Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 71. Iri?


__ADS_3

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu adalah seorang remaja berusia tujuh belas tahun dan tinggal sendiri di rumah tanpa pengawasan orang tua? Bebas? Senang? Atau malah kesepian?


Dinda membuang ponselnya malas, pesan dari mamahnya tak ingin dia balas. Hanya basa-basi menanyakan kabar, lucu sekali bukan kah kalau mamahnya benar-benar sepeduli itu kepadanya beliau bisa tinggal bersama Dinda di sini. Atau sesekali berkunjung pun tak apa, tapi lihat.. Vera hanya mengirim chat singkat. Seperti yang ditanyai adalah orang yang baru dia kenal.


"Akan lebih baik kalau aku enggak punya mama.. Seperti Ayu..." Ucap Dinda bergumam sendiri.


Dinda mengambil kunci motor, dia ingin menenangkan hatinya. Rumah Ayu adalah tujuannya. Tapi saat dia baru memasang helem di kepalanya, Wildan mencolek pundaknya.


"Mau kemana Din?" Wildan sudah rapi dan wangi juga terlihat tampan.


"Ke rumah Ayu. Napa? Minggir sana.. Ku tabrak juga ntar!" Dinda cuek saja dengan kehadiran Wildan.


"Ke rumah Ayu? Mau ngapain? Mending ikut aku yuk, aku mau ke pesta ulang tahun temenku. Kudu ngajak pasangan. Aku enggak punya." Wildan mengatakan maksudnya menemui Dinda.


"Males. Ya kali aku sebe_go itu mau ngikut kamu buat jadi syarat biar kamu bisa ke pesta!" Dinda mendengus kesal.


"Ayolah Din.. Tolongin aku sekali ini aja, ya ya.. Aku enggak enak Din kalau nggak dateng ke sana." Wildan menunjukkan muka memelasnya.


"Apa untungnya buatku kalau bantuin kamu?"


"Untung banget lah, kamu bisa jalan sama aku yang keren ini. Anugerah banget kan?" Wildan mengedipkan sebelah matanya.


"Mimpi aja sana. Awas!!" Dinda sudah berniat pergi. Tapi tangan Wildan mencegah kepergian Dinda. Dinda melihat Wildan sesaat, "Oke. Tapi aku enggak mau nemenin kamu nyampe pestanya kelar! Aku ada urusan sendiri!"


Bukan main senangnya Wildan saat mendengar penuturan Dinda. "Serius Din kamu mau?? Weh makasih ya. Bentar aku ambil motor dulu." Wildan kembali ke rumahnya, karena memang rumah mereka berdekatan hanya perlu jalan kaki untuk menuju ke rumah masing-masing. Dan Dinda kembali masuk ke dalam rumah untuk mengganti baju.


__ADS_1


____


Dinda merasa asing di sana. Tak ada yang dia kenal, hanya Wildan dan Reza yang bisa dia deteksi sebagai temannya. Pandangan mata Dinda menyisir seluruh ruangan, membosankan. Itulah yang dipikirkan gadis remaja itu.


"Kamu pacarnya Wildan?" Tanya seorang lelaki menghampiri Dinda. Dinda tak menanggapinya. Hanya melihat lelaki itu yang sekarang berdiri di sampingnya.


"Kamu denger enggak aku tanya?" Sedikit kesal karena tak digubris.


"Eh bro.. Selamat ulang tahun ya.. Kenalin ini Dinda, cewekku hmm Din.. Ini Ganesh yang ultah." Wildan tersenyum sumringah.


"Bro cewekmu kek pendingin ruangan ya." Ucap Ganesh mencibir.


"Jangan gitu bro.. Susah payah ku ajak dia biar mau ke sini.. Kamu sih bikin party aneh bener pake kudu bawa gandengan segala." Wildan hampir keceplosan jika sebenarnya dia tak memiliki pasangan.


"Biar seru bro. Ya udah, aku balik ke sana.. Itu si Reza bawa siapa? Buset.. Kirain mau bawa Ayu." Ganesh menghampiri Reza.


