
"Ini ya tempat kerjanya ya, gede banget hehehe.." Sekali lagi senyum itu muncul. Ada kepuasan di hati Selvi ketika membayangkan wajah Ervin yang kaget melihatnya nanti.
"Aku udah cantik kan ya? Ah dari lahir juga aku selalu cantik kok!" Bicara sendiri. Selvi akhirnya masuk ke dalam kafe tempat Ervin bekerja.
"Selamat siang bu, silahkan duduk dan mau pesan apa?" Tanya pramusaji di sana.
Selvi mengerutkan keningnya. Dia memikirkan sesuatu agar bisa bertemu Ervin.
"Hmm.. Mbak, bos nya ada nggak?" Tanya Selvi setelah menunjuk bubble gum ice dan rainbow cake sebagai hidangan yang akan dia makan.
"Mbak Gendis? Atau pak Ervin?" Tanya pelayan itu lagi.
"Iya itu itu.. Ervin eh maksud ku pak Ervin," Mukanya sudah bersemu membayangkan Ervin akan dipanggil karyawan ini dan menemuinya.
"Ada keperluan apa ya bu? Biar saya sampaikan kepada pak Ervin. Beliau sibuk akhir-akhir ini bu."
"Kamu kok cerewet banget sih! Bisa nggak jangan tanya tanya mulu?! Udah sana pergi! Jangan lupa pesanan ku bawain ke sini, buruan!" Selvi mengibaskan rambutnya kesal.
Mbak pramusaji itu bahkan kebingungan dengan sikap Selvi yang dirasa jutek dan galak. Tapi, mbaknya tak ingin membuat keributan di pagi yang indah ini. Dia hanya beristighfar dalam hati lalu pergi meninggalkan Selvi.
Beralih dari Selvi yang masih asik dengan lamunannya, pintu kafe kembali terbuka dengan bunyi khas lonceng sebagai tanda jika ada pelanggan yang memasuki tempat itu.
Setiap orang tersenyum pada sosok yang baru masuk ke kafe itu. Selvi ikut memperhatikan siapa gerangan yang datang dan langsung jadi pusat perhatian setiap orang di sana, mata mereka bertemu, Selvi memicing tanpa senyum.
"Pak Ervin di dalem ya?" Tanyanya kepada kasir yang langsung diberi anggukan dan senyum ramah.
"Bu, kok tumben ke sini? Kangen ya ciyeee.." Ledek si kasir pada perempuan tadi.
__ADS_1
"Sesekali kasih surprise nggak apa-apa kan mbak?" Pesona ibu muda ini tak bisa dipungkiri. Dia anggun dan ramah. Sekali melihat saja, mata tak akan jemu untuk memandang.
"Aku masuk dulu ya mbak." Caca, ya wanita tadi adalah Caca istri Ervin yang sekarang melenggang bebas menuju ruang kerja suaminya.
Selvi langsung tak suka pada Caca. Dari pertama masuk kafe sampai sekarang bayangannya pun tak terlihat karena sudah berada di dalam ruangan Ervin, membuat hati Selvi tak tenang. Ada sesuatu rasa yang bernama iri yang langsung bertahta di hati Selvi.
"Heh, tadi siapa sih?" Tanyanya pada mbak pramusaji yang menghidangkan pesanannya.
"Yang mana bu?" Masih belum mengerti siapa yang dimaksud Selvi.
"Duuh.. Yang tadi lho, yang kecentilan tadi! Yang baru dateng udah sok asik langsung masuk ruangan Ervin tadi!" Selvi ingin mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai siapa saja yang dekat dengan Ervin.
"Oalah.. Itu bu bos, bu. Istri pak Ervin. Bu Caca namanya. Kenapa bu? Cantik ya?" Jawaban sekaligus pertanyaan si mbak tadi tepat menghujam ke kedalaman hati Selvi.
Matanya membulat sempurna. Dia tak menyangka jika niatnya mendekati Ervin malah langsung dihadapkan dengan saingan terberatnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Caca istri sah Ervin.
