
Ayu cemas. Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi bapaknya belum juga sampai rumah. Bapaknya pun tak memberi kabar jika beliau akan terlambat pulang.
Beberapa kali gadis itu mencoba menghubungi nomer telepon bapaknya tapi nihil. Tak ada jawaban sama sekali. Makin cemas saja Ayu karenanya. Tak patah arang, Ayu mencoba menghubungi om Ervin. Ayu berpikir jika om Ervin pasti tahu atau setidaknya bisa mencari tahu di mana bapaknya sekarang.
"Mau kemana mas?" Caca bertanya saat melihat Ervin bergerak cepat mengambil kunci motor dan helm setelah mendapat telepon dari Ayu.
"Ayu bilang mas Teguh belum pulang dek. Aku bantu cari dia dulu ya.. Kamu nggak apa-apa kan?" Ervin memegang tangan Caca untuk meminta ijin. Caca membalas genggaman tangan suaminya sambil tersenyum mengiyakan serta memberi pesan agar berhati-hati.
Ervin melajukan motornya cepat, dia menyusuri jalan yang biasanya dipakai Teguh untuk berangkat dan pulang bekerja. Saat sampai di jalan sepi, hampir berdekatan dengan area pemakaman.. Ervin memelankan laju motornya. Dia membuka kaca helm fullfacenya karena dia melihat motor yang dikenali sebagai motor milik Teguh.
Pandangannya menyisir sampai ujung jalan tapi yang dia temukan hanya motor Teguh saja. Sedangkan pemiliknya entah pergi ke mana.
"Enggak mungkin kan malem malem gini mas Teguh nemui mbak Nur.." Ervin bergumam sendiri. Dia melihat ngeri ke arah pemakaman. Bulu kuduknya seketika berdiri. Dia merinding. Seperti ada yang memperhatikan tapi tak ada siapapun.
Makin lama, kondisi jalan yang sepi dan malam yang semakin larut membuat Ervin bergidik ngeri. "Mas.. Oe mas.. Kalau mau main petak umpet jan di sini lah, udah malem juga ini.. Mas Teguh..." Meski takut Ervin masih mengeluarkan suara untuk memanggil sahabatnya itu.
"Hihihi..."
Ervin menaiki motornya. Meski jauh tapi dia bisa mendengar suara tawa itu.
__ADS_1
"Jangkrik.. Enggak usah ketawa gitu, jelek tahu nggak! Kalau berani jan malem malem dong, jangan muncul juga dikira aku berani apa??! Nyampe muncul di depanku.. Tak sumpahin anak cucumu jadi kunti semua!!"
"Hihihi..."
"Ya Allah mas.. Kamu di mana lho, masa iya kamu beneran nyekar tengah malem? Biar apa? Minta ijin mbak Nur buat ka_win lagi? Enggak usah mas.. Aku yakin mbak Nur ikhlas lillahita'ala kalau kamu nikah lagi.." Ervin masih mengira Teguh ada di area pemakaman karena motornya yang ada di sana.
Antara berpikir mau pergi atau tetap di sana, dan ditemani penerangan seadanya dari lampu jalan.. Ervin dikagetkan dengan bunyi ponsel yang bergetar di saku celana.
"Wassyuuu.. Kaget beneran aku, etdah!!!" Ervin mengelus dadanya saking kagetnya. Ponselnya dia ambil, terlihat nama budhe Efa di sana.
"Piye??" Bentak Ervin sedikit emosi.
"Ya Allah maaf budhe.. Enggak maksud gitu aku.. Maaf, beneran dah." Ervin masih duduk di motornya.
"Kamu di mana?" Tanya budhe Efa tak mau membahas lagi bentakan Ervin di awal panggilan telepon tadi.
"Di kuburan budhe." Jawabnya jujur.
"Malem malem gini ke kuburan ngapain? Kamu makin aneh aja tahu enggak! Udah punya anak bini kelakuanmu makin enggak jelas! Mau jadi tumbal pesugihan kamu hah, bisa-bisanya..." Budhe Efa sedikit emosi mendengar jawaban Ervin.
__ADS_1
"Dieh ngomongnya.. Aku cari mas Teguh ini budhe, kata anaknya dia belum pulang kerja.. Aku nemuin motornya ada di.. Eh.. Bentar bentar.." Ervin turun lagi dari motornya saat dia melihat kembali ke arah motor Teguh tadi berada ternyata sudah tidak ada.
"Haloo.." Suara budhe Efa tak dihiraukan Ervin.
'Bukannya tadi motor mas Teguh ada di sini... Kok sekarang enggak ada..' Ervin celingukan mencari benda yang tadi dia yakini sebagai motor milik Teguh.
"Halooooo.. Kamu denger aku ngomong enggak sih Vin??" Bentakan budhe Efa membuyarkan apapun yang sedang Ervin pikirkan saat ini.
"Iya iya.."
"Teguh ada di rumah sakit! Dia kecelakaan. Aku tadi enggak sengaja lihat dia waktu dibawa warga sekitar ke rumah sakit. Aku udah hubungi anaknya, dia mau ke sini katanya tapi aku larang. Udah malem gini, kamu aja yang ke sini buat jagain Teguh." Terang budhe Efa yang langsung membulatkan mata Ervin.
"Lho.. Kecelakaan gimana? Orang jelas-jelas barusan aku lihat motornya ada di sini kok.." Ervin masih ngeyel.
"Yang kamu lihat keranda mayat kali! Lagian malem malem pake acara uji nyali ke kuburan! Buruan ke sini! Aku mau pulang!" Budhe Efa menutup panggilan telepon.
Ervin makin merinding. Tanpa mau menoleh ke kanan kiri, dia langsung tancap gas ingin segera meninggalkan area menakutkan itu.
"Mas.. Enggak jadi nyumpahin aku sama anak cucuku jadi kunti apa.. hihihi.."
__ADS_1
Tak memperdulikan suara yang dia dengar tepat di belakang jok motornya, Ervin makin menggeber motornya makin cepat.