Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 39. Perintah Orang Tua


__ADS_3

Orang tua Vera datang sore itu. Saat Vera sedang asik dengan wagnya.


"Seneng ya? Senyam-senyum kayak gitu?" Tegur maminya Vera.


"Mi.. Kapan dateng? Sama papi juga, tumben?" Tidak ada ucapan salam saat mereka bertemu. Apalagi berharap ada adegan cium tangan. Tak akan terjadi.


"Dinda mana?" Tanya papinya Vera.


"Main pi.. Ke depan kayaknya. Tadi enggak lihat kah waktu mau masuk sini?" Masih sibuk dengan ponselnya.


"Ver.. Nanti malem mungkin Djaduk mau ke sini. Dia setuju menikah sama kamu. Dan kamu juga jangan sok jual mahal sama dia, kamu tahu kan siapa Djaduk itu? Lelaki kaya raya, kekayaan keluarga kita saja tak sebanding dengan kekayaan keluarga Djaduk." Mami Vera dengan santai mengatakan hal itu.


Terkejut. Vera berdiri membiarkan ponselnya jatuh ke lantai saking kagetnya. Apa ini? Perjodohan lagi? Pikirnya.


"Mami apa-apaan sih? Mi.. Aku enggak mau diatur! Mami sama papi ngerti enggak sih? Lagian siapa itu Djaduk? Aku udah cukup kaya mi, enggak perlu lah nikah lagi sama siapa itu tadi!" Vera mulai menunjukkan kemarahannya.


"Alah.. Kamu kaya juga karena uang dari Cokro masih ada. Kalau nanti tuh duit udah habis, kedepannya kamu mau gimana? Mau ngemis? Hidup gelandang? Mikir Ver.. Kamu enggak pernah kerja, enggak punya keahlian apapun kecuali menghabiskan uang! Jadi terima aja perjodohanmu sama Djaduk!" Bentak mami Vera tak mau kalah.


"Mami mu bener Ver, lagi pula.. Aku sama mami mu sudah tua.. Kami melakukan ini semua untuk kebaikanmu di masa depan. Kita tidak bisa terus bersamamu, setidaknya nanti sebelum papi sama mami mu tidak ada.. Ada orang yang kami percaya bisa menjagamu, menyayangi kamu juga anakmu. Jadi papi harap-"

__ADS_1


"No pi, aku tetep enggak mau dan enggak setuju sama keputusan mami sama papi!" Vera bahkan memotong perkataan papinya yang belum selesai.


Matanya muka berembun, tapi sekuat hati dia menahan agar lelehan bening itu tak jatuh mendarat ke pipi.


"Aku udah bilang Ver.. Aku enggak menerima penolakan! Mau tak mau, itu sudah jadi keputusan final. Lagi pula, Djaduk juga tak seburuk itu.." Mami Vera tak peduli dengan penolakan anaknya.


Suasana sedang memanas, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan ketukan pintu. Vera yang males menghadapi tekanan orang tuanya tanpa diperintah langsung meninggalkan ruang tamu dan memilih pergi untuk melihat siapa yang datang.


"Mas.." Suara itu bergetar saat melihat sosok Teguh di depannya. Dia tak mampu menahan diri lagi, meski sadar akan menimbulkan bahan ghibahan baru Vera tak memperdulikan itu, dia merangsek ke dada bidang itu.


Teguh kaget. Tangannya otomatis menjauhkan Vera dari dirinya. Tapi, Vera malah menangis sesenggukan. Meski sebentar, dia telah berhasil bersandar pada dada lelaki yang dulu merupakan pacarnya.


"Apa kata Djaduk nanti kalau dia melihat kelakuan calon istrinya nyah-nyoh kayak gini!!" Masih memarahi anaknya.


"Lagian, kamu! Ngapain kamu ke sini?" Mata itu tajam mengarah pada Teguh.


"Maaf, saya hanya ingin mengembalikan ini. Ver.. Ayu sudah punya seragam, juga tas.. Makasih sebelumnya. Aku pamit. Assalamu'alaikum." Langkah Teguh terhenti oleh pegangan tangan Vera ke jemarinya.


"Mas.." Vera memelas.

__ADS_1


"Aduuuuh Vera! Jangan bikin malu kamu ya, masuk ke dalam sekarang!!"


Rupanya keributan di depan pintu rumah Vera menjadi tontonan tersendiri buat warga di sana. Ada yang buru-buru bikin story dan status di jejaring sosial masing-masing, ada yang merekam, dan yang terakhir ada yang membentuk satu tim ghibah kilat di pojokan.


Teguh tak mau makin banyak drama yang melibatkan dirinya, dia memilih pulang. Masa bodoh dengan deretan kata pedas yang dilayangkan maminya Vera untuknya. Toh dia juga sadar diri, dia bukan orang berpunya. Tak perlu terus diingatkan dengan cara menyinggung secara langsung jika dia orang miskin. Lagi pula tak ada niat sedikitpun dalam diri Teguh untuk mendekati Vera seperti yang dituduhkan maminya Vera serta beberapa tetangganya.


"Bapak dimarahi mbahnya Dinda ya?" Tanya Ayu yang melihat dari rumahnya tadi, omanya Dinda menunjuk-nunjuk ke arah bapaknya.


Seulas senyum tercipta, Teguh menggiring anaknya masuk ke dalam rumah. Tak ingin anaknya berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya, tentang alasan kenapa dia dimarahi seperti tadi oleh maminya Vera.


"Yu, kamu udah makan belum? Kok nasinya utuh." Teguh ke dapur melihat di meja sana masih ada sebakul nasi.


"Makan pak, Ayu abisin nasi tadi pagi yang dikasih bulek Juju." Kata Ayu.


"Pak.. kenapa ya pak mbahnya Dinda sama ibunya Dinda itu galak semuanya? Padahal kita enggak pernah jahatin mereka.." Lanjut bocah itu.


"Itu bentuk perhatian dengan cara lain Yu. Semua orang pada dasarnya suka dipuji, bukan begitu Yu? Nah.. Saat mendengar ejekan atau kasarannya dihina, akan timbul rasa ingin merubah diri. Membuktikan jika apa yang orang-orang seperti mbahnya Dinda dan ibunya Dinda itu enggak bener. Dengan cara apa? Diem,bengong, rebahan santai? Enggak kan.. Karena dari ejekan dan hinaan itu kita jadi termotivasi untuk bangkit merubah keadaan. Orang-orang seperti mereka ini punya cara yang beda, lain dari yang lain.. Saat menunjukkan perhatiannya."


Ayu manggut-manggut, entah paham atau tidak bocah itu. Setidaknya Teguh telah memberikan pengertian yang dia harapkan tidak menimbulkan kebencian yang bisa saja muncul di hati anaknya di usia sekecil itu.

__ADS_1


__ADS_2