Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 64. Pergi


__ADS_3

Vera merasakan perubahan perangai Theo setelah menikah. Dulu saat masih berpacaran, Theo selalu mengutamakan dia. Tapi, setelah menikah dan dia mengajak mamanya tinggal di rumah Vera, Theo jadi sedikit cuek. Pernah juga Vera mendapat bentakan dari Theo untuk hal yang sebenarnya tak perlu diperdebatkan.


"Mah.. Aku mau tinggal sama opa dan oma aja. Aku enggak betah di sini." Dinda memasukkan bajunya di dalam tas sekolah miliknya.


"Wait Din!! Maksudmu apa? Kamu mau ninggalin mamah? Gitu? Din.. Apapun mamah lakukan buat kamu dan sekarang kamu mau ninggalin mamah??" Bentak Vera tak suka anaknya bilang ingin meninggalkan rumah.


"Kan udah ada om Theo mah. Enggak usah lebay lah mah mah.. Sejak mamah pacaran sama om Theo juga enggak pernah sekalipun mamah ngertiin aku. Di mana mamah waktu aku minta ambilin rapor semesteran dulu? Mamah bilang sibuk! Tahunya mamah pacaran sama om Theo. Apa mamah mikir gimana malunya aku karena semua anak di sekolah bawa orang tuanya ke sana buat ambil rapor dan menghadiri rapat wali murid? Aku? Aku sendirian mah!"


"Aku pergi dulu mah. Tadi aku udah telepon oma, kayaknya supirnya oma udah ada di depan." Dengan membawa tas sekolahnya, Dinda melewati Vera yang seperti ditampar karena ulahnya sendiri.


"Dindaaa.. Din!!! Keterlaluan kamu ya!" Teriak Vera mengagetkan mamanya Theo yang sedang asyik nonton tv di ruang tamu.


"Heii.. Bisa enggak pagi-pagi jangan berisik! Aku mau nonton tv aja terganggu gini." Hardik mamanya Theo dengan mata melotot ke arah Vera.


Vera yang sudah kesal dengan anaknya yang tiba-tiba memutuskan pindah rumah jadi makin murka karena bentakan mertuanya.


"Apa sih? Kalau mau nonton tv ya tinggal nonton aja! Lagian mau aku teriak mau aku marah-marah juga kenapa emang nya?? Ini rumahku sendiri!" Vera tak tahan lagi.


"Rumah kamu itu rumah suamimu juga! Dan suamimu itu anakku. Kamu ini emang kurang didikan! Lihat kelakuanmu, udah seperti orang yang hidup di hutan. Teriak-teriak kalau ngomong sama orang tua!" Tak kalah sengit. Mamanya Theo tak mau mengalah.

__ADS_1


Dinda yang masih di depan pintu hanya menggeleng pelan melihat drama menantu dan mertua terjadi. Langkah kakinya keluar menuju rumah Ayu. Dia ingin berpamitan dengan sahabatnya. Matanya kembali menatap ke rumahnya, rumah yang dulu terasa hangat saat papahnya masih ada. Mamahnya dulu yang jutek tapi perhatian kepadanya, dan sesekali gurau canda orang tua Dinda membuat hatinya nyaman.


Rumah sejatinya tempat ternyaman di mana kita pulang dari segala kesibukan di luar sana tapi, saat rumah sudah tak lagi memberikan kenyamanan di dalamnya.. Harus kemana lagi langkah kaki pergi mencari ketentraman hati..


"Sering main ke sini ya Din.. Aku pasti kangen banget sama kamu.." Ayu memeluk Dinda erat.


"Iya Yu." Jawab Dinda singkat.


"Kita udah beda sekolah sekarang kamu juga mau pindah rumah.. Pasti kita jadi jarang ketemu." Lanjut Ayu.


"Mau gimana lagi Yu.. Aku enggak betah tinggal sama mamah. Mamah sekarang sering marah, sering bertengkar dengan mertuanya, mertua mamah juga kerap marahi aku. Aku bukan enggak mau ngejawab.. Tapi aku capek Yu.. Aku capek lihat semuanya.. Yu.. Aku pergi dulu ya. Kamu jaga kesehatan. Sampaikan salam ku buat paklek ya Yu.. Assalamu'alaikum."


'Din.. Aku pasti kangen kamu.. Semoga kita bisa ketemu lagi..'


____


Teguh pulang dari tempat kerjanya membawa plastik hitam di tangannya. Ayu yang sudah selesai menyirami bunga menyambut bapaknya dengan senyuman hangat.


"Apa itu pak?" Tanya Ayu penasaran.

__ADS_1


"Ini? Plastik Yu." Senyum Ayu pudar mendengar jawaban bapaknya.


"Hahaha.. Ini mukena buat kamu. Kan mukena yang kamu pakai udah kekecilan Yu, bapak beli di pasar tadi pagi pas kirim barang. Eh lihat ada yang bagus.. Bapak langsung inget kamu... Yang rajin sholatnya ya nduk.. Ditingkatkan lagi ibadahnya." Teguh memberikan bungkusan kresek hitam itu kepada Ayu.


"Masya Allah pak.. Ini bagus banget pak.. Makasih ya pak." Mata Ayu berbinar indah.


Malam harinya, Ayu dan Teguh selesai sholat isya berjamaah. Seperti biasa Ayu akan belajar setelahnya dan Teguh menyempatkan diri membaca Al-Quran meski tak selalu dia kerjakan.


"Pak.. Tadi Dinda pindah rumah. Nitip salam buat bapak." Ayu mulai bercerita.


"Iya Yu. Mungkin emang sebaiknya begitu. Kamu sedih ya pisah sama Dinda?" Teguh mengamati raut muka Ayu yang berubah. Terlihat kesedihan itu tampak jelas.


"Iya pak." Jujur Ayu.


"Pak kalau nanti bapak nikah lagi, jangan cari istri yang seperti bulek Vera ya pak. Ayu bakal pergi kayak Dinda kalau bapak nikah lagi sama orang yang sifatnya kayak bulek Vera." Dengan mata berkaca-kaca Ayu menyampaikan hal tersebut.


"Kamu terlalu jauh mikirnya Yu. Bapak juga enggak akan sejahat itu mementingkan kepentingan bapak dari pada kebahagiaanmu." Teguh memegang bahu anaknya seakan memberi pengertian jika kebahagiaan Ayu lebih utama dari pada dirinya.


"Ya jangan gitu juga pak... Ayu juga pengen lihat bapak bahagia.. Eh pak hujan, Ayu ambil sepatu dulu ya di depan rumah." Ayu berlari saat mendengar derasnya hujan yang turun tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2