Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 155.


__ADS_3

Djaduk membetulkan letak dasi merahnya. Mukanya masih sama, meski dipoles dengan seember bedak sekalipun. Dia masih tetap Djaduk yang mematenkan dirinya sendiri sebagai lelaki tertampan di muka bumi. Jangan menyalahkan cermin karena jika bisa berucap, cermin itu sudah ingin memaki Djaduk yang betah berdiri dengan senyum bak memedi di depannya.


"Mah, lihat deh.. Suamimu ini, makin hari makin sempurna saja. Dalam hati pasti mamah bersyukur punya lelaki seperfect aku kan mah?" Djaduk terkekeh sambil menaik turunkan alisnya.


Hermiku yang tadi sibuk dengan ponsel di tangannya jadi langsung melihat ke arah Djaduk, mendekati suami narsisnya dengan mata elang seakan ingin menguliti Djaduk saat itu juga.


"Pakai dasi yang benar, kalo terlalu kendor gini bikin halusinasi mu meningkat. Itu nggak baik. Oke?"


"Owee owee mah..." (Oke oke mah)


Apa yang dilakukan Hermiku? Dia menarik kencang dasi itu hingga mencekik leher Djaduk. Hal yang harusnya tidak Djaduk lakukan yaitu membangunkan singa tidur! Hermiku melepaskan pegangan eratnya pada dasi Djaduk saat ayah dari kedua anaknya itu mulai terbatuk-batuk. Hermiku juga tak akan setega itu merenggut paksa nyawa Djaduk dari raganya meski dia sangat ingin melakukannya.


"Mamah kejam banget sih, sakit tau mah.. Kalo aku mati gimana? Jadi janda itu nggak enak lho mah.. Bobo sendirian, nggak ada yang nemenin, nggak ada yang dipegang-pegang kalo bobo.." Tak berani meneruskan perkataannya karena si singa sedang melihat Djaduk dengan tatapan membunuh.


"Otakmu isinya cuma kelonan tidur bareng doang??! Ayo ke kamar mandi!" Hermiku mengisyaratkan agar Djaduk mengikutinya.


Lelaki itu langsung cengengesan membayangkan hal yang iya iya di dalam kamar mandi bersama istri cantiknya. Dia menurut saja mengikuti derap langkah Hermiku. "Tapi mah.. Aku mau kerja lho ya, mamah bersemangat banget sih pagi ini hehehe.." Ucapnya sambil menaik turunkan alis kembali.


"Nggak lama. Tenang aja." Djaduk sudah seperti anak kucing yang menuruti apapun titah majikannya.


Sampai di kamar mandi terdengar Djaduk menjerit karena Hermiku membuatnya basah, basah dalam artian yang sebenarnya. Dia menyiramkan air ke arah Djaduk menggunakan shower.


"Wooow.. Udah mah. Ini apa lho, aku udah mandi, tinggal berangkat ngantor ini! Ya elah..." Sedikit menaikan nada bicaranya, Djaduk tak tahu jika Hermiku bisa seabsurd itu ternyata.


"Pikiranmu mesti di dinginkan sebelum berangkat kerja, otakmu kudu di cuci biar nggak mikirin adegan ranjang terus."


Baru saja puas karena berhasil membuat suaminya terpaksa berbasah-basahan ria oleh kejahilannya, Hermiku justru termakan kejahilannya sendiri. Djaduk menarik cepat tangan Hermiku sehingga wanita bergelar ratu di hati serta istananya itu langsung jatuh ke pelukan mamas Djaduk.

__ADS_1


Kalau Hermiku ratunya lalu Vera siapa? Anggap saja dia selir dari baginda raja Djaduk Mangkulangit.


"Hiih kamu apaan sih! Aku mau nganter anak anak berangkat sekolah! Lepasin!" Hermiku berusaha melepaskan dekapan Djaduk kepadanya.


"Tidak semudah itu ratuku.. Kalau kamu udah bikin aku basah tadi, sekarang giliran ku membalasnya.. Kita mulai dari mana dulu biar kita bisa basah bersama?" Hermiku melotot mendengar perkataan Djaduk.


"Kamu harus ngantor, nanti telat!" Bentak Hermiku ketus.


"Aku bosnya sayang.. Nggak kerja setaon juga nggak bakal bikin kita bangkrut."


Dan begitulah yang terjadi selanjutnya, tidak perlu dijelaskan secara gamblang. Karena akan membuat novel ini berlabel plus dua satu kalau diteruskan.


Keluar dari kamar dengan senyum kepuasan, Djaduk tentu merasa dirinya lelaki paling gagah di muka bumi. Dengan setelan jas rapi, rambut basah klimis disisir dengan jari, dia berjalan bak model dengan karisma pas pasan.


"Lho mas, kok bajunya ganti.. Kan aku udah siapin baju tadi buat kamu dari semalem. Aku sendiri yang milihin dasinya.." Vera terlihat cemberut karena penampilan Djaduk tak sesuai keinginannya.


