Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 65. Kehilangan


__ADS_3

Bagi sebagian orang, pertengkaran adalah suatu yang wajar untuk menyelesaikan masalah. Tapi, ada juga yang memilih diam menghindari lebih besarnya masalah yang terjadi akibat pertengkaran itu.


Pak Jatmiko menggebrak meja kerjanya. Dia tak puas dengan pendapatan bulan ini yang dirasa tak sesuai targetnya. Dia memikirkan sesuatu, harus ada perubahan yang bisa menaikkan pundi-pundi rupiah yang masuk ke kantongnya.


Dia pun menemukan satu ide brilian menurutnya. Dengan menggunakan pengeras suara, pak Jatmiko memanggil Teguh untuk masuk ke dalam ruangan.


"Iya pak." Teguh menutup pintu setelah diperintahkan oleh pimpinannya dengan kode jari tangan ditunjuk ke arah pintu yang masih terbuka.


"Berapa lama kamu kerja di sini?" Awal obrolan mereka terjadi.


"Hampir lima tahun pak." Jawabnya jujur.


"Hmm kenapa kamu betah kerja di sini? Karena gajinya gede? Karena kerjaan mu enteng? Atau karena di sini terlalu bebas untuk mu?" Tanyanya culas.


"Maksud pak Jatmiko apa?" Sedikit mengerutkan kening tak mengerti kemana arah obrolan mereka.


"Teguh Prastyo... Nama kamu kan? Aku udah cek hasil kerjamu selama di sini. Biasa saja. Tak ada yang istimewa dari kamu."


"Dan menurut ku, supir cukup satu aja di sini. Toko ini terlalu banyak mempekerjakan orang-orang yang sebetulnya tidak penting. Jadi aku putuskan kamu mulai besok tak perlu berangkat bekerja lagi." Ucap pak Jatmiko santai.


Kaget. Teguh tentu saja kaget dengan apa yang di dengar saat ini.


"Kesalahan apa yang membuat pak Jatmiko memberhentikan saya dari pekerjaan?" Teguh berusaha mengendalikan diri agar tak terpancing emosi.


"Tidak perlu salah dulu agar kamu ku pecat. Tapi, kalau tanya kesalahan.. Aku lebih tak suka dengan si Ervin itu. Atau.. Begini saja, kamu masih kerja di sini biar si Ervin yang keluar? Bagaimana?" Masih dengan nada datar. Tapi dengan senyum mengejek.


"Apa pak Jatmiko sudah mengkonfirmasi pemecatan saya kepada mbak Gendis?" Mendengar hal itu pak Jatmiko tak lagi santai. Dia seperti mendapat perlawanan meski bukan lewat perkelahian.


Kata-kata Teguh tak ada yang salah. Tapi tetap terdengar menusuk telinga pak Jatmiko.


"Semua keputusan yang aku ambil di sini sudah melalui pertimbangan dari banyak aspek. Termasuk mempertimbangkan persetujuan ibu Gendis! Kamu lihat kan akhir-akhir ini pesanan daring di sini dikit. Kamu dan Ervin sering nganggur! Ya dengan berat hati.. Aku putuskan kamu diberhentikan dari sini."


Ingin rasanya Teguh menghajar orang di depannya itu, tapi akal sehat masih bisa dia pakai. Ada dua pilihan jika dia menolak pemutusan hubungan kerja, maka Ervin yang menggantikan posisinya. Itu berarti Ervin akan dipecat? Padahal sebentar lagi Caca akan melahirkan, Ervin pasti butuh banyak biaya ke depannya. Dia juga.. Pendidikan Ayu di sekolah menengah pertama juga tidak murah.. Teguh terhenyak dari lamunannya saat sebuah amplop disodorkan pak Jatmiko ke atas meja.


"Sebenarnya aku suka cara kerja kamu.. Tapi bagaimana mana lagi, kondisi perekonomian tempat kerja kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Aku harap kamu mengerti. Ini uang gajian kamu bulan ini plus pesangon juga."

__ADS_1


Mata Teguh menunjukkan kemarahan, tapi dia juga tak bisa melawan keputusan yang diambil atasannya tersebut. Dengan langkah lunglai, Teguh keluar dari ruangan itu tanpa banyak berkata.


"Ternyata dia gampang banget dibohongi. Hahaha.. Kenapa tidak dari dulu saja aku pakai cara ini buat mecat orang-orang yang tidak berguna di sini." Ucap pak Jatmiko puas. Dia puas bisa mendepak Teguh dari tempatnya bekerja.


