Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 161


__ADS_3

Untuk kebanyakan orang, sudah memiliki jabatan dan pekerjaan yang tinggal tunjuk sana sini ucapannya akan dipatuhi orang lain, pasti membuat orang segan untuk melakukan tugas karyawan atau partner kerjanya. Sudah enak duduk di belakang meja tinggal nulis dan baca laporan di bawah sejuknya pendingin ruangan, siapa yang nggak betah?


Tapi tidak dengan Teguh, dia masih suka membantu karyawannya yang mungkin keteteran. Apapun itu dia lakukan, karena dia ingat dari mana dia berasal. Dia dulu juga meniti karir dari bawah. Sehingga tak jarang Teguh memaksimalkan apapun yang dia bisa untuk membantu karyawan di tempatnya bekerja.


"Lho ini kok belum kirim juga? Sopirnya mana?" Tanya Teguh yang melihat mobil operasional yang khusus dipakai untuk mengantarkan pesanan delivery masih ada di depan toko.


"Eeh.. Itu pak, sebenarnya mas Wahyu, supir kita itu tiba-tiba ijin nggak bisa masuk kerja. Barusan kirim pesan ngasih tau saya, kalau harus menemani istrinya ke rumah sakit mau lahiran. Lha ini saya lagi cari orang yang biasa gantiin mas Wahyu ini pak, maaf ya pak." Seorang perempuan memakai seragam karyawan di sana menunduk sopan.


"Nyari supir pengganti? Siapa? Di sini kan semua kerja di posisi masing-masing mbak. Udah biar saya saja yang nganterin semua pesanan itu." Dengan cekatan Teguh meminta kunci mobil yang ada di rak kasir kepada karyawan yang berjaga di sana.


Setelah mobil keluar dari area pertokoan, para karyawan langsung berkumpul untuk membicarakan kebaikan atasan mereka.


"Itu pak Teguh jadi orang bisa kali jangan terlalu baik banget gitu. Aku nya kan jadi gimana gityuu.." Ucap salah seorang dari mereka saat berkumpul.


"Iya ih, kalo ngelamar jadi istrinya dia nggak mau.. Pungut aku jadi anaknya aja, aku ikhlas..." Sambung yang lain.


"Dih ngaca! Kamu udah mak emak anak dua kok minta dipungut jadi anak sama pak Teguh, pantesnya di ajak ke rumahnya buat jadi babunya hahaha." Suara tawa bahagia mereka begitu renyah.


"Mau jadi babunya, tukang pijit pribadinya, atau tukang nyuci'in dalemannya pun aku rela, ikhlas lair batin. Asal tiap hari bisa ketemu dia." Agak lain karyawan yang satu ini.


Imbalan untuk orang yang suka ngehalu ketinggian ngomongnya adalah sebuah tonyoran spesial dari temannya tadi agar bangun dari angan semunya.


"Mending kita lanjut kerja. Pak Teguh udah seniat itu bantuin kerjaan kita harusnya kita bisa lebih giat lagi kerjanya. Malu sama beliau, meski bos tapi mau kerja kayak kita. Yok kerja kerja! Semangat!!" Ini salah satu contoh karyawan teladan.


Yang lain meski belum rela meninggalkan obrolan pagi tentang bos mereka, tapi satu persatu mereka beranjak ke posisi masing-masing.

__ADS_1


Masih pukul 10.00 pagi. Teguh melihat alamat costumer berikutnya, dia asing dengan alamat ini. Turun dari mobil, dan membawa pesanan kue dua box di tangan, Teguh celingukan mencari seseorang yang bisa dia tanyai tentang alamat si pemesan kue itu.


"Pak maaf permisi, numpang tanya pak.. Kalau jl. In Doeloe Gang Kenangan Kelurahan Sring Ditinggal rt 2 rw 12, itu di sebelah mana ya pak.." Tanya Teguh sopan.


Lelaki tua tadi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Itu mas, lurus aja. Udah deket kok. Cari siapa ya mas?"


"Ini pak, di sini tertulis nama Wulan Merindu. Beliau pesan kue di toko kami." Jawab Teguh santun.


"Oowh iya iya. Mbak Rindu toh, tapi biasanya jam segini orang-orang di gang sana pada nggak di rumah mas. Pada kerja. Tapi ya mbuh, siapa tau mbak Rindu lagi libur." Mendapat informasi tambahan, Teguh hanya mengangguk mengerti.


Lelaki itu kini berjalan menuju gang yang di maksud. Belum juga ketemu alamat yang dia cari, netranya menangkap pemandangan tak manusiawi.


"Heiii!!! Apa-apaan kelian!!! Lepasin bocah itu!! Astaghfirullah... Sakti!"