Vera tak tahu jika suaminya baru setor bibit kecebong ke lahan madunya. Djaduk berdehem kecil sambil melangkah mendekati Vera. "Abis benerin saluran air di kamar mandi tadi dek, shower nya aneh suka nyumpratin air sendiri."


"Kenapa jam segini belum berangkat kerja?" Tanya Vera kemudian.


"Lha kan tadi udah tak kasih tau, abis benerin saluran air. Piye lho..?"


"Mbak Hermiku mana?"


"Di kamar. Istirahat, kecapean abis bantuin benerin saluran air sama aku tadi." Djaduk tersenyum penuh arti.


"Makin nggak jelas kelian ini, kan ada tukang di sini. Ngapain repot repot benerin saluran air sendiri!" Kesalnya membuncah.

__ADS_1


"Kalo nyuruh tukang yang benerin airnya, ya alamat nggak bisa main kieuw kieuw dong.." Ucap Djaduk sepelan mungkin.


Vera tak begitu jelas mendengar perkataan Djaduk. Ingin kembali bertanya tapi sang suami memilih pergi ngantor karena dia merasa sudah terlalu siang. Vera hanya bisa menghembuskan nafas kasar melihat kelakuan konyol Djaduk yang berjalan menjauh sambil bersenandung. Dengan suara pas-pasan, tak tahu letak nada, dan banyak lirik yang seenaknya di ubah karena memang tak hafal, nyatanya tak mengurangi kegembiraan Djaduk pagi ini.


_____


Seorang anak kecil terlihat berjalan menunduk. Dia sendiri, mungkin orang tuanya belum sempat menjemputnya.


Ayu mengenali bocah itu, dia segera mengarahkan motornya mendekati si bocah itu.


"Sakti.." Tegur Ayu.


Bocah itu ternyata habis menangis. Matanya memerah, bekas air mata juga masih nampak di sekitar pipinya. Sakti melihat ke arah Ayu lalu menunduk lagi tanpa menjawab panggilan Ayu kepadanya.


"Sakti kenapa dek?" Ayu turun dari motor, bergegas menghampiri Sakti yang malah menumpahkan tangisannya saat itu juga. Semakin di tanya tangisan itu semakin menjadi.


Ayu memeluk bocah lelaki itu guna menenangkan tangisan si bocah. "Udah udah.. Nggak apa-apa, nangis aja.. Mbak Ayu juga kalau sedih nggak malu buat nangis. Tapi, mbak Ayu mau tanya.. Kenapa Sakti nangis gini?"


Banyaknya berita perundungan di kalangan siswa sekolah membuat Ayu ingin tahu alasan Sakti menangis. Dia tidak akan membiarkan bocah ini mendapat perlakuan tak menyenangkan di sekolah yang harusnya menjadi tempat menimba ilmu.


"Mbak.. Tadi mereka bilang aku nggak punya ayah. Aku punya ayah tapi kata ibuk ayah udah di surga, pas aku bilang ayahku udah di surga mereka bilang aku bohong. Katanya aku nggak punya ayah mbak.."


Tangisan itu kembali pecah. Hati Ayu ikut terenyuh melihat tangisan bocah malang ini. Kembali dia memeluk Sakti, agar Sakti merasa lebih tenang.


Dulu Ayu juga pernah berada di posisi Sakti. Selalu di ejek tidak punya ibu. Saat anak lain berangkat dan pulang sekolah di jemput orang tuanya, hanya Ayu yang pulang sendiri dengan berjalan kaki. Dia akan senang bukan kepalang sewaktu bapaknya bisa menyempatkan diri untuk sekedar mengantar atau menjemputnya di sekolah meski hanya berboncengan dengan sepeda tua.


"Jangan dengerin ucapan mereka ya Sakti, Sakti anak kuat. Sakti anak ayah yang sholeh, jangan buat hati Sakti sakit dengan mendengar ejekan mereka. Kamu tau kenapa ayah Sakti lebih dulu pergi ninggalin kamu juga ibu mu?" Ayu menghapus air mata Sakti yang masih terisak, sepertinya ucapan teman-temannya benar-benar membuat Sakti sakit hati.

__ADS_1


"Karena Allah sudah menyiapkan surga Nya untuk nanti ditempati Ayah, ibu juga Sakti. Ayahnya Sakti sedang menjaga surga terindah Allah untuk nanti kelian bisa berkumpul bersama. Do'ain ayah ya.. Agar ayahnya Sakti tenang di sana, kasih tau ke ayah lewat doa jika sekarang Sakti sudah pintar menghafal dan melantunkan surat al fatihah sendiri, kasih tau ayah juga lewat doa jika Sakti anak yang kuat. Yang suatu saat menggantikan posisi ayah untuk menjaga ibu, ya?"


Sakti mengangguk. Tapi tak bisa dipungkiri, rasa sakit di hati bocah itu masih terasa. Setidaknya ada seseorang yang peduli dan menghibur bocah itu saat dunia tidak memihak kepadanya.


__ADS_2