
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, Sakti memakai topi merah khas anak SD untuk menutupi kepala dari sengatan sinar matahari siang ini.
Tak ada yang menyapanya, malah bagus. Dia juga tak suka berbasa-basi dengan orang lain. Ibunya tak datang menjemput, Sakti tahu ibunya sekarang belum pulang dari pasar. Biasanya ada kakeknya yang menyusulnya, tapi mungkin siang ini sang kakek pun berhalangan datang menjemputnya.
"Hei.. Calon preman nggak punya bapak! Jalan kaki kamu? Nggak minta dijemput bapakmu aja hah?" Ejek anak lain yang lebih besar dari Sakti.
Hati Sakti sakit jika ejekan mereka sudah membawa nama bapaknya. Ada masalah apa mereka sebenarnya? Anak sekecil Sakti pun tak luput dari kejamnya aksi perundungan.
Sakti yang diam tak merespon membuat sekelompok bocah tadi tersulut emosi. Dengan kasar, salah satu dari mereka menarik tas yang Sakti pakai. Membuat Sakti jatuh terjengkang ke belakang.
"Budeg ya? Kalau ditanya tuh jawab degbudeg!!" Bentakan itu tak bisa diterima Sakti begitu saja.
Hari ini perasaannya sudah tak enak, ingin marah dan meluapkan emosi. Kebetulan ada yang mencari masalah dengannya, jikalau harus di bawa ke ruang guru tak masalah buatnya. Sudah sering juga.
"Bangun! Melotot aja, mau ku colok itu matamu hah??" Lagi, bentakan dari salah seorang kakak kelasnya terdengar tak ramah di telinganya.
Saat akan bangun, Sakti merasakan ada yang mendorongnya ke depan hingga dia jatuh tersungkur. Yang lain membantu? Tidak. Mereka tertawa seakan pemandangan itu adalah sesuatu yang lucu.
Cukup sudah! Sakti dengan badan kecilnya menarik kaki orang yang dari tadi terus berteriak ke arahnya. Lawan Sakti jatuh, tapi tak ada tawa yang mengiringi seperti saat Sakti tadi terjerembab. Mereka marah.
Dengan kasar mereka menarik Sakti, ada yang sengaja melempar Sakti dengan es teh di plastik sehingga membuat seragamnya basah. Sakti tak tinggal diam, tangannya menangkap siapapun yang berada dekat dengannya. Dengan kasar kaki Sakti di gunakan untuk menendang orang yang berhasil dia piting.
Tak sampai di situ, Sakti menggunakan tasnya untuk dia kibaskan ke segala arah menggalau orang yang kembali ingin mengusiknya.
__ADS_1
"Orang gila.. Orang gila.." Terus begitu. Suara yang bisa Sakti dengar.
Menangis bukan lagi jalan yang Sakti pilih untuk menghadapi semua hinaan yang dia terima. Jika dianggap nakal bisa membuatnya membalas perilaku tak terpuji yang dilakukan teman-temannya, maka tak masalah baginya apabila kata nakal disematkan untuk dirinya.
Mereka pergi meninggalkan Sakti dengan baju basah juga kotor, sempat jatuh di tanah tadi membuat sikunya lecet. Celananya juga tak kalah kotornya, huuft... Sakti menghela nafas. Membuka satu persatu kancing bajunya dan menepuk-nepuk bagian yang kotor di celananya agar tak terlihat kumal.
Seragam basah itu dia masukkan ke dalam tas, topi tak lagi dia pakai. Seperti nasib seragam yang sudah masuk ke dalam tas, topi itu pun berada di tempat yang sama.
Bukan pulang ke rumah, dia ingin ke tempat ayahnya yang sudah tertidur abadi di pemakaman umum. Langkahnya pelan, dia tak ingin buru-buru. Rasa rindu mengalahkan rasa lapar di dalam dirinya.
Sambil berjalan dia mengingat kenangan saat ayahnya masih hidup. Masih jelas di ingatannya ketika mereka sering berkeliling dengan motor setelah ayahnya pulang bekerja. Peluk cium dia dapat ketika menyambut ayahnya pulang dari kewajiban sebagai tulang punggung setelah seharian ngojek mencari nafkah untuk keluarga.
"Yah.. Sakti kangen.." Lirihnya.
