Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 136. Saran


__ADS_3

Tak seperti biasanya, Selvi tak lagi bersolek. Hari ini juga dia agak pendiam. Ayu menawarinya makan tapi dari pagi tak dia sentuh sama sekali.


Selvi bahkan belum keluar dari kamarnya, seperti sedang introspeksi diri dengan kesalahan yang dia buat selama ini atau sedang merakit suatu rencana yang hanya dia sendiri yang mengetahuinya.


"Tante mu kemana Yu?" Tanya Teguh pada anaknya setelah meletakkan sajadahnya kembali ke dalam kamar tamu karena tadi beliau baru saja shalat dzuhur di mushola dekat rumah pakleknya.


"Ada pak di kamarnya mungkin, tapi dari pagi Ayu tawari makan nggak mau.."


Selama tujuh hari setelah meninggalnya bu Indun, Teguh serta Ayu memutuskan tinggal sementara bersama keluarga pak Darmaji. Jujur saja, Teguh khawatir dengan kondisi pamannya itu. Di usianya yang tak lagi muda, beliau malah mendapati kenyataan jika anaknya yang dia harap bisa mengangkat derajat kedua orang tua malah bertindak jauh dari kata terpuji.


"Kenapa lagi itu orang.."


"Kalau mbah Kong kemana?" Tanya Teguh berikutnya.


"Ada pak, tadi habis makan.. Ke belakang kayaknya." Ayu menunjuk arah belakang di mana di sana ada empang yang kemarin dipakai Teguh untuk menceburkan Selvi di dalamnya.


Teguh mengerti, dia langsung beranjak menuju ke tempat pakleknya berada. Dia melihat pakleknya di sana. Duduk sendiri melihat ke arah ikan berenang.


"Assalamu'alaikum, paklek ngapain di sini?" Teguh memposisikan diri duduk di sebelah pakleknya.


"Wa'alaikumsalam, besok kamu udah balik ke rumah mu sendiri ya?" Bukannya menjawab pak Darmaji malah balik bertanya.


"Iya paklek.."

__ADS_1


"Guh, kenapa aku ndak bisa kayak kamu.. Sekarang aku baru tau, jadi kamu ndak semudah yang aku lihat.. Ndak segampang yang aku bayangkan.. Kamu hebat Guh.. Kita ini sama-sama punya anak perempuan tapi kamu bisa mendidik Ayu dengan cara yang benar, dan aku.. Meski aku momong Selvi bareng bulekmu.. Tapi kok ya ndak bisa sesabar kamu."


" Kamu sudah lama hidup sendiri.. Dan kamu ikhlas, kamu tabah, kamu teguh dengan pendirian mu waktu aku minta kamu cari istri lagi.. Tapi aku, baru ditinggal pergi bulekmu beberapa hari rasanya udah ndak sanggup.. Aku ndak bisa kehilangan dia Guh. Aku ndak sanggup meneruskan hidup dengan beban seperti ini.."


Suara itu pelan tapi tetap terdengar. Teguh ikut melihat ke arah ikan berenang,


"Tiap aku mau menyerah.. Senyuman Ayu selalu memberiku dorongan untuk bangkit. Tangisan Ayu seperti cambuk untukku agar aku bisa menjadi orang tua yang baik untuknya. Dan pandangan kesedihan Ayu saat berkunjung ke pusara ibunya membuat ku berusaha menjadi bapak serta ibu bagi nya.. Sebisaku, semampuku.." Ucap Teguh.


Tak kuasa paklek langsung membasahi netranya dengan air mata. Lelehan bening itu timbul karena terharu dengan jawaban singkat Teguh. Dia malu, sebagai orang yang lebih tua malah ingin menyerah dengan keadaan seperti ini.


"Selvi memang salah.. Tapi, kita harus ada untuknya jangan terus menerus menghujatnya dan menghakiminya seolah kita manusia yang lebih baik dari pada dia.. Maaf paklek tapi kita justru mendekatkan diri padanya juga untuk memberikan semangat agar dia bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Dari kemarin dia bilang mau menggugurkan bayinya, hal yang pasti akan membuat dia terkena masalah yang lebih fatal lagi. Karena membunuh termasuk kejahatan serius. Kita bisa pelan-pelan bicarakan ini padanya, kita terima apapun keadaan dia sekarang ini.." Saran Teguh saat melihat pakleknya menangis seperti itu.


