Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 57. Kebersamaan Singkat


__ADS_3

Theo tersenyum mengingat apa yang barusan dia lakukan dengan janda satu anak yang merupakan pacarnya. Kegiatan menautkan bibir antara dirinya dan Vera sudah jadi rutinitas setiap mereka bertemu. Pacarnya itu dewasa, cantik, juga sangat manja kepadanya. Tapi tak apa, Theo suka.



"Aku pulang dulu ya yank.." Theo mengecup kening Vera.


"Besok ke sini lagi ya mas.." Vera jadi makin manja pada Theo.


"Kenapa? Apa aku nginep aja ini..? Jangan bikin aku enggak tega ninggalin kamu yank.. Kamu merengek seperti ini saja udah bikin kakiku mager enggak mau ke mana-mana." Theo memeluk Vera.


Keduanya sudah seperti pasangan muda yang baru pertama kali dimabuk asmara. Begitu mesra di setiap kesempatan.


Meninggalkan pasangan bucin akut di atas sana, pagi itu Ayu sudah hampir sampai di sekolahnya. Berangkat lebih pagi setiap hari, Ayu memang punya kegiatan lain selain tujuannya agar tidak telat masuk sekolah nantinya.


Ayu memasuki gubuk tua yang berjarak beberapa meter dari area sekolahnya. Di dalam sana ada seorang nenek tua yang duduk tersenyum melihat kedatangannya. Dengan tongkat yang selalu ada di tangan, nenek itu berjalan menghampiri Ayu.


"Kok pagi sekali sudah sampai sini nduk? Kamu jangan ngebut-ngebut naik sepedanya.. Takut jatuh nanti." Sekarang nenek itu ada di depan Ayu.


"Ndak apa-apa mbah. Mbah, ayo sarapan dulu. Nanti jam istirahat seperti biasa Ayu pasti ke sini lagi ya..." Ayu sudah membuka bungkus nasi yang dia bawa, dia suapkan kepada nenek sepuh di depannya.


"Yu.. Nduk.. Nanti siang mbah ada tamu,"


"Siapa mbah? Anak mbah yang di Jakarta pulang?" Ayu dengan sabar meladeni nenek itu supaya mau makan.


"Mungkin.. Yu, mbah pesen sama kamu ya nduk.. Jadilah anak yang berbakti kepada orang tuamu. Ingat nduk.. sesukses apapun kamu di kemudian hari nanti, semua itu adalah hasil kerja keras orang tuamu. Hasil doa-doa mereka, sujud mereka, dan cucuran keringat mereka.. Jangan lupa itu ya nduk..."

__ADS_1


Di depan Ayu, ada seorang nenek sepuh yang kemampuan penglihatannya sudah jauh menurun. Keseharian beliau berjualan singkong dan ubi rebus yang dia tanam sendiri di tanah kosong samping gubuknya. Sekedar info, tanah yang ditanami singkong dan ubi itu juga bukan kepunyaannya. Pemiliknya berbaik hati membiarkan tanahnya dipakai untuk bercocok tanam si mbah.


Tak jarang apa yang beliau jajakan tak laku sama sekali meski sudah seharian berjualan. Di jaman sekarang, singkong dan ubi rebus jarang atau mungkin sudah tak ada peminatnya. Banyak makanan lain yang lebih menarik perhatian dengan ragam rasa yang ditawarkan.


Ayu mengenal si mbah di depannya itu sewaktu beliau berjualan di depan area sekolahnya. Tak ada yang melirik dagangan si mbah, dari pagi dia berjualan sampai jam pulang sekolah tak satupun dagangannya terjual. Di situ Ayu merasa iba. Dengan uang saku seadanya dia membeli singkong rebus yang sudah di bungkus dalam plastik bening. Dan mulai hari itu, Ayu rutin membawakan sarapan untuk si mbah yang dia sendiri tak tahu siapa namanya hingga sekarang. Ayu hanya memanggil beliau mbah tanpa menanyakan siapa nama beliau.


"Nduk.. Besok ndak usah ke sini lagi yo cah ayu," Ucap si mbah lirih saat Ayu beranjak dari duduknya.


"Kenapa mbah? Jangan larang Ayu main ke sini mbah, bapak ndak marah kok.. Justru bapak yang minta Ayu buat bawain mbah sarapan tiap hari."


"Bapakmu orang baik.. Andai saja anak mbah seperti bapakmu.. masa tua mbah ndak akan seperti sekarang ini.." Kesedihan terdengar dari nada suaranya.


Ayu ingin sekali berlama-lama dengan si mbah, tapi waktu menghalangi niatnya. Bel tanda pelajaran di mulai sudah terdengar sampai rumah si mbah. Setelah pamit, Ayu bergegas meninggalkan rumah si mbah. Rasa tak tega memang ada, tapi bagaimana lagi.. Dia juga tak bisa terus menemani si mbah di rumahnya.


Sebuah panggilan mengagetkan Ayu. Guru di kelas memanggilnya untuk maju di depan kelas, meski awalnya gelagapan tapi dengan mencermati keterangan yang ada di papan tulis, Ayu tahu harus melakukan apa setelahnya.


Jam istirahat yang ditunggu tiba. Siswa SMP negeri 1 Grobogan dibuat heboh dengan kabar meninggalnya nenek tua penjual singkong rebus di rumahnya. Ayu yang mendengarkan berita itu dari salah satu temannya langsung berlari ke rumah si mbah. Di rumah beliau sudah penuh dengan tetangga yang melayat. Dari sekian banyak orang, pandangan mata Ayu tertuju pada sosok lelaki yang menangis meraung-raung meratapi kepergian si mbah.


Ayu tak kuasa menahan air matanya, di tempat yang sama.. Tadi pagi dia menyuapi wanita itu. Beliau dengan senyumnya melarang Ayu tak datang lagi ke rumahnya esok hari, beliau dengan tenangnya mengatakan mungkin anaknya akan datang, dan baru beberapa jam Ayu meninggalkan rumah si mbah.. Ayu mengerti kenapa si mbah melarangnya berkunjung lagi ke rumahnya, Ayu juga paham saat si mbah bilang.. mungkin akan ada tamu di rumahnya siang nanti.


Ayu menangis.. Dia kehilangan sosok itu. Sosok sabar dan kuat dalam waktu bersamaan. Tak mengeluh dengan keadaan, meski raga tak lagi muda, berjalan saja dibantu tongkat sebagai kaki ketiganya.. Tapi tak pernah beliau mengeluh dengan semuanya. Tak harus mempunyai ikatan darah untuk menjadi sebuah kelurga.. Ayu dan si mbah penjual singkong itu membuktikannya. Pertemuan singkat mereka mampu menorehkan kenangan abadi di dalam hati.


"Maaaak.. Ya Allah mak.. Ini Yanto datang mak.. Mak.. Maafin Yanto!! Maaak.. Yanto menyesal mak.." Lelaki itu terus berteriak seperti orang kerasukan. Meski berulang kali tetangga menenangkannya supaya ikhlas tapi tangis lelaki tadi makin menjadi.


**

__ADS_1


Sebening tetesan embun pagi


Secerah sinarnya mentari


Bila ku tatap wajahmu ibu


Ada kehangatan didalam hatiku


Air wudhu selalu membasahi mu


Ayat suci selalu dikumandangkan


Suara lembut penuh keluh dan kesah


Berdoa untuk putra putrinya


Oh ibuku, engkaulah wanita


Yang kucinta selama hidupku


Maafkan anakmu bila ada salah


Pengorbanan mu tanpa balas jasa


**

__ADS_1


__ADS_2