"Din.. Sorry ya.. Kamu enggak nyaman ya? Apa kita pulang aja?" Wildan merasa tak enak hati, sejak datang tadi Dinda tak sedikitpun bicara. Baik padanya atau kepada siapapun yang ada di sana.


"Ya kenal. Kan mereka pernah lomba cerdas cermat dulu, sekolah Ganesh kalah lawan sekolah Ayu. Waktu itu Ganesh penasaran sama Ayu, dideketin.. Tapi Reza bilang kalau Ayu ceweknya. Ya udah.. Ganesh mundur teratur." Wildan menjelaskan.


'Kenapa semua orang suka sama Ayu? Apa yang istimewa dari dia..'


Tiba-tiba muncul sifat iri di hati Dinda pada sahabat yang sedari kecil ada untuknya. Apalagi waktu Ayu datang ke pesta itu, dia melihat Ayu datang dengan bapaknya. Dinda sedikit kesal, kenapa dia datang dengan bapaknya? Bukankah ini pesta untuk anak muda? Dinda bahkan menunduk saat Ayu berjalan ke arahnya.


"Ayu.. Kirain kamu enggak bakal dateng." Ganesh menyapa Ayu.


"Dateng, aku tanya bapak dulu.. Boleh dateng apa enggak.. Terus bapak bilang iya enggak apa-apa.. Terus aku ajak aja bapak ke sini." Ayu tersenyum lebar.

__ADS_1


"Alhamdulillah deh.. Masih sama om, malem om.. Maaf ya om repotin om buat nganterin Ayu ke sini di acara yang enggak seberapa penting ini..." Ganesh merendah. Padahal siapapun yang melihat acara itu pasti tahu jika pesta itu sangat wah.


"Selamat ulang tahun ya." Ucap Teguh tersenyum ramah.


Pemandangan itu makin membuat Dinda iri pada Ayu. Kenapa bapaknya Ayu seperhatian itu? Kenapa mamahnya enggak bisa kayak paklek Teguh? Kenapa cuma Ayu yang selalu jadi pusat perhatian, di manapun.. Selalu Ayu! Apa kurangnya dia? Tak ada! Dia cantik, bahkan lebih cantik dari Ayu! Tapi kenapa??


Pertanyaan demi pertanyaan di hatinya mulai membuat embun di mata Dinda.



"Yu.. Kamu cantik banget.." Wildan memuji Ayu di depan Teguh. Teguh yang berdehem membuat Wildan salah tingkah.


"Eh om.. Hehehe.. Maaf om, abis anaknya om ini emang kayak bidadari.. Kira-kira umur berapa ya om Ayu boleh nikah?" Candaan Wildan hanya ditanggapi gelak tawa Teguh.


Ayu melihat Dinda. Tapi Dinda malah keluar dari ruangan itu saat Ayu mau menghampirinya.


"Itu tadi Dinda kan Wil?" Ayu bertanya.


"Iya. Eh mau kemana dia? Ya udah aku samperin Dinda dulu ya Yu, om.. Soalnya tadi dia ke sini bareng aku." Setelah berpamitan juga dengan Ganesh, Wildan pergi menyusul Dinda.


"Pak.. Dinda kenapa ya pak?" Ayu bertanya pada bapaknya.


"Sayangnya bapak juga enggak tahu Yu. Ini udah kayak gini aja? Bapak tunggu di luar ya. Takutnya kamu malu dianter bapak ke sini.. Siapa tahu kamu mau ngobrol sama temen-temen mu tapi enggak bebas karena ada bapak."


"Enggak usah pak. Aku malah seneng pak ditemenin bapak di sini, lagian lucu si Ganesh ini masa harus bawa pasangan biar bisa dateng ke sini.." Keduanya asik mengobrol.


"Huum harusnya kamu bawa pacar ya Yu? Kok malah ajak bapak. Kamu jomblo ya hahaha." Teguh tertawa lebar.

__ADS_1


"Hiiih bapak apa sih.." Ayu ikut tertawa setelahnya.


Ada sepasang mata yang terpukau dengan kecantikan yang dilancarkan Ayu malam itu, hanya bisa melihat dari jauh tanpa berani mendekati..


__ADS_2