"Iya Guh.. Aku yang salah.. Aku.. Aku ndak mudeng jadi orang tua, aku cuma nyalahin dia terus.." Ucapnya memegang pelipisnya sendiri.


"Aku ke dalam dulu paklek.." Ijin Teguh kepada pakleknya. Pak Darmaji diam tanpa menjawab.


'Mbakyu.. Lihatlah Teguh mu sekarang.. Aku yakin kamu pasti bangga padanya, cara berpikirnya tidak kolot seperti ku.. Dia bisa memberi solusi pada masalah dengan kepala dingin dan cara yang masuk akal.. Didikan mu berhasil mbakyu, Teguh menjadi orang sholeh yang sesungguhnya..'


___


"Aku agak sibuk hari ini dek.. Kamu bisa kan kontrol kandungan sama mamah aja? Atau sendiri kan bisa ya.. Kamu udah gede ini hehehe" Djaduk terlihat memasang dasi di lehernya.


Vera menatapnya tajam. Berjalan mendekati Djaduk dan menarik dasi itu sehingga kencang mencekik leher suaminya.

__ADS_1


"Kamu yang bikin anak, bukan mbak Hermiku atau aku sendiri yang bikin!! Kamu kan bos sibuk apa sih nyampe nggak sempet nganterin aku periksa hari ini??" Vera belum mengendurkan simpul dasi di kemeja Djaduk.


"Auuu aaakkhh isaaa ampaaass hiinii!!!" Seru Djaduk terbata-bata.


"Hiih kezeel!!" Kata Vera melepas jeratannya.


Djaduk terbatuk-batuk oleh ulah istri keduanya itu. Untung aja cinta, kalau nggak pasti sudah di bales nyekik wanita di depannya ini.


Memang Vera sangat manja saat hamil anak Djaduk, semua musti ditemani suaminya. Apapun. Hanya tidur saja yang dia tak mau ditemani suaminya. Aneh? Nggak.. Nyatanya Vera lebih suka terlihat harmonis di luar tapi jika berduaan dengan Djaduk dia lebih memilih mengasingkan diri.


"Udah aku nggak mau tau, pokonya temenin aku periksa hari ini! Titik." Terang Vera seperti anak kecil.


"Belum belum.. Masih koma dek, aku tak kerja dulu, iya iya nanti tak temenin.. Tapi sorean dikit ya. Soalnya rapat tender ini harus aku sendiri yang hadiri lho, biar makin kaya kita.. Ya kan? Seneng kan kalo nanti anak kita lahir, kado buat dia bukan mainan dari atom harga dua puluh ribu tapi langsung tak beliin pabriknya. Ini kan demi kamu dan anak kita juga dek.. Sayang, maniees, jangan manyun dong ya.. Nanti sore ya? Oke??" Tawar Djaduk diiringi senyum smirk nya.


"Nggak mau! Nggak doyan pabrik atom! Aku maunya kamu ikut ke dokter juga, nggak ngerti aku deh.. Dulu waktu mbak Hermiku hamil apa nggak pernah kamu anterin ke sana sininya hah??" Masih dengan gaya merajuknya.


"Lhaa.. Kalo mamah malah ogah deket-deket aku dek, hamil pertama dan kedua nggak mau aku di sampingnya. Sampe lahiran aja nggak ngabarin. Dia mandiri hahaha" Djaduk tertawa lepas mengingat persalinan kedua anaknya dari Hermiku.


"Karena aku eneg deket kamu. Sekarang aja aku masih nggak percaya bisa punya dua anak dari kamu." Hermiku meletakkan tasnya secara elegan di meja bundar besar di ruangan itu. Dia akan pergi sepertinya dengan tampilan yang terlihat wah sekali.


"Mamah kok gitu... Kan kedua anak kita udah jadi bukti gimana cintanya kamu ke aku mah, dan gimana garangnya aku ngacak-ngacak kasurmu hahaha" Lagi-lagi orang kaya satu ini bicara absurd.


"Mukamu lama-lama yang ku acak-acak! Siniin black card mu, aku mau pake!"

__ADS_1


Djaduk berhenti tertawa dan merengut seketika saat baginda ratu meminta jatah bulanannya. Vera hanya tersenyum masam melihat pemandangan menggelikan yang terjadi di depan matanya.


__ADS_2