Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 120. Menjinakkan istri


__ADS_3

Ervin keluar dari kamar mandi, sedangkan Caca masih terbaring miring memperlihatkan punggung mulusnya. Ervin mendekati istrinya, mengusap pelan kepala Caca. Yang bersangkutan memilih diam tak melakukan apapun.


"Aku boleh keluar? Mau ke rumah mas Teguh.." Ijinnya pada Caca.


"Nggak akan lama, ponselku juga akan selalu aktif.. Atau kamu ikut aku aja?" Ajak Erwin masih tak dihiraukan istrinya.


"Maaf dek, aku nggak bakal kayak gini kalo kamu juga bisa duduk satu meja, bicara baik-baik tentang masalah kita." Ervin duduk di tepi ranjang.


Mereka diam. Hanya ada keheningan, Caca terdengar terisak. Dia tak tahu harus bagaimana agar bisa mengembalikan kepercayaan istrinya.


"Aku boleh keluar nggak ini dek?"


"Kalau nggak boleh juga nggak apa-apa." Sambungnya.


"Sana jemput anak-anak!" Ketus Caca dengan suara parau.


"Sama kamu ya." Ajak Ervin. Tak ada jawaban, Ervin juga masih setia duduk di tepi ranjang meski hanya mendapat pemandangan punggung dari istrinya. Ponselnya berbunyi, dari budhe Efa. Ervin hanya melihatnya saja.


"Budhe Efa telepon dek.." Ervin memberitahu.


"Ya udah iya.. Nggak apa-apa, diemin aja aku teros. Aku ke tempat budhe Efa dulu."


Dalam hati, Ervin masih bingung dengan kejadian yang dia rasa tak masuk akal. Sejak kapan ada tanda kecupan di leher dan dadanya, dan kenapa Caca segetol itu menuduh jika dirinya berselingkuh.


Ketika sudah di ambang pintu, Caca menyusulnya dengan berbalut selimut dililitkan asal di badannya.


"Awas aja sampai nemuin bebegig sawah itu lagi, ku potong abis punyamu!" Ancam Caca.


Ervin menahan senyum, dia berbalik menghampiri istrinya. "Tadi kurang?"

__ADS_1


"Caramu mikir tuh yang kurang waras! Nggak semua masalah bisa diselesaikan dengan gituan!" Caca masih kesal. Susah payah Caca memegang lilitan selimut agar tak meluncur turun dan memperlihatkan asetnya di balik gulungan selimut itu.


"Aku minta maaf.." Ervin mendekatkan keningnya pada kening Caca. Dekat.. Mereka bahkan bisa merasakan nafas satu sama lain. "Aku minta maaf.. Kamu harus menangis karena kebodohan ku, aku minta maaf udah bikin kamu sesedih ini.. Aku minta maaf, belum bisa jadi imam yang baik buat mu.. Maafin aku."


Ervin menggunakan kakinya untuk menutup kembali pintu yang tadi dia buka, sekarang dia punya pekerjaan lebih penting dari apapun di dunia.. Yaitu membuat istrinya bisa kembali menaruh kepercayaan kepadanya. Bibir yang saling bertautan itu menjadi jawaban jika sebenarnya Caca tak bisa berlama-lama mendiamkan Ervin. Dia selalu bisa luluh dengan perlakuan manis Ervin padanya.


Di tempat lain, budhe Efa kesal karena nomer telepon adik kandung dan juga iparnya sulit dihubungi.


"Papa mama kelian ini sibuk apa sampai angkat telepon aja nggak kober?" Kata budhe Efa menyerah. Tak lagi mau menelpon kedua manusia yang dia kasih label ndablek itu.


"Nanti kalau kelian udah gede jangan kayak papa mama kelian ya, kalau ada telepon itu kudu cepet diangkat.. Jangan bikin orang tua cemas." Budhe Efa bicara dengan kedua ponakannya. Kedua balita itu hanya mengangguk saja. Entah mengerti atau tidak.


_____


Djaduk keluar dari ATM. Di sampingnya sudah ada Selvi yang menunggu dirinya.


Mata Selvi berbinar, dia tak menyangka bisa semudah ini mendapatkan uang. Kenapa tak dari dulu saja dia bertemu dengan mahluk di sampingnya itu.


