
Puasa itu sejatinya adalah cara diri untuk mengendalikan emosi, tutur kata, serta perbuatan. Tak melulu dihubungkan dengan urusan perut, asal lapar dan haus saja bisa disebut sudah puasa.
Tapi Selvi melupakan hal itu, dia hanya mengartikan jika puasa adalah melaparkan diri saja.
Teriknya siang ini jadi godaan terbesar untuk Selvi, padahal dari tadi sudah menahan diri agar tidak emosi tapi nyatanya saat bertemu dengan Teguh, amarahnya tak bisa dia kontrol.
Sepertinya keberuntungan sedang memihak pada dirinya, tengah sibuk memikirkan bagaimana caranya mendapatkan beberapa helai rambut Ervin dan sebuah barang milik lelaki itu, Selvi justru dipertemukan dengan lelaki incarannya ini di jalan menuju pulang.
'Emang kalau jodoh mah susah sih ya, ada aja cara semesta mempertemukan kita.. Aah makin semangat miliki kamu kan jadinya'
"Mbak Selvi kan ya? Bisa kebetulan gini ketemu lagi ya, mau kemana mbak?" Ervin menyapa, ramah dan terlihat bersahabat. Selvi langsung tersenyum sumringah sebagai tanda dia sangat senang oleh pertemuan tak sengaja ini.
"Mau pulang mas, tapi motor ku abis bensin deh kayaknya. Masa nggak bisa jalan.." Akan dilakukan segala cara agar dia bisa mendapatkan lelaki yang sekarang menghampirinya itu.
"Coba sini lihat," Ervin mencoba membantu menyalakan motor Selvi, dan kesempatan itu di pakai Selvi untuk mengambil rambut Ervin.
Ervin sempat melihat ke arah Selvi tapi setelah itu kembali berusaha membantu menghidupkan motor perempuan yang tersenyum padanya itu sebisanya.
"Maaf ya mas, aku tadi bersihin debu yang nempel di rambut mas Ervin." Selvi beralasan.
"Iya nggak apa-apa mbak, hmm ini motornya udah dari tadi mogok mbak?" Ervin mengalihkan pembicaraan karena pandangan Selvi intens menatapnya.
Selvi sendiri tak tahu bagaimana bisa motornya mogok tepat sebelum Ervin melalui jalan itu. Apa ini termasuk bentuk bantuan mbah Ribut padanya, Selvi tak tahu. Yang jelas sekarang ini Selvi menikmati kedekatannya dengan Ervin.
__ADS_1
Tiba-tiba Selvi teringat pada syarat kedua, yaitu dia harus mendapatkan salah satu barang Ervin untuk dikubur bersama rambut yang tadi berhasil dia ambil dan jimat dari mbah Ribut Wahgelo.
"Kamu di sini dulu aja mbak Selvi, biar aku cariin bensin ke warung depan, semoga saja ada yang jual."
"Eh mas, nggak usah.. Orang rumah ku udah deket dari sini kok. Gimana kalau mas Ervin nganterin aku pulang aja, motornya biar di sini. Di sini aman mas, lagian udah aku kunci stang ini." Selvi mencoba mencari cara agar Ervin mau menurut padanya.
Ervin bukan gampangan, dia hanya memposisikan diri jika kesusahan yang dialami Selvi sekarang ini terjadi pada ibu, adik atau istrinya dan tak ada yang mau membantu, pasti akan sangat kebingungan. Oleh karena itu, tanpa pikir panjang Ervin mengiyakan usulan Selvi.
Tak ada yang tahu betapa girangnya hati Selvi saat ini karena bisa duduk dibonceng motor Ervin. Seakan harapannya menemukan secercah cahaya. Selvi yakin, Ervin pasti akan jatuh ke dalam pelukannya. Cepat atau lambat!
"Udah sampai, maaf mas ini gubukku. Kecil, jelek, ya karena anak orang nggak punya." Selvi merendah.
"Jangan merendah mbah, rumah yang seperti ini yang sekarang langka. Banyak orang lebih suka membangun rumah dengan design modern. Hmm.. Ya udah ya mbak, aku tak balik lagi.. Tapi beneran itu motornya nggak apa-apa di taruh di sana tadi? Takutnya di gondol orang."
"Masuk dulu mas, masa mau langsung pergi. Tak buatin kopi, atau teh buat mas Ervin." Selvi gercep.
"Lain kali aja mbak, aku masih kerja soalnya. Tapi sebelumnya makasih lho udah ditawarin." Senyum itu kembali muncul, makin salah tingkah saja Selvi dibuatnya.
"Aku nggak bisa kasih apa-apa mas, anggap aja secangkir kopi yang aku buat sebagai ucapan terimakasih. Ya meski aku tahu, kopi buatan ku tak seenak bikinan barista di tempat mas Ervin kerja..."
Sesaat Ervin melihat jam tangannya, masih ada waktu.. Ervin mengiyakan bujukan Selvi. Lagi-lagi, Selvi seperti ingin berjingkrak saat itu juga karena kegirangan.
"Rumahnya adem mbak, nyaman.. Tapi kok sepi," Ervin sudah duduk di dalam rumah Selvi.
__ADS_1
"Bapak sama ibu lagi di sawah mas, aku anak tunggal.. Belum nikah juga, jadi ya gini.. Sepi." Selvi memberi kode jika dirinya jomblo wati terhaqiqi, tapi Ervin menanggapi ucapan Selvi hanya sekedar informasi mengakrabkan diri.
"Eh,, itu foto mas Teguh? Mbak Selvi ini.." Ervin memperhatikan foto di dinding rumah Selvi.
"Iya itu Teguh, mas Ervin mikir apa? Aku ini sepupunya Teguh. Harusnya aku manggil dia mas, karena lebih tua dia kan. Tapi dia nggak mau, ini mas kopinya di minum dulu.. Maaf ya mas hanya bisa nyugihi air aja."
Ervin tak tahu harus bilang apa, semakin melihat Selvi, dia merasa seperti ada magnet kuat yang menariknya. Selvi terlihat berbeda.
"Ternyata mas Teguh punya saudara to.. Aku baru tahu." Ucap Ervin sambil mengambil kopi di meja yang disuguhkan Selvi tadi.
Dengan sengaja, Selvi menyenggol tangan Ervin sehingga air hitam pekat tadi tumpah dan membasahi kemeja biru steel yang dipakai Ervin. Bisa ditebak, rentetan permohonan maaf berkali-kali Selvi katakan sebagai bentuk penyesalan.
"Nggak apa-apa mbak, aku tak langsung balik ke kerjaan aja ya. Makasih udah disuruh mampir, salam buat mas Teguh ya mbak.."
"Eh mas.. Mas Ervin jangan pergi dulu, meski nggak sebagus baju mas Ervin.. Mending ganti bajunya yang kotor itu sama baju ini, ini punya Teguh kok."
Selvi ternyata sudah menyiapkan kaos yang memang milik Teguh. Dulu Teguh sempat menginap di rumahnya saat emaknya Teguh masih hidup, beberapa potong baju Teguh masih tersimpan rapi di sana.
"Nggak pantes kan mas kalau ke tempat kerja pakai baju kotor kayak gitu.."
Segala cara Selvi lakukan, dan Ervin menurut saja saat ditunjukkan kamar mandi untuk mengganti bajunya yang kena siram kopi tadi.
Selvi melambaikan tangan sebagai tanda mengantar kepergian Ervin. Hari ini, semua kejengkelan waktu bertemu Teguh berganti dengan kesenangan tak terhingga. Selangkah lagi keinginannya terwujud.
__ADS_1