
Puncak dari ritual yang dilakukan Selvi adalah mengubur kemeja milik Ervin dengan beberapa helai rambut yang dia dapatkan tempo hari.
Malam kian larut, dinginnya terpaan angin kala itu bahkan bisa menembus tulang. Suara semak yang berbenturan dengan hembusan malam mewarnai kesunyian. Harap harap cemas Selvi melakukan kegiatannya. Matanya menelisik ke segala arah memperhatikan semoga saja tak ada orang yang melihat apa yang dia lakukan.
Dengan bunga tujuh rupa yang dia dapatkan dari tujuh tempat yang berbeda beserta air dari tiga sumur keramat pemberian mbah Ribut wahgelo dulu, dia mulai ritual mandi kembang guna membuat auranya lebih bersinar. Kata mbah Ribut, nantinya tak hanya Ervin saja yang akan kecantol dengan pesona yang terpancar setelah melakukan ritual tersebut tapi setiap lelaki yang melihatnya akan menatap kagum dan ingin memiliki dirinya.
Jelas hal itu adalah iming-iming yang begitu Selvi dambakan. Sekian lama tak ada lelaki yang mau memacarinya atau sekedar berkenalan mengakrabkan diri dengannya. Padahal, jika dilihat secara fisik.. Selvi tak kalah cantik dengan wanita lain di tempat tinggal mereka.
Dengan cepat dia menyelesaikan mandi kembang itu dan membuang sisa airnya mengelilingi rumahnya. Sebelum itu, dia mengambil bunga di dalam air tersebut agar tak dicurigai siapapun. Dan terakhir, dia melepas semua busananya.. Berbaring tanpa kain penutup untuk menutupi bagian tubuhnya. Semua dibiarkan terbuka.
Selvi tidur dengan mimpi paling indah. Mimpi bersama Ervin yang mendekapnya erat. Menyelimuti tubuhnya dengan kehangatan, rasanya dia enggan untuk terbangun. Rasanya sangat nyata, bahkan dia juga merasakan tangan Ervin menyentuhnya. Di setiap jengkal tubuhnya tanpa melewatkan sedikitpun.
Dia tak tahu jika pesuruh ghoib mbah Ribut yang sekarang sedang menjamahnya. Memang seperti itulah jika bersekutu dengan setan, Selvi akan dibawa jauh mengarungi mimpi tanpa sadar tubuhnya telah dinikmati para jin yang jadi sesembahan mbah Ribut Wahgelo.
______
"Pak, semalem denger nggak dari kamar Selvi ada suara aneh." Tanya bu Indun pada suaminya.
Pak Darmaji membenarkan ucapan istrinya. Kedua orang tua Selvi itu memang mendengar hal aneh seperti orang yang melakukan penyatuan seperti layaknya suami istri.
Rasa penasaran membuat pak Darmaji sampai berdiri berjaga di depan kamar anaknya tapi saat lelaki paruh baya itu mendekati bahkan menempelkan telinganya pada pintu kamar anaknya, suara itu lantas menghilang. Hanya ada kesunyian. Beberapa menit menunggu tak lagi terdengar suara tak senonoh di dalam kamar.
Karena berpikir itu hanya halusinasinya, pak Darmaji kembali ke kamarnya. Sampai di kamarnya pun pak Darmaji tak lantas tidur, dia mengambil sajadah dan tasbihnya. Setelah sebelumnya berwudhu, pak Darmaji melakukan dzikir dan sholat di sepertiga malam.
Kekuatan doa pak Darmaji nyatanya mampu mengusir pergi para jin dan sesembahan mbah Ribut yang sedang berpesta menikmati tubuh anaknya tanpa dia ketahui. Jin dan teman-temannya itu pergi dengan dorongan keras karena doa pak Darmaji.
__ADS_1
Pak Darmaji tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, yang dia lakukan hanya menjalankan perintah agamanya yaitu berdoa untuk keselamatan seluruh anggota keluarganya.
"Vi, kamu kok baru bangun.. Sini sarapan dulu." Ajak bu Indun pada putrinya.
"Nggak lah. Aku mau langsung ke tempat mas Ervin." Jawab Selvi berlalu pergi.
"Kamu melihat kuyu Vi, kenapa? Kamu sakit?" Tanya bu Indun lagi.
"Apa sih buk?! Awas sih buk! Aku buru-buru ini!" Selvi menyingkirkan tangan ibunya yang tadi memegang pergelangan tangannya.
