang muncul. Sebuah senyum mengejek. Dapat dilihat sekarang bagaimana angkuhnya Djaduk saat ini. Dia puas bisa melihat papinya Vera mengemis memohon kepadanya seperti itu.
"Sudah ngomongnya? Sekarang giliran aku yang ngomong, kamu dengerin aja." Suara berat itu terdengar mengintimidasi.
"Sebelumnya aku mau mengenalkan diri secara lebih detail.. Kamu hanya mengenal diriku sebagai Djaduk Mangkulangit kan? Pengusaha yang punya kekayaan tak terbatas hingga kamu berpikir jika seluruh kekayaanku nantinya bisa mensejahterakan mu serta anakmu?" Djaduk mulai bicara.
"Tapi apa kamu mencari tahu dari mana asal kekayaanku? Tidak! Aku yakin kamu tidak melakukan hal itu, karena bagimu yang paling penting adalah harta?! Benar kan?"
Papinya Vera diam mendengar semua perkataan Djaduk yang terdengar seperti sedang menghakiminya.
__ADS_1
"Cokro Hadiningrat, mantu mu yang sudah meninggal itu.. Bahkan sebelum dia meninggal saja pasti kamu dan istrimu selalu mendoakan kematiannya siang malam. Supaya apa? Supaya kamu bisa menguasai seluruh harta kekayaan Hadiningrat."
"Bukan mas.. Kamu salah sangka, aku-"
Ucapan papinya Vera terhenti saat telapak tangan Djaduk terangkat mengisyaratkan untuk diam. Orang tua Vera itu menurut. Dia diam seketika.
"Aku sudah bilang kan. Diam saja, dengerin aku ngomong! Perkataan sesederhana itupun tak kamu pahami hmm?"
"Aku tak ingin panjang lebar menjelaskan. Karena aku pikir semua akan percuma saja. Keputusan akhir ku tak berubah, aku membatalkan pernikahan ini. Aku pergi dulu. Dan satu lagi.. Semua biaya pesta ini masih aku yang tanggung. Anggap saja itu kebaikan ku buat keluargamu. Selamat siang." Djaduk melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
Meninggalkan papinya Vera yang duduk lemas di lantai. Apa ini? Bagaimana dia menjelaskan kepada semua tamu undangan serta keluarganya nanti, sedang dia sendiri tak mengetahui apa alasan Djaduk menggagalkan pernikahannya.
Selama ini kedua orang tua Vera terlalu menganggap remeh seorang Djaduk, lelaki tajir melintir itu dengan mudah mau menerima usulannya untuk menikahi anaknya, tanpa berpikir alasan apa yang membuat Djaduk semudah itu mengiyakan keinginan mereka. Mereka hanya berpikir jika Djaduk sudah terpesona pada pandangan pertama pada Vera.
"Terus sekarang gimana pi... Aku enggak mau keluar nemuin tamu pi, aku malu." Maminya Vera menangis. Dia sedih karena rasa malu yang akan dia dapat jika semua orang tahu jika calon mempelai pria membatalkan pernikahan secara sepihak tepat di hari pernikahannya.
"Dia tadi sempat mengucapkan nama Cokro mi.. Dan menanyakan dari mana kekayaan yang Djaduk dapatkan saat ini.." Ucap papinya Vera.
"Pi!! Itu enggak penting tahu enggak, mau dia kaya hasil maling, ngepet, begal, ngerampok, gandain uang sekalipun, aku enggak peduli!! Yang terpenting sekarang ini gimana caranya kita ngomong ke orang-orang di depan sana kalau pernikahan ini batal!!" Bentak maminya Vera.
"Djaduk bener-bener udah bikin kita malu pi.. Terbuat dari apa manusia satu itu, seperti tak memiliki hati nurani!!"
__ADS_1
Maminya Vera menangis. Dia sedih, impiannya memiliki mantu kaya tapi gampang disetir olehnya nanti, telah lenyap. Dia malu, lebih lagi dia tak sanggup menghadapi gunjingan warga serta kerabatnya di lain waktu.
"Udah mi.. Mungkin ini memang yang terbaik buat Vera. Vera berhak memilih jodoh terbaik untuknya sendiri mi.. Mi dari sini harusnya kita malah sadar kalau apa yang kita inginkan tak akan selalu bisa kita dapatkan padahal semua sudah di depan mata.. Tapi lihat mi, Tuhan merencanakan hal lain untuk Vera juga untuk kita.." Papi Vera berusaha memenangkan istrinya.
"Pi.. Bukan waktunya papi ceramah!! Aku pusing dengernya!!"
Papinya Vera keluar ruangan itu. Orang tua itu melihat para tamu yang silih berganti menyapanya, ada yang menanyakan di mana pengantin prianya, kenapa belum juga di mulai acara ijab qobul nya, banyak lagi pertanyaan yang tak satupun yang dijawab olehnya.
Pandangan matanya bertemu dengan netra Vera, anaknya yang sekarang terlihat begitu ayu. Jalannya tertatih mendekati putrinya.
"Kenapa pi?" Tanya Vera menangkap ketidak beresan di raut muka papinya.
"Kamu cantik Ver." Senyum itu terlihat sangat dipaksakan.
Ver.. Apa kamu bahagia?" Tanya papinya Vera kemudian.
"Aku lakuin semua ini demi papi sama mami. Bahagia itu seperti apa, rasanya bahagia itu gimana aja aku enggak inget pi.." Ucap Vera memalingkan wajah. Matanya berembun. Dia menggigit bibirnya menahan air mata agar tak jatuh.
"Maafkan mami sama papi ya Ver.. Kami banyak salah sama kamu.."
Setelah menyelesaikan kalimat itu, papinya Vera ambruk. Beliau pingsan. Vera dan banyak orang di sana kaget, berusaha mendekat dan menolong lelaki sepuh itu.
__ADS_1