Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 92. Pergi


__ADS_3

Malam harinya budhe Mimin selesai sholat, maksud hati dia ingin pulang barang sebentar tapi, niatannya diurungkan karena mengetahui kondisi Dinda menurun.


Dokter mengatakan jika kemungkinan kecil untuk Dinda bisa pulih seperti sediakala. Tak ayal, apa yang disampaikan dokter meluluhlantakkan hati budhe Mimin. Meski beliau bukan ibu kandung Dinda, tapi pengabdian budhe Mimin kepada keluarga Minolta menjadikan beliau memiliki ikatan batin dengan gadis tujuh belas tahun itu.


"Bulek lihat kan, semua ini gara-gara si dekil itu! Dia emang sumber masalah. Aku heran, kenapa dulu pas ibunya mati, dia enggak ikutan sekalian! Jadi enggak bikin orang lain susah kayak gini!" Penekanan kalimat penuh kebencian itu sebenarnya tak mengubah keadaan.


"Jangan berkata begitu bu.. Ayu juga adalah seorang anak, jika orang tuanya mendengar apa yang bu Vera tadi katakan, pastilah akan menyakiti hati orang tua Ayu. Dan.. Saya yakin, Ayu tak ada campur tangannya dengan kecelakaan yang terjadi pada mbak Dinda sekarang. Bu, Dinda butuh doa kita.."


Berulang kali budhe Mimin mencoba mencairkan hati Vera yang beku karena kebenciannya sendiri, dan sebanyak itu pula budhe Mimin harus menelan pil pahit karena semua ucapannya tak pernah diindahkan oleh Vera.


"Kamu nggak usah belain si dekil itu bulek! Diem aja, kalau emang masih mau ceramah soal si dekil itu sana keluar jangan di sini, ogah aku dengernya!!" Celoteh Vera melarang keinginan budhe Mimin untuk meluruskan jalan pikiran Vera.


Padahal kondisi Dinda sudah separah itu, tapi yang ada di dalam pikiran Vera bukan tentang kesembuhan anaknya tapi malah rasa bencinya untuk Ayu.


Dokter melakukan visit malam itu, seperti biasa tim medis melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum meninggalkan para pasiennya.


Tiba giliran Dinda untuk diperiksa, saat didekati dokter dan beberapa perawat tiba-tiba saja matanya terbuka. Beberapa kali Dinda mengerjapkan netra indahnya. Dokter sampai kaget akan respon spontan yang dilakukan Dinda.


"Dok.. ter..-" Dinda terpejam kembali.


____

__ADS_1


Belum genap empat puluh hari kepergian Wibi, Shopiah menerima tawaran pekerjaan dari tetangganya untuk ikut pergi ke kota guna menjadi asisten rumah tangga yang mengharuskannya meninggalkan Sakti di rumah sedangkan dirinya harus merantau seorang diri.


Dia mengambil keputusan ini dengan segala pertimbangan alot dan lama, berperang dengan hati serta perasaannya sendiri, baru dia bisa putuskan untuk mengambil keputusan yang sebenarnya juga melukai dirinya sendiri.


Bagaimana tidak melukai dirinya sendiri, jika berpisah dengan Wibi dan Sakti adalah hal terberat dalam hidupnya. Bahkan dalam mimpi sekalipun, Shopiah tak pernah berpikir untuk melakukannya.


Tapi, karena takdir dan keadaan, Shopiah harus tunduk dan berbesar hati mengambil keputusan ini.


Pagi itu merupakan pagi terberat bagi Shopiah. Pelan, dia masukkan satu persatu baju dan beberapa barang yang akan dia bawa nantinya untuk pergi merantau. Sebuah foto yang menampilkan senyumnya saat menggendong Sakti dan dalam dekapan Wibi tak lupa ikut dia bawa.


"Ibu mau kemana?" Kegiatannya berhenti. Shopiah bisa melihat senyum itu hilang di wajah Sakti saat melihat satu buah tas besar ada di atas tempat tidur.