"Selvi! Jangan kurang ajar sama ibumu! Dia itu yang mengandung dan melahirkan kamu!! Jaga cara bicara dan tingkah lakumu padanya!" Hardik pak Darmaji geram melihat istrinya diperlakukan seperti babu oleh anaknya sendiri.
"Udah pak.. Udah, nggak apa-apa.."
"Ya udah, kamu hati-hati di jalan." Bela bu Indun. Bu Indun sangat menyayangi Selvi, dia seakan dibutakan oleh kasih sayangnya pada anaknya itu. Selvi pergi tanpa rasa bersalah dan menoleh ke belakang.
"Kamu terlalu memanjakannya buk. Dia bukan lagi bocah yang harus kamu lindungi, dia sudah dewasa. Harus tahu unggah ungguh dan tata krama, nggak boleh terus dibela seperti yang ibu lakukan tadi. Ngelunjak lama-lama jadinya!" Tegas pak Darmaji menatap kecewa pada istrinya.
"Masih kecil atau udah gede, anak tetep anak pak! Dia kayak gitu juga karena sering kamu marahi, bapak sendiri yang bilang kalau dia sudah dewasa. Ya sudah biarin dia menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa kita recoki dia. Pak.. Selvi tahu apa yang dia lakukan!" Bu Indun selalu seperti itu.
Saat pak Darmaji memarahi Selvi, bu Indun akan sigap pasang badan untuk membela putrinya.
"Tapi tadi kok Selvi kayak orang sakit ya pak.. Pucet gitu."
"Mbuh bu mbuh.. Bapak nggak tahu." Pak Darmaji mengambil caping yang tergantung di samping pintu, dia memakainya dan saat itu bu Indun tahu kemana suaminya akan pergi. Ya, suaminya itu akan ke sawah. Seperti biasanya.
__ADS_1
Sedangkan Selvi telah menunggu di kafe cabang Shela G n S yang dipimpin oleh Ervin, menanti sang pujaan hati datang. Dia berharap Ervin akan terpikat olehnya setelah berbagai macam ritual yang dia lakukan semalam.
"Itu bukannya mbak wewe gambleh yang dulu bikin ribut di sini ya?" Tanya salah satu karyawan pada teman sejawatnya.
"Iya. Mau ngapain dia ke sini?! Aku males kasih servis sama dia. Kamu aja sana, aku nggak pengen pagiku hancur karena nyerfis orang kek gitu." Tutur yang lain.
Selvi tahu dia sedang dibicarakan, cara mereka memandang dan berbisik membuatnya ingin menghampiri mereka dan menarik mulut mereka satu satu. Dia tak suka digunjing seperti itu.
Tapi sebelum dia mulai menghampiri para karyawan yang membicarakannya, Selvi dibuat terkejut oleh tepukan kecil di pundaknya.
Ervin. Ervin datang dan menyapanya, Selvi tentu langsung memberikan senyum terindahnya.
"Baru dateng ya mas?" Tanya Selvi perhatian.
"Iya nih mbak."
Di penglihatan Ervin, dia melihat sosok Selvi yang sangat cantik. Sekilas Selvi mirip Caca, makin dilihat dan diperhatikan, makin miriplah mereka. Tapi, hanya Ervin yang melihatnya begitu mirip dengan Caca. Orang lain akan melihat jika Selvi sangat pucat dan lesu hari ini.
"Mau pesen apa mbak, biar aku yang anterin ke sini buat mbak Selvi." Ujar Ervin yang membuat melongo seluruh kafe. Selvi langsung tersenyum puas.
"Nggak ah mas, aku minta yang lain aja.." Kata Selvi ngadi-adi.
"Iya, minta apa? Mbak Selvi kan sodara mas Teguh jadi nggak perlu sungkan sama aku, tinggal bilang aja. Kalau aku bisa pasti aku bantu." Terang Ervin.
"Minta nomer WA mu boleh mas? Hmm dan aku juga pengen kerja di sini bareng mas Ervin.. Di tempat Teguh karyawannya full.. Aku ditolak kerja di sana." Ucapnya mengulas senyum.
__ADS_1
"Kirain mau minta apa, tentu aja boleh mbak.. Sini ponselnya, biar aku missed call."
Bagai mendapat durian runtuh, Selvi amat girang. Dia tersenyum mengejek pada karyawan yang sejak tadi melihat keakrabannya dengan bos mereka. Masih dengan tatapan mengejek itu, dia arahkan jari tengahnya pada beberapa karyawan yang menatapnya tak suka.