
"Aku bicara yang sebenarnya mas, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Selvi. Dulu pernah beberapa kali ketemu, tapi hanya sekedar tegur sapa biasa aja."
Teguh menghela nafas pelan, tadi dia menanyakan berapa lama Ervin mengenal Selvi. Dan jawaban Ervin seperti yang terdengar barusan.
Budhe Efa bertanya siapa Selvi, Teguh menjelaskan jika Selvi adalah sepupunya. Orang yang dituduh menjadi selingkuhan Ervin. Dan sekarang dia hamil.
"Apa mas? Astaghfirullah..." Caca menutup mulutnya tak percaya.
"Hamil? Tapi aku nggak pernah ngapa-ngapain dia mas, mas.. Kamu percaya sama aku kan? Demi Allah aku nggak pernah nyentuh wanita lain selain Caca," Makin frustasi saja Ervin mendengar penuturan Teguh.
Caca hanya terpaku, dia masih mencerna dengan apa yang terjadi. Selingkuhan suaminya hamil, dan bisa jadi janin di kandungan wanita itu adalah anak dari suaminya. Lalu dia harus bagaimana ke depannya?
Memikirkan semua itu, dia jadi limbung. Pandangannya tiba-tiba tak fokus, sesak yang dia rasakan membuat fisiknya tak bisa menerima berita ini. Dia pingsan.
Dengan dibantu budhe Efa, Caca di bawa ke kamarnya. Sedangkan Ervin, lebih bisa sabar. Dia yakin tak pernah melakukan perzinahan dengan siapapun.
"Ini rumah mas Ervin? Makasih ya udah mau nganterin.." Dari luar terdengar suara yang tak asing. Selvi. Dia ke sini diantar salah satu karyawan kafe.
"Ngapain ke sini Sel?" Tanya Teguh kaget dengan kedatangan Selvi ke rumah Ervin.
"Kamu tanya ngapain aku ke sini? Kamu udah tau kondisi ku kayak apa dan kamu malah tanya ngapain aku ke sini?? Wah wah wah.. Kayak gini ternyata sifat aslimu Guh!" Suara berisik Selvi langsung mengundang budhe Efa keluar dari rumah Ervin.
__ADS_1
Ervin di suruh menjaga Caca. Budhe Efa tak mengizinkan Ervin bertemu dengan sang terduga selingkuhan dari iparnya itu.
"Ada apa mbak, kalau ada yang perlu dibicarakan.. Mari silahkan masuk." Ucap budhe Efa menatap dari ujung rambut ke ujung kaki.
"Kamu siapa? Aku mau ketemu mas Ervin! Aku minta pertanggungjawabannya karena udah bikin aku hamil!!" Ucap Selvi lantang. Dia berpikir dengan membuat kegaduhan bisa menarik simpati tetangga Ervin atau orang lain yang setidaknya mendengar suaranya.
"Astaghfirullah.. Selvi, jangan bikin keributan di sini-" Ucapan Teguh terpotong oleh tepukan tangan budhe Efa ke pundaknya. Sudah pasti budhe Efa tak ingin ada drama di depan rumah iparnya.
"Sabar mbak, kita bisa bicarakan baik-baik. Ayo masuk ke dalam dulu." Kata budhe Efa tak meninggalkan sopan santunnya.
"Oke! Tapi denger ya, aku cuma mau satu hal.. Aku pengen mas Ervin nikahin aku!" Lagi! Selvi berjalan memasuki rumah dengan berdecak pinggang.
"Sudah berapa bulan mbak?" Tanya budhe Efa langsung pada intinya.
"Hmm.. Berarti udah lama kenal Ervin ya? Sering ketemu di mana mbak?" Masih dengan santai dengan kaki disilangkan, budhe Efa tampak menguasai situasi.
"Ya lama lah!! Kami pacaran udah ada.. hmm dua bulan! Iya, kami pacaran dua bulan dan udah sering lakuin itu! Tahu dong, kalo lakuin itu dan nggak pake pengaman pasti bakal jadi baby!! Ini tuh anak aku sama mas Ervin kami bikinnya pake cinta! Tau nggak?!" Makin menjadi saja manusia satu ini.
Budhe Efa tersenyum sesaat, dia mengirim pesan pada Ervin yang ada di kamar sedang menjaga Caca untuk keluar menemui mereka di ruang tamu.
"Teguh, aku minta tolong bisa? Tolong bacakan surat Al-Fatihah, ayat kursi, dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Ulangi sebanyak 3 kali, setelah itu tiupkan pada air putih ini dan suruh Ervin meminumnya nanti ketika dia ke sini. Aku lagi halangan, jadi nggak bisa." Ucap budhe Efa.
__ADS_1
Teguh ingin bertanya tapi dia hanya mengangguk mengikuti kemauan sesepuh di depannya.
"Heeh! Apa-apaan, kamu pikir aku setan apa?? Nggak nggak! Guh, aku nggak mau ya kamu lakuin hal itu! Guh aku sepupu mu lho, sodara