"Lho, kenapa memangnya bu? Bu Caca memang masih muda kok. Makanya mukanya kayak bocah, itu imut namanya hahaha. Aku juga mau nikah muda kayak bu Caca. Punya suami yang cinta banget sama dia, udah punya anak tapi masih keliatan cantik. Itu impian banget.." Si mbak nggak tahu jika omongannya itu terdengar seperti ledekan untuk Selvi.
"Kamu nyindir aku gitu? Dari tadi kamu kok nyari ribut terus sama aku sih? Siapa nama kamu, biar aku aduin sama mas Ervin! Biar di pecat kamu!"
"Aku salah apa bu? Ibu lho yang sewot mulu dari awal datang. Aku ngomong apa adanya masih aja salah. Aduin aja bu. Aku nggak takut!" Tantang mbaknya tanpa menciutkan nyali. Dia kadung gedek sama Selvi yang dari tadi seperti cari masalah terus.
"Ada apa?" Suara itu... Selvi langsung menoleh ke arah suara yang bisa mendebarkan jantungnya.
"Ini pak. Ibu ini dari tadi nyolot terus ngomongnya." Si mbak ambil start awal untuk mengadu pada atasannya.
"Dieh. Bang_ke! Kamu yang ngomong nggak punya pinggir! Bikin orang emosi, atau kamu emang sengaja mancing emosi ku hah?"
__ADS_1
Ervin meminta mbaknya langsung ke belakang agar tidak terjadi keributan berkelanjutan.
Caca ada di samping Ervin, kembali sorot mata tak bersahabat ditunjukkan Selvi saat pandangan mereka bertemu. Berbeda saat Selvi memandang Ervin, terlihat jelas ada rasa yang sulit diartikan di pancaran matanya.
"Maaf untuk ketidaknyamanannya ini bu." Ervin sendiri yang langsung meminta maaf kepada Selvi padahal dia sendiri tak tahu alasan Selvi adu mulut dengan pegawainya tadi itu apa.
"Duuh mas, kok manggilnya bu terus sih.. Lupa ya sama aku? Aku Selvi mas.." Suaranya dibuat semerdu dan semanis mungkin.
"Oiya. Mbak Selvi ya.." Bermaksud mencairkan suasana, Ervin malah membuat Selvi makin baper kepadanya.
"Mas, aku pulang dulu ya. Mi Cha sama Vincent pasti bikin mbak repot." Caca pamit kepada suaminya karena dirinya merasa tak enak jika menitipkan kedua anaknya terlalu lama ditempat budhe Efa.
"Aku anter aja yank... Dan mbak Selvi, maaf saya tinggal dulu. Oiya sebagai permintaan maaf saya, semua yang mbak Selvi pesan, nggak usah bayar. Silahkan melanjutkan makannya, permisi."
Ervin dan Caca tak tahu jika kepergian mereka mendapat pandangan sinis dari seorang Selvi.
"Apa kelian lihat lihat?? Denger kan apa kata bos kelian tadi? Aku pelanggan vip jadi semua yang aku pesan gratis! Aku minta bungkusin semua kue terenak dan mahal di sini buat ku bawa pulang!!!"
Para pramusaji diam di tempat, hal itu membuat Selvi geram.
"Kelian mau aku aduin sama mas Ervin apa hah? Buruan bungkusin! Lelet banget sih kerjanya!" Bentak Selvi makin emosi.
"Udah lah turuti aja, tuh reog kurang sajen, kasih aja kue yang murah dia nggak bakal tau kok! Yang penting banyakin aja, lagian nggak tau malu amat sih tuh orang, udah ditraktir pak Ervin malah minta bungkus. Dikira lagi makan di warteg?"
"Pelan-pelan ngomongnya, nanti si kunti denger makin ngamuk dia. Lagian siapa sih dia? Pak Ervin kok bisa kenal sama orang model gituan.. Hiiie dikasih satu bawa pulang gratis juga aku ogah!"
Mereka cekikikan. Selvi yang tak tahu sedang dighibah hanya diam sambil melanjutkan makan rainbow cake yang sempat tertunda.
__ADS_1