
Selvi, gadis ini sudah berdandan secantik mungkin yang dia bisa lakukan. Beberapa kali menatap kaca dan menambah ketebalan lipstik serta bedaknya, lalu dirinya akan tersenyum sumringah setelah melakukannya semua itu.
"Kamu kelamaan dandan Vi, buruan ke rumah Teguh. Jangan mau berangkat ke tempat kerjanya sendiri, orang-orang nggak bakal mandang kamu nanti! Lain cerita kalau kamu berangkat sama Teguh, orang yang pada kerja di sana pasti mikir kamu istimewa." Bulek Indun menasehati anaknya.
Selvi sudah membayangkan akan diterima dengan baik di tempat Teguh bekerja. Setidaknya dia sudah berpikir akan menjadi sekertaris atau bagian penting di kantor lainnya. Meski modalnya hanya ijasah SMA beberapa tahun lalu tak mengurangi rasa percaya dirinya. Dia yakin bisa menjadi salah satu orang dengan jabatan penting nanti.
Tanpa banyak berbincang dengan ibunya, Selvi segera menuju rumah Teguh, seperti pesan ibunya tadi.
Tiba di rumah Teguh dia di buat kecewa karena rumah Teguh sudah sepi. Mukanya terlihat masam. Kakinya dihentakkan ke tanah keras menunjukkan reaksi kekesalan yang nyata.
"Kebangetan banget sih, awas aja nanti kalo ketemu di sana!" Ancam Selvi dengan nada bicara tak bersahabat.
Secepat mungkin Selvi kendarai motornya. Dia ingin cepat-cepat bertemu Teguh guna melampiaskan emosinya. Dia tentu kesal, karena merasa dikibulin. Padahal dirinya sendiri yang terlalu lama berdandan tapi masih bisa menyalahkan orang lain.
"Ini tempat kerjanya Teguh. Gede banget. Pantes sekarang dia sombong, orang kerja di tempat bagus kayak gini." Berkata sendiri. Lagi-lagi Selvi menilai Teguh sesuka hatinya.
Selvi menapakkan kaki ke kafe yang sekarang bertambah keren dan fashionable itu. Matanya memandang takjub. Dia berjalan sambil melihat ke seluruh penjuru kafe. Luas dan bagus. Itu yang ada di benak Selvi. Dia selalu ingin ngopi santai di tempat ini, dan memamerkan kegiatannya ke media sosial miliknya tapi, apalah daya.. Pemasukan bapaknya tak bisa mengabulkan keinginannya. Ketika ingin ngopi, dia harus puas dengan beli kopi sachetan di warung.
"Eh maaf.." Suara lelaki mengagetkannya.
__ADS_1
"Aduuh hati-hati dong!" Selvi mau meledak saat secara tak sengaja di senggol orang yang belum dia kenal.
Mata mereka bertemu. Selvi terpana. Dia diam tak jadi meledakkan emosinya.
"Maaf mbak, aku buru-buru." Ucap seseorang yang masih membuat Selvi terpaku.
"I.. Iya.." Selvi gugup. Selama ini dia bukan tak pernah bertemu lelaki tampan, tapi entah kenapa orang yang sekarang berjalan menjauh itu seperti medan magnet yang menarik Selvi untuk bisa terus mendekat.
"Mbak, mau tanya. Tadi yang baru lewat, yang ngobrol sama aku tadi siapa ya?" Tanya Selvi pada pelayan yang baru saja membersihkan meja.
"Oowh itu, beliau namanya pak Ervin. Manager Shella G n S di cabang lain bu." Jelas pelayan tadi.
"Bu? Kamu ini nggak sopan banget! Aku aja belum nikah, belum punya anak! Bisa-bisanya kamu manggil aku bu!" Hanya sebuah panggilan merakyat saja membuat Selvi kembali ingat pada kemarahannya yang sempat tertunda oleh pesona Ervin.
Mendengar ada keributan di kafe, Teguh keluar dari ruangan dan menunda pekerjaannya.
Mata mereka bertemu. Teguh menghela nafas, Selvi langsung berjalan cepat menuju ke arah Teguh berdiri.
"Guh! Kasih tahu sama mereka dong siapa aku, masa manggil aku bu. Apaan sih! Aku nggak se tua itu!" Selvi melipat kedua tangannya ke depan.
__ADS_1
Karyawan yang tak tahu jika Teguh dan Selvi adalah saudara sepupu jadi berpikir jika wanita menor itu ada hubungan khusus dengan pimpinan mereka.
"Kamu mau dipanggil apa? Dek? Nggak pantes Sel." Teguh bicara terlalu jujur.
Selvi makin kesal. Dengan senyum licik, Selvi berpikir ingin membuat Teguh malu di depan karyawan dan pengunjung kafe pagi ini.
"Kamu bilang kan mau resign kan? Mau ngasih jabatan mu ke aku? Kamu udah janji lho sama ibu. Inget ya Guh, kamu tuh hutang banyak sama keluarga ku!" Selvi berucap tanpa rasa bersalah dan sungkan sama sekali. Melihat para pekerja di sana berbisik-bisik, Selvi menikmati hal itu. Dia yakin Teguh akan sangat malu dan pergi dari sini sebentar lagi.
Teguh berjalan mendekati Selvi. "Bangun. Kamu tahu kan nggak ada orang yang bermimpi tanpa tertidur." Perkataan Teguh seperti tamparan untuk Selvi. Ditampar tanpa menyentuh fisik tentu saja lebih malu dan sakit rasanya. Itu juga yang dirasakan Selvi.
"Guh!! Aku aduin kamu sama ibu!" Selvi meraih ponselnya berusaha menghubungi ibunya karena sikap Teguh yang tak menganggapnya ada.
Bukannya takut atau cemas, Teguh malah memberikan ponselnya karena ternyata Selvi lupa membawa ponsel sebelum berangkat ke sini karena proses dandan yang lama dan penuh drama tadi.
"Kembali kerja ya teman-teman. Yang belum sarapan, ambil dulu di pantry. Gantian sama yang lain ya, biar tamu kita tetep ke handle. Semangat." Ucapan Teguh selalu bisa jadi penyemangat dan memberi booster pada karyawannya.
Teguh tak ambil pusing dengan Selvi yang mungkin akan mengadu pada ibunya. Saat ditawari ponselnya tadi untuk menghubungi ibunya, Selvi malah marah-marah dan keluar dari kafe itu dengan emosi memuncak dalam dirinya.
Bagi karyawan di sana, seorang pemimpin seperti Teguh merupakan pimpinan idaman. Teguh selalu peduli pada karyawannya. Dia bahkan ingat semua nama karyawan yang bekerja bersamanya. Apalagi mereka di sana diperlakukan seperti teman bukan seperti bawahan. Membuat Teguh jadi panutan.
__ADS_1
"Pak, tadi itu siapa? Kami kira mbak itu tadi pacar bapak," Tanya salah satu karyawan yang bertugas jadi tukang parkir di sana.
"Saudara mas. Itu juga kalau aku di akui saudaranya." Tawa Teguh menular pada juru parkir di sana. Tukang parkir itu mengira jika ucap Teguh hanya candaan semata.