
Tangan kecil itu begitu telaten menata kue di nampan plastik, setelah membereskan termos yang berisi beberapa es di dalamnya.. Sakti menaruh lagi nampan tersebut di meja kantin sekolah. Bocah lelaki itu duduk sembari melihat teman temannya bermain di lapangan sekolah yang letaknya tak jauh dari kantin tempatnya ngadem. Dia puas hanya memperhatikan saja. Lagipula tak ada yang mau bermain dengannya.
Sejak ayahnya meninggal, Sakti jadi pribadi tertutup juga sering marah, membentak, bahkan pernah memukul temannya. Padahal dulu waktu masih kecil, Sakti merupakan bocah yang ramah juga mudah akrab dengan siapapun. Sakti seperti itu bukan tanpa alasan, dia hanya ingin melindungi dirinya sendiri.
Dia sering diejek dan tak terhitung berapa kali Sakti pulang dari sekolah dengan menangis karena beban mental yang teman temannya berikan padanya.
Bukan tak mau menceritakan semua yang dialaminya selama ini di sekolah kepada ibunya, tapi dia tahu.. Ibunya sendiri repot dan sibuk setiap hari. Berangkat pagi untuk berjualan di pasar lalu pulang siang hari, sorenya ibu Sakti.. Shopiah, akan kembali berbelanja untuk kembali di jual esok harinya. Seperti itu terus menerus, kegiatan monoton tapi memang itulah pekerjaan yang bisa Shopiah lakukan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Pernah dia mengadu pada wali kelasnya tentang perlakuan intimidasi yang teman-temannya lakukan pada dirinya tapi bu guru menganggap aduan Sakti dan perilaku anak didiknya yang lain pada Sakti hanya sebagai tindakan biasa bocah seusia Sakti dalam mengekspresikan diri di dalam lingkup pertemanan.
Sakti lelah jika harus terus menerus mengalah dan diam oleh ejekan mereka, kadang dengan sengaja mereka berulah mencoret-coret buku atau tas bocah malang tersebut. Dari pada mengadu sana sini, Sakti memilih membentuk pribadi tertutup dan tak segan membalas perlakuan temannya. Dia jadi sosok yang ditakuti saat emosi sudah menguasai dirinya. Tak ada teman yang mau bermain dengannya karena menganggap Sakti anak nakal.
Dan yang lebih miris, orang tua murid yang anaknya pernah bersinggungan dengan Sakti langsung melarang anak mereka berdekatan, bermain atau melakukan interaksi apapun karena takut anak mereka ketularan nakal.
Tanpa mereka berpikir kenapa bocah yang dulu periang bisa menjadi berubah karakternya seperti itu. Alih-alih mencari tahu, para orang tua murid justru ikut mengejudge Sakti sebagai anak pembuat masalah atau trouble maker di sekolah.
__ADS_1
"Sakti kenapa? Kok nampannya ditaruh lagi." Tanya ibu kantin melihat gelagat Sakti yang seperti malas dalam melakukan kegiatannya.
Perlu diketahui, meski Sakti terkenal pendiam juga tertutup di sekolah tapi, bocah ini secara diam-diam membantu meringankan beban ibu nya dengan cara berjualan jajan pasar yang dibuat ibu kantin dan dia jajakan ke sekitar perumahan yang dekat dengan sekolah nya.
Pada saat jam istirahat, dia akan membawa nampan juga termos es berkeliling untuk dijajakan. Tak banyak untung yang dia dapat, karena memang waktu berjualan yang sangat singkat. Hanya saat jam istirahat saja, tapi tak masalah buat Sakti. Karena untuk membeli buku atau membayar buku sekolah bisa Sakti lakukan sendiri dari uang hasil berjualan jajan pasar tersebut.
"Aku mau ke tempat ayah," Ucap anak itu penuh keyakinan.
"Lho.. Kamu kok ngomong gitu, ini kan masih jam sekolah. Nggak boleh to le.. Lagi pula kalo kamu mau ke tempat ayahmu, nanti biar bulek kasih tau ibumu saja, biar ibumu yang nganterin ke sana. Jangan ke sana sendirian. Bahaya, banyak kendaraan.. Jauh juga kan? Emang kamu nggak takut pas nyampe sana malah udah malem?" Ibu kantin berusaha melarang keinginan bocah yang ingin bertemu ayahnya di tempat pemakaman karena saking rindunya.
