
Teguh malihat ada yang berbeda dengan Ervin hari ini. Mukanya pucat, dia pikir mungkin karena belum sarapan. Saat didekati, hanya gelengan yang menjawab semua pertanyaan Teguh pada Ervin.
"Ya udah aku jalan dulu ya Vin, kalau sakit berobat.. Jangan dibiasain nyiksa diri."
Baru beberapa langkah meninggalkan Ervin, Teguh dikejutkan dengan ambruknya Ervin di lantai. Sontak karyawan yang di sana langsung berhambur mendekati Ervin karena ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda itu.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut? Teguh, kenapa kamu belum berangkat?" Sudah bisa dipastikan asal suara itu dari budhe Efa.
"Budhe... Ini Ervin pingsan." Sahut salah satu karyawan di sana. Teguh diam karena sedang memberi minyak kayu putih pada tengkuk serta bawah hidung lelaki yang tak sadarkan diri itu agar bisa cepat bangun.
_
"Kenapa dia?" Tanya budhe dengan nada datar.
"Pingsan budhe." Jawab Teguh sekarang.
"Ya tahu kalau dia pingsan, maksudnya kenapa bisa pingsan! Kelian ini, ngapain ngasih dia minyak kayu putih? Enggak mempan. Kasih balsem, tuh ambil di kotak p3k. Paling juga masuk angin." Perintah budhe Efa yang langsung dikerjakan oleh salah satu karyawan untuk mengambil balsem yang budhe maksud.
"Ini budhe.." Setelah benda itu ada, si mbak yang tadi mengambil balsem malah menyerahkan benda kecil panas itu pada budhe.
"Heeh kamu merintah aku buat ngolesin ginian ke bebegig itu? Udah bosen kerja kamu hah?"
Budhe Efa paling benar. Itulah rumus yang dipakai di sana. Belum sampai mendapat usapan balsem oleh temannya, Ervin sudah mengerjapkan mata.
"Kenapa kamu? Buat yang lain balik kerja! Teguh, anterin pesenan pelanggan dulu!" Titah budhe Efa.
__ADS_1
Ervin masih tak menjawab, dia memfokuskan dulu pandangannya. Masih terasa pusing dan berkunang pada kepalanya. Beberapa temannya membantunya untuk duduk.
"Teguh! Kerja! Berangkat sekarang! Kamu udah ketularan virus ngeyelnya Ervin rupanya!"
"Eh.. Iya budhe, maaf.. Vin kamu enggak apa-apa kan? Aku tinggal dulu ya?" Perhatian dari teman-teman Ervin amat terasa di sini.
Ervin hanya mengangguk. Masih lemas tapi sudah lebih baik setelah meminum teh hangat pemberian budhe Efa. Meski sebawel itu, budhe Efa memiliki sifat peduli pada orang lain meski cara yang dia sampaikan berbeda.
"Ada apa?" Pertanyaan pertama yang keluar dari bibir budhe Efa kepada Ervin.
"Enggak ada apa-apa budhe.. Cuma pusing aja." Ervin hendak berdiri untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Duduk!" Ervin menurut saja. Makin aneh, biasanya dia akan nyerocos dari A sampai Z kembali ke A lagi saat berhadapan dengan budhe Efa.
"Budhe.." Ervin menunduk. Kalimatnya terputus, budhe Efa masih setia menunggu kelanjutan kalimat yang ingin disampaikan Ervin.
"Seminggu yang lalu, adikku masuk rumah sakit.. Uang yang aku kasih ibu buat biaya pengobatan adikku malah habis dipakai ayah tiriku untuk judi. Yang aku punya cuma motor, tadinya aku mikir enggak mau jual.. mau aku gadein aja, nanti pas ada uang baru aku ambil lagi. Yang penting biaya pengobatan adikku di rumah sakit bisa tercover dulu.. Tapi ternyata motor yang aku pake tiap hari itu udah digadein duluan sama ayah tiriku. Budhe inget dua hari lalu aku bolos kerja enggak ijin? Itu karena aku abis gebukin suami ibuku itu." Kalimat Ervin mampu menciptakan deheman budhe Efa.
"Terus kenapa kamu nyampe pingsan?" Tanyanya.
"Aku capek budhe.."
"Kamu enggak ada pikiran mau bunuh diri kan? Jangan nyiksa dirimu kayak gitu.. Berapa hari kamu enggak makan?"
Bahu Ervin bergetar.. Masih dengan menunduk dia menangis. Tanpa suara. Budhe Efa masih diam tanpa melakukan apapun saat melihat seorang Ervin yang dia kenal slengean dan susah diatur jadi selemah ini.
__ADS_1
"Butuh duit berapa?" Budhe Efa memberi kode pada karyawan lain untuk membawakan makanan ke meja mereka.
"Aku enggak mau ngutang budhe, aku enggak punya jaminan apa-apa buat bayarnya. Motor itu aja paling besok atau lusa diambil orang.." Suara Ervin makin lemah.
"Makan dulu. Jangan bikin aku malu lah.. kamu ini, masa kerja di sini bisa pingsan karena kelaparan." Budhe Efa menyodorkan sepiring nasi goreng dan teh hangat.
"Ponsel kamu kemana? Kenapa centang satu mulu?" Tanya budhe Efa yang sukses memaksa Ervin untuk mau makan.
"Hancur budhe, dibanting sama suami ibuku." Ucap Ervin jujur.
"Kenapa masih ada orang kayak gitu.. Emosional. Dia pernah kdrt ke ibumu?"
"Selama ini belum. Kalau bisa jangan sampai. Tapi kalau itu terjadi, jangan salahin aku kalau namanya tertulis di nisan kuburan!"
Sorot mata itu menunjukkan keseriusan.
"Heeh.. Kamu ini masih muda, jangan ikutan emosian dan gila kayak bapak tirimu. Bilang kamu butuh duit berapa? Nanti buat urus biaya rumah sakit jangan kamu kasihkan mamakmu. Kamu bisa kan kerjain sendiri, kalau bisa sekarang aja. Aku kasih ijin kamu selesaiin masalahmu, kalau udah kelar.. Baru balik ke sini!" Ucapan budhe Efa bagaikan mata air di padang gersang di hatinya, yang membuat dirinya tak enak makan dan tidur beberapa hari ini.
"Budhe..." Mata itu berembun.
"Jangan nangis, cengeng! Laki harus kuat! Baru dikasih gemblengan gitu aja udah lemah, apalagi kalau kamu udah nikah nanti? Lihat Teguh. Mana ada dia kayak kamu!"
"Orang kan beda-beda budhe... Aah pokoknya aku makin cinta sama budhe lah."
Budhe Efa meninggalkan Ervin dengan pandangan mata iyuuh seperti biasanya.
__ADS_1