Setengah jam sudah dia berjalan, akhirnya bocah itu sampai juga di tempat yang dia tuju. Tempat pemakaman umum.
Sakti menggunakan tangannya untuk bantalan, menaruh kepalanya di atas gundukan tanah seakan dia sedang mengadu di pangkuan ayahnya. Tak ada suara, dia sibuk menenangkan hatinya. Sesekali tangan mungilnya digunakan untuk mengusap nisan ayahnya.
Begitu pedih beban yang Sakti tanggung hingga dia tak bisa berkata-kata di depan pusara ayahnya. Untuk anak seusia Sakti, kuburan mungkin adalah tempat menyeramkan tapi tidak dengan Sakti. Karena di kuburan lah dia bisa bertemu dengan makam ayahnya, tempat peristirahatan abadi ketika seseorang sudah menyelesaikan kontrak hidupnya dengan Sang Illahi.
"Yah.. Baju Sakti kotor, Sakti abis berantem lagi tadi yah. Ayah nggak suka ya Sakti jadi nakal kayak begini?" Ucapnya masih dengan posisi yang sama.
__ADS_1
"Yah..-" Bibirnya seakan kelu untuk kembali membuka suara. Dia merasa semua ini sungguh tidak adil untuknya.
Sakti menatap nanar pada nisan ayahnya. Pandangannya berkabut, lagi-lagi air mata itu tumpah. Dia mencoba untuk tidak menangis tapi tetap saja dia belum sekuat itu.
Entah berapa lama Sakti di sana, dia pun tak tahu sekarang pukul berapa. Sampai dia merasakan ada tangan yang membelai lembut rambutnya. Sakti pikir itu hanya halusinasinya saja. Bocah itu tak langsung menoleh ke arah sosok yang sedari tadi ada di belakangnya.
"Pulang ya nak.. Dari tadi ibuk nyari kamu kemana-mana, kalau memang mau ke sini kan kamu bisa bilang dulu sama ibuk. Pasti ibuk anterin," Shopiah tak sampai hati memarahi Sakti saat menemukan anaknya itu rebahan di atas gundukan tanah makam suaminya.
"Buk.." Sakti tak lagi bisa berucap.
Lewat tangisan itu orang yang tidak mengenal Sakti pun pasti tahu anak itu sangat sedih. Shopiah turut larut dalam kesedihan yang tercipta. Tapi, sekali lagi.. Sakti tak berani bercerita tentang apa yang dia alami selama ini di sekolah.
Entah ketakutan macam apa yang menyelimuti hati Sakti, nyatanya dia lebih memilih memendam semua rasanya sendiri.
"Buk, apa di tempat ayah ada angin?" Tanya Sakti pelan.
"Angin? Kenapa kak?" Tanya Shopiah berusaha menenangkan hatinya agar tidak menangis di depan anaknya.
"Iya.. Angin buk. Kalau ada, aku mau nitip salam lewat angin ini untuk ayah.. Ayah.. Sakti kangen ayah.. Yah.. Sakti ingin ketemu ayah.. Sekali aja yah, Sakti ingin ayah meluk Sakti lagi.. Yah.. Sakti nggak akan nakal lagi, Sakti janji.. Asal Sakti bisa ketemu ayah.. Sekali aja yah, nggak boleh ya yah? Apa Sakti senakal itu sampai ayah pergi ninggalin Sakti sama ibu kayak gini.. Yah.. Sakti kangen ayah.."
"Ayah.. Sakti nggak akan minta mainan lagi, Sakti nggak akan bolos sekolah, Sakti janji.. Sakti janji yah.."
Ulang bocah itu berkali-kali. Shopiah tak bisa lagi membendung air matanya, dia dekap erat putra semata wayangnya itu. Dia sadar akhir-akhir ini dia terlalu sibuk mencari uang sampai mengabaikan perasaan anaknya yang pasti butuh perhatian darinya.
__ADS_1
"Ayah juga pasti kangen banget sama kamu kak, tapi kakak nggak boleh kayak gini.. Nanti ayah sedih kak.." Bujuk Shopiah.
Lalu apa hanya almarhum ayah dan ibunya saja yang boleh sedih? Dia tidak boleh, seperti itu? Apa selamanya dia harus menekan perasaannya? Selalu berpura-pura baik-baik saja? Apakah seperti itu? Pikir Sakti dalam isak tangisnya.