"Hmm.. Tapi mas, aku nggak bisa buru-buru balikin.. Aku nggak punya pekerjaan mas, gimana dong? Kamu nggak apa-apa?" Selvi tersenyum tanpa malu.


"Siapa yang minta kamu balikin dek? Ambil aja ambil, itu sebagai rasa syukur ku bisa berkenalan dengan bidadari secantik kamu."


"Lagian, kamu mau kerja? Kerja apa? Pekerjaan paling cocok buat kamu itu ya jadi istriku eh.." Djaduk udah mulai nggak waras dalam arti yang sesungguhnya.


"Aduuh, makasih banget ya mas.. Tapi maaf mas, aku udah punya calon suami." Tolak Selvi dengan pedenya.


"Kamu udah punya calon suami? Wah sayang sekali ya.. Tapi maaf ya, pasti calon suami mu itu nggak kaya seperti aku. Masa calon istrinya nyampe nggak punya uang aja dibiarin.. Yakin mau nikah sama orang kayak gitu dek?"


Selvi hanya melambaikan tangan setelah mobil Djaduk pergi meninggalkannya. Senyumnya terbit lagi setelah melihat sejumlah uang di dalam tas nya. Ternyata benar kata mbah Ribut, nggak hanya Ervin saja yang akan kecantol dengan pesona peletnya tapi setiap lelaki yang melihatnya. Wah... Ini emejing sih. Tapi, kenapa hal itu tak berlaku pada Teguh? Ah mungkin mata sepupunya itu sudah katarak sehingga tak lagi bisa melihat keindahan yang dia pancarkan, pikirnya.

__ADS_1


"Udah ada duit.. Aku bakal ke tempat mbah Ribut, tapi.. Aku malah kangen sama mas Ervin, aku ke tempat kerjanya aja ah. Lagian pasti mas Ervin bakal belain aku kok. Senangnya akuuuu..." Selvi mengekspresikan kegembiraannya.


Dan Djaduk, dia mulai kebingungan. Di jalan dia seperti orang linglung tapi tetap ingat jalan pulang. Dia melajukan mobil pelan karena memang sudah hampir sampai mansion nya.


Sampai di rumah megahnya, dia disambut tatapan sengit Hermiku. Ada apa? Mungkin dia rindu, pikirnya cuek.


"Apa?" Tanya Djaduk sambil tersenyum semenarik mungkin yang dia bisa.


"Dari mana?" Tanya Hermiku masih mengawasi gerak-gerik suami nyentriknya.


"Dari dulu mencintaimu hehehe." Jawab Djaduk minta di slepet.


"Nggak usah bercanda. Duduk." Hermiku menyuruh suaminya duduk di sampingnya.


"Kamu kangen ya? Oke oke aku duduk, duduk di mana? apa kamu aja yang duduk di pangkuanku?" Dia menepuk pahanya, menawarkan diri agar istrinya itu mau duduk di sana.


"Kamu narik uang lima juta tadi buat apa?" Hermiku langsung bertanya tanpa memberi jeda untuk suaminya berbohong.


"Kapan? Kan ATM semua kamu yang pegang, kok malah tanya gitu." Djaduk merasa sedang dihakimi oleh Hermiku, apalagi tak ada senyum untuknya. Ditambah sorot mata tajam yang sudah jadi ciri khas seorang Hermiku jika sedang serius.


"Lagian duit segitu kok ditanyain.. Apa uang bulanan mu kurang?" Djaduk tak tahu jika sekarang dia sedang membangunkan singa dalam diri Hermiku.


"Kamu bisa nggak kalau ngomong serius dikit? Semua orang juga tahu siapa kamu, uang segitu mungkin sedikit tak ada artinya buatmu tapi.. Jika terus menerus mengeluarkan uang tanpa ada faedahnya dan menjurus pada kegiatan perselingkuhan apa aku harus diam?" Tanya Hermiku dengan bersedikap tangannya ke depan dada.


"Siapa yang selingkuh mbak?" Kali ini Vera turun dari lantai dua yang merupakan tempat kekuasaannya.


"Tuh.. Tanya sama suami mu," Hermiku menunjuk dengan dagu kepada Djaduk.


Djaduk menelan salivanya susah payah. 'Ini ada apa? Kok kayaknya mau ada adegan bunuh-bunuhan gini, dan aku udah merasa kalo aku yang bakal jadi tumbalnya..'

__ADS_1


__ADS_2