Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 146. Antara Dua Pilihan


__ADS_3

Jam 21.15, Ayu melipat sajadah rapi di taruh kembali ke dalam almari. Keluar dari kamar, ada Teguh menyambutnya dengan seulas senyum. Ayu berjalan mendekati bapaknya.


"Akhir-akhir ini bapak sering pulang malem. Banyak pesanan ya pak?" Ayu langsung duduk di sebelah bapaknya.


"Iya Yu. tempat kerja bapak buka outlet baru dan belum ada yang pegang di sana. Bapak mondar-mandir ngecek juga mantau kerjaan di dua tempat. Kamu sudah makan?" Teguh bertanya.


"Sampun pak. Pak, Ayu mau ngomong.. Hmm Bapak ada deket sama temen perempuan nggak, selain tante Caca sama budhe Efa lho ya. Itu nggak masuk itungan."


Mendapat pertanyaan demikian dari anaknya, Teguh sedikit banyak tahu kemana arah tujuan pertanyaan Ayu sebenarnya.


"Ada. Bulek Juju, tante Selvi.. Udah kayaknya. Bapak baru sadar kalo nggak punya banyak kenalan Yu hahaha." Tawa Teguh malah mendapat balasan muka cemberut dari Ayu.


"Hahaha.. Kamu kenapa manyun gitu? Tambah bulet aja itu pipimu nduk."


"Bapaaak.." Ayu sedikit merajuk. Meski sudah remaja, tak ada larangan bermanja dengan orang tua sendiri kan?


"Yu, bapak ngerti kamu mau tanya apa. Tapi, buat sekarang.. Yang bapak butuhkan bukan pendamping hidup. Karena bapak masih punya tanggung jawab besar menyekolahkan kamu hingga lulus. Setelah lulus pun tanggung jawab bapak tidak berhenti sampai di situ, bapak akan tenang jika kamu sudah memiliki imam yang membimbing mu, seseorang yang bisa menjaga mu, menerima lebih dan kurang mu, juga menyempurnakan ibadah mu. Sampai saat itu tiba, bapak tidak pernah berpikir untuk mencari pengganti ibu mu." Teguh membuat mata Ayu berkaca-kaca.


"Jadi kalau Ayu udah nikah bapak baru mau cari pasangan gitu pak?" Ayu tak berani melihat bapaknya. Rasanya air mata itu sudah menggenang di pelupuk mata.


"Ya tidak. Bapak sudah tua. Buat apa nikah lagi?"


"Oiya Yu.. Bapak juga mau tanya sama kamu, Reza itu siapa?"


Ayu terkejut bapaknya menyebut nama Reza. Air mata haru tadi buru-buru dihapus agar tak terlihat oleh bapaknya.


"Dia kan temen Ayu pak. Bapak lupa? Dari SD kami bareng-bareng. Kenapa pak?"


"Oowh.. Temen?" Teguh tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Iya temen pak. Kenapa lho pak?" Ayu seperti dibikin naik rollercoaster oleh bapaknya sendiri. Tadi dibuat haru dengan penuturan bijak beliau kini dibikin malu hanya dengan dua kata 'owh temen' nya tadi.


"Dia sering delivery roti dari toko bapak tapi dikirim ke panti asuhan juga panti jompo daerah sini Yu. Masih muda tapi punya jiwa sosial tinggi. Itu yang bapak baca dari karakternya."


"Awalnya bapak pikir dia melakukan itu hanya sekedar pamer menyombongkan diri, tapi suatu kesempatan bapak lihat sendiri tak hanya di toko tempat bapak bekerja saja dia memesan makanan tapi juga pada penjual makanan di pinggir jalan."


"Kami pernah bertemu nduk, dia cerita banyak.. Tentang dirinya, kuliahnya, juga tentang temannya yang dia jadikan motivasi untuk terus memperbaiki diri."


Teguh memperhatikan anaknya yang serius mendengar ceritanya.


"Lanjutnya besok saja. Bapak mau mandi, wudhu belum sholat." Ayu langsung terdengar memanggil bapaknya gemas. Sedangkan Teguh malah tertawa membalas suara panggilan anaknya yang kesal karena cerita tentang Reza yang sengaja dia potong barusan.


_____


"Kamu nggak mau deketin Ayu kayak Reza itu? Nggak bahaya tah kalo misal kalah start sama temen sendiri?" Wildan bertanya pada Ganesh yang terlihat santai dengan sebatang rokok diapit di sela bibirnya.