Benar-benar nggak punya belas kasihan. Sakti yang awalnya dipaksa merokok tapi dia tolak dengan mematahkan rokok itu kemudian diinjak-injak, justru mengundang kemarahan para begajulan berseragam putih abu-abu. Katanya pelajar tapi kelakuannya seperti preman.


Teguh berlari menopang tubuh Sakti yang tergeletak tak berdaya, raga bocah itu lelah.. Bekas sulutan rokok Teguh lihat ada di leher serta dada Sakti. Bau minuman keras menyeruak dari mulut bocah malang itu.


Bajunya entah kemana, Sakti hanya memakai celana merah sebagai satu-satunya pelindung tubuhnya. Teguh marah!


"Mau kelian apa? Ada salah apa bocah ini sampai kelian siksa seperti ini?? Jawab!!"


Sambil berteriak, Teguh menghajar orang yang sempat nyekokin Sakti dengan miras. Tak terima temannya kena hantam oleh om om yang menurut mereka sok jadi pahlawan, mereka lantas mengeroyok Teguh secara brutal.


Mereka memakai kayu bekas pagar pembatas jalan yang sudah rusak untuk memukul Teguh untuk menyelamatkan temannya dari amarah Teguh. Teguh tak semudah itu tumbang, dengan tangan kirinya dia berhasil menghalau pukulan bertubi-tubi mereka. Meski sempat terkena pukulan kayu beberapa kali, tapi Teguh seakan tak kehilangan kekuatannya.

__ADS_1


Dia berdiri dan menghajar siapapun yang bisa dia tangkap. Mendengar keributan tersebut warga di gang kecil yang rata-rata ibu ibu itu keluar dari rumahnya dan berteriak berusaha melerai perkelahian yang terjadi.


Para ibu tak berani mendekat hanya berteriak saja dan mengancam akan menelpon polisi jika mereka tidak mengakhiri keributan beda jumlah itu.


Tidak menghiraukan teriakan ras terkuat di bumi, para pemuda tadi kaget oleh siraman air yang dilakukan oleh mak emak yang geram oleh kelakuan mereka.


Teguh ikut basah oleh siraman ras terkuat di muka bumi. Merasa terdesak, para pemuda tadi lari tunggang langgang saat Teguh mengancam ke arah mereka akan melaporkan tindakan yang sudah termasuk kriminal itu kepada pihak yang berwajib.


"Apa ibu ibu sedari tadi tidak melihat jika ada anak kecil yang disiksa nyaris mati di sini? Apa ibu ibu di sini tidak mendengar keributan tadi??" Amarah Teguh yang tadinya tertuju pada pemuda begajulan yang nyaris mengirim Sakti pada Ayahnya, berganti pada ibu ibu yang berkumpul di sana.


Tak ingin membuang waktu dengan penjelasan yang membenarkan diri sendiri oleh para mak emak, Teguh beranjak membopong tubuh Sakti menuju mobil yang terparkir jauh di luar gang.


"Kamu kuat nak... kamu pasti selamat, aku tak akan memaafkan orang-orang tadi. Mereka akan mendapatkan balasan setimpal!" Ucap Teguh pada Sakti yang berada di gendongannya.


Baru merebahkan Sakti di jok mobil, Teguh dikagetkan dengan sabetan clurit yang mengenai punggungnya. Sakit teramat sangat ditambah nyeri juga panas di punggungnya membuat Teguh ambruk ke depan tapi masih bertumpu dengan lututnya. Dia masih bisa melihat ejekan sekelompok pemuda tadi yang tersenyum bak devil serta mengacungkan jari tengah ke arah Teguh.


Dengan sisa kesadaran yang ada, dia menghubungi nomer Ervin. Teguh menahan sakit di punggungnya, mendengar teriakan mak emak yang datang dari arah gang, Teguh menunjuk Sakti yang ada di mobilnya.


"Iya iya mas, kita tau maksud sampean! Aku bisa nyupir kok! Nggak perlu nunggu para laki ke sini."


"Ini udah termasuk tindakan kriminal mas, nanti kalo orang tua para cecunguk itu minta jalur damai jangan mau mas!! Aku mau dan ikhlas jadi saksi nanti jika mas mau kasusin masalah ini!" Imbuh ibu itu.


"Iya iya, ceramahnya nanti lagi ini urgent lho. Ayo ayo dibantu masukin si mas ini ke mobilnya." Ucap emak lainnya.


Bersyukurnya mereka di bantu warga untuk mengangkat Teguh masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan semua penumpangnya di posisi yang benar, ibu ibu tadi membawa mobil seperti raja jalanan! Sen kanan belok kiri, sambil teriak teriak agar mobil atau kendaraan lain di depannya minggir tak menghalangi jalannya. Padahal ada klakson, tapi saat ini klakson kalah garang jika dibandingkan ibu yang membawa mobil Teguh menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


__ADS_2