Mainan truk kecil ditangannya setia dibawa sambil berjalan menuju ibunya. Dia berpikir ibunya nanti akan mengajaknya bermain truk diisi batu kecil lalu ditarik seakan-akan dia adalah supir dari truk mainan itu. Permainan yang sering Sakti lakukan dengan ayahnya.


"Kalau misalnya ibu pergi sebentar buat cari uang untuk kakak, untuk sekolahnya kakak, biar kakak bisa beli sepeda kayak temen-temen kakak, boleh nggak?" Dengan cepat Sakti menggeleng tanpa berpikir lebih dulu.


"Nggak boleh bu. Jangan pergi. Kenapa ibu mau pergi? Aku nggak mau sepeda, aku bisa belajar sama ibu aja, nggak usah sekolah." Jawaban Sakti menusuk sanubari Shopiah.


"Ini buat apa bu? Kenapa ada tas gede di sini?" Pertanyaan yang diulang Sakti belum bisa dijawab oleh Shopiah.


Wanita itu hanya mengusap pelan rambut buah hatinya.

__ADS_1


"Lihat deh kak.. Mainan kakak ban nya kok tinggal dua, yang dua lagi kemana?" Shopiah mengalihkan pembicaraan.


"Rusak. Kata ayah, nanti mau dibenerin, diganti pake kayu. Biar awet."


Sakti memang seperti itu, bicara seperlunya saja. Saat anak seusianya suka berkumpul bermain bersama teman-teman sepantaran, Sakti lebih suka bermain dengan ayah ibunya. Menunggu ayahnya pulang bekerja lalu bermain bersama sudah jadi kebiasaannya, sekarang kebiasaan itu menghilang.


Meski begitu, kadang Sakti masih suka melihat ke arah jalan setapak yang biasa dilalui ayahnya. Harapan bocah itu adalah melihat ayahnya kembali pulang. Berkumpul bersama dengannya. Baginya, kepergian ayah adalah mimpi buruk. Dia ingin segera bangun dari mimpi yang menghantuinya ini. Setidaknya itulah yang Sakti pikirkan.


Sore pun tiba. Saatnya Shopiah pergi. Ini sudah jadi keputusannya, dan dia yakin meski sulit tapi nanti Sakti pasti bisa mengerti.


"Pak, tolong ajak Sakti jalan-jalan dulu ya. Mobil travel jemputan sebentar lagi datang." Shopiah selesai bersiap.


"Kamu yang sabar ya. Jangan mikirin Sakti terus, bapak yang momong dia. Kamu fokus kerja saja nanti di kota." Ucap bapaknya Shopiah menepuk pundak Shopiah.


"Kalau bapak masih kuat, bapak lebih memilih melarang kamu pergi, jaga ibu dan anakmu saja. Tapi, kamu tahu sendiri.. fisik bapak tak sekuat dulu..."


Sengaja Sakti diajak jalan-jalan dengan motor bersama mbahnya, agar saat Shopiah berangkat nanti bocah itu tidak menangis atau membuat ibunya tak jadi pergi. Tapi, naluri Sakti sangat kuat.. Dia terus merengek ingin pulang. Merasa mungkin Shopiah sudah pergi, bapaknya Shopiah mengajak cucunya itu kembali pulang.


Pemandangan mengiris kalbu terlihat saat Sakti melihat ibunya masuk ke dalam mobil travel, bocah itu turun dari motor dan berlari sekuat yang dia bisa untuk mengejar ibunya. Mencoba menghentikan laju mobil dengan kekuatan yang dia punya.


"Ibuuuu... Ibuuuu.. Jangan pergi buuu.. Ibu jangan pergi.. Kenapa ibu pergi!! Aku enggak mau sepeda bu, aku nggak usah sekolah!! Ibuuu.. Tunggu aku bu, ibu jangan pergi.." Bocah itu terus berlari. Dia tak tahu jika di dalam travel itu, tangis seorang ibu pecah melihat anaknya berusaha mengejarnya.

__ADS_1


__ADS_2