Padahal Teguh termasuk orang yang rajin dan gigih. Dia mau melakukan apapun tanpa disuruh saat sedang senggang. Tapi toh hal itu tak nampak di mata pak Jatmiko, dia lebih memilih memecat Teguh dari pada memperbaiki kinerjanya sendiri.


"Lho mas, mau kemana?" Tanya Ervin melihat Teguh menyalakan motornya.


"Pulang Vin." Jujur saja Teguh sedang dalam kondisi hati yang tidak baik-baik saja. Dia marah, kesal, dan ingin mengumpat saat ini, tapi semua itu dia tahan sendiri.


"Pulang kenapa mas? Masih siang ini." Ervin masih sibuk bertanya.


"Enggak apa-apa. Vin, aku pamit dulu.." Teguh tak ingin menceritakan perihal pemecatannya.


"Ijin apa mas? Ayu kenapa? Atau emak?"


"Enggak. Semua baik-baik aja." Teguh menepuk pundak Ervin ringan. "Aku pergi dulu ya.." Kesedihan itu nampak jelas di netra Teguh.


Ervin makin bingung. Dia hanya mengangguk mengiyakan, dia tak tahu jika hari itu adalah hari terakhir Teguh menginjakkan kaki di tempat yang membuat mereka bertemu dan menjadi sahabat rasa saudara seperti sekarang ini.


____


Setelah pulang sampai rumah tadi, Teguh mendapat kabar dari tetangganya jika Ayu dijemput pamannya karena ada sesuatu hal yang tetangganya itu juga tak tahu karena dirinya tak diberi tahu ada apa. Buru-buru Teguh memacu motornya ke rumah pamannya, adik dari ibunya.


Selama ini ibunya Teguh tinggal bersama pamannya setelah bapaknya Teguh meninggal. Beliau tak ingin merepotkan Teguh yang merupakan anak satu-satunya dengan tinggal bersama. Beliau lebih mengiyakan tawaran adiknya yang merupakan paman Teguh untuk tinggal bersama.


"Guh.. Sing sabar.." Bahu itu bergetar melihat sosok renta dengan banyaknya keriput di wajah sudah terbujur di depan sana.


"Emak tadi jatuh, abis nyapu.. Padahal tadinya dia mau ke tempat kamu. Katanya pengen banget ketemu kamu. Aku bilang nanti sore aja pas kamu udah pulang kerja.. Tapi sebelum kamu pulang kerja, emak udah berpulang lebih dulu.." Paman Teguh menjelaskan perihal emaknya yang sudah tidak ada.


"Mak.." Suara Teguh bergetar. Kakinya lunglai seketika. Jatuh dia di depan jenazah emaknya. Menangis Teguh di sana.


"Pak..." Ayu tak kuasa menahan kesedihan saat melihat bapaknya yang dia kenal tegar dalam menghadapi apapun kini bisa menangis karena kehilangan.


"Ikhlaskan emak ya Guh." Ucap pamannya lagi.

__ADS_1


Teguh tak menjawab. Dia hanya menangis. Kehilangan pekerjaan hari ini tak ada artinya saat mendapati kenyataan dia sudah kehilangan emaknya untuk selamanya. Emak yang merupakan orang tua satu-satunya kini telah tutup usia.


Di tengah hujan.. Teguh menguatkan hati mengantarkan emaknya ke peristirahatan terakhir. Dia ikut membantu membawa keranda jenazah emaknya juga sampai pada saat jenazah di masukan ke dalam liang lahat pun Teguh tak mau melewatkan kesempatan terakhirnya bertemu emaknya. Hatinya bagai teriris sembilu saat mengumandangkan azan di dekat emaknya sebelum proses penguburan dilakukan.


Teguh mengingat semua kenangan dirinya dan emaknya sewaktu masih hidup. Makin deras saja air mata yang keluar. Tapi semua itu tertutup oleh hujan yang turun seperti ikut menangis melihat kesedihan Teguh.


____


Hujan teringatkan aku


Tentang satu rindu


Dimasa yang lalu


Saat mimpi masih indah bersamamu


Terbayang satu wajah


Penuh cinta penuh kasih


Terbayang satu wajah


Penuh dengan kehangatan


Kau ibu oh ibu


Allah izinkanlah aku


Bahagiakan dia


Meski dia telah jauh


Biarkanlah aku


Berarti untuk dirinya

__ADS_1


Oh ibu oh ibu kau ibu


__ADS_2