"Iya tau kalo jodoh nggak akan kemana, tapi kalo kamu nya diam di tempat tanpa melakukan apa-apa juga itu jodoh yang bakal melipir kemana-mana." Wildan tertular menyomot rokok yang ada di depannya.


"Kamu kok keliatan nggak serius pengen dapetin Ayu to Gan, ikhlas kalo Reza tau tau ngasih kamu undangan?" Masih kepo Wildan kembali bertanya.


"Undangan apa? Mau sunatan dia? Nggak usah aku kasih tau gimana caraku deketin Ayu, aku tipe orang yang bergerak dalam diam. Males kebanyakan gimik." Kali ini Wildan tersenyum mengejek.


"Reza bukan kebanyakan gimik Perguso, dia lagi berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan. Memperjuangkan sesuatu dengan hal nyata itu namanya." Wildan membela Reza karena di matanya Reza memang pantas bila bersanding dengan Ayu.


Bukan tak mendukung Ganesh yang dia tahu juga menyukai Ayu tapi setahu Wildan, Ganesh hanya diem tanpa melakukan apapun. Tidak seperti Reza yang terang-terangan menunjukkan ketertarikan kepada Ayu.


"Aku mau lulus kuliah dulu. kerja cari duit, biar nggak dikata nadah duit orang tua mulu. Deketin cewek tapi modal dengkul pasti diketawain Patrick, plankton sama jajarannya."


"Biar jodohku di jagain Reza dulu. Nanti kalo aku udah sukses dan bisa berdiri di kaki sendiri, aku bakal ambil apa yang seharusnya jadi milikku." Ganesh meneguk es soda lemon di depannya.

__ADS_1


"Semprul! Butuh berapa tahon nyampe kamu sukses Gan? Bisa-bisa Reza sama Ayu udah nikah punya anak selusin, kamu baru dateng? Di situ kamu bakal nyesel.. Karena penyesalan selalu datang belakangan!" Wildan ngakak aja.


"Kamu yakin Ayu suka sama Reza?" Senyum Wildan hilang. Sekarang Ganesh yang tersenyum smirk.


"Aku kan bilang tadi.. Aku bergerak dalam diam. Kamu nggak bakal ngerti. Otakmu nggak bakal sanggup buat mikir sampai sana."


Ganesh melangkah ke parkiran. Meninggalkan Wildan yang pusing karena ucapannya tadi.


'Kamu nggak akan ngerti Wil seperti apa usahaku, ngalah tentu bukan jalan ninja yang aku pilih. Tapi menyerahkan semuanya pada Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati.. Teguhkan lah hatiku dan hatinya agar suatu saat bisa saling menggenggam dalam satu ikatan halal, pernikahan.'


Ganesh melajukan motor dengan kecepatan sedang. Kampus Ayu adalah tujuannya. Nggak terburu-buru, karena dia tahu Ayu masih ada kelas sekarang ini.


Dan Ganesh sampai tepat pada waktunya, ketika Ayu keluar bersama teman-temannya sambil berbincang ringan sesekali senyum itu timbul di wajah manisnya.


Tak langsung nyamperin Ayu, Ganesh hanya memperhatikan Ayu dari sisi jalan. Pandangan mereka bertemu juga akhirnya, meski menggunakan helm full face.. Ayu bisa tahu siapa yang nangkring di atas motor tanpa beranjak dari si kuda besi tersebut.


Ayu mengangguk ke arah Ganesh, seperti meminta ijin untuk kembali melanjutkan obrolan bersama teman-temannya. Ganesh melakukan hal yang sama. Yang artinya memberi ijin untuk itu.


"Siapa sih Yu?" Tak menjawab pertanyaan temannya, Ayu malah mendorong temennya itu agar tak terus melihat ke arah Ganesh.


Ganesh mengetikkan sesuatu di ponselnya. Dan tak perlu waktu lama, pesan singkat terkirim ke nomer Ayu.


'Jangan terlalu manis gitu kalo senyum. Mataku kuat lihatnya, nggak tahu kalo jantungku.'


Ayu melihat ke arah Ganesh dan membalas pesan cowok itu.


'Lain kali kalo ke sini jantungmu ditinggal aja, biar kuat liat senyumku.'


Ganesh terkekeh membaca pesan Ayu. Siapa yang sebenarnya Ayu suka? Reza atau Ganesh?

__ADS_1


__ADS_2