Entah iya yang dimaksud Sakti itu apa, hanya dirinya sendiri yang tau. Meski banyak yang tidak suka dengan Sakti, nyatanya masih ada orang-orang baik seperti ibu kantin ini yang percaya jika sebenarnya Sakti bukanlah anak nakal seperti yang sering ditudingkan.
Awal mula beliau mengijinkan Sakti membantu menjajakan dagangannya saat itu ketika dia melihat Sakti yang menangis sesenggukan di dekat kamar mandi sekolah. Bocah itu lantas bercerita jika uang untuk membayar buku LKS sekolah diambil paksa kakak kelasnya. Dengan tubuh kecilnya Sakti tak bisa melawan para senior yang semena-mena kepadanya.
Rasa iba langsung muncul, ibu kantin mengajak Sakti ke kantinnya. Di sana dia memberikan nasi bungkus dan teh hangat tapi langsung di tolak oleh Sakti. Bocah itu malah bertanya, apakah dia bisa membantu bekerja di kantin agar bisa mengganti uang untuk membayar buku sekolah yang tadi dirampas teman-temannya?
__ADS_1
"Ibuku udah nggak punya uang lagi bulek.. Aku nggak mau minta lagi sama ibuk, dan bilang kalau uangnya diambil orang. Ibuk pasti sedih, ibuk udah kerja sendiri tapi uang buat bayar buku malah diambil orang." Ucapnya dengan bibir bergetar.
"Nanti biar bulek laporin ke kepala sekolah yang ngambil duit mu itu! Kamu mau kerja apa? Di sini bulek cuma jualan nasi bungkus, sama jajanan.. Lagipula bulek nggak mau kalau nanti ibumu tahu kamu kerja sama bulek. Dikira bulek maksa kamu lagi, bisa di kasusin nanti! Mengeksploitasi anak kalo kata orang-orang pinter."
Mendapat penolakan dari ibu kantin membuat muka Sakti makin murung. Bukan Bocah itu kembali menangis tanpa suara, dia memikirkan bagaimana nanti jika wali murid menagih uang pembayaran LKS kepada dirinya? Mudah saja jika dia mengatakan bahwa uangnya diambil oleh kakak kelas sebagai alasan nunggaknya pembayaran. Tapi, hal itu pasti memperpanjang masalah.
Masih mending jika ucapannya dipercaya oleh guru, jika tidak.. Sakti akan dianggap sebagai tukang bohong. Bayangan wajah ibunya yang sedih saat dia mengadu jika uangnya hilang pun sudah tercetak di pelupuk matanya. Untuk sebagian orang, mencari uang sebesar lima puluh ribu bukanlah hal yang mudah dilakukan.
"Aduuh ya gini aja, kamu bantu jualin getuk, nagasari, sama jajan pasar lain di sekitar sini mau?" Tanya bu kantin.
Sakti melihat bu kantin baik hati itu dan langsung mengangguk cepat. "Tapi.. Aku kudu pulang tepat waktu setelah jam pelajaran sekolah selesai bulek.. Terus gimana cara bantunya?" Tanya Sakti bingung.
"Hmmm.. Ya gini aja, pas jam istirahat aja jualannya. Ini, nanti kasih ke bu guru. Buat bayar buku mu. Jangan nangis lagi. Anak laki kudu kuat, ya?!" Uang lima puluh ribu bu kantin selipkan di tangan kecil Sakti.
Rasanya ingin menolak tapi bu kantin bilang, itung-itung sebagai upah awal Sakti bekerja di kantinnya. Padahal ikut bekerja bersamanya saja belum tapi sudah diberi upah, begitulah cara orang-orang baik seperti ibu kantin itu membantu kesusahan anak yatim seperti Sakti.
__ADS_1
Tak peduli berapa nominalnya yang penting ikhlas dalam menolong sesama, tak harus banyak berkata atau menggurui jika diam dan mendengarkan cerita lebih dibutuhkan oleh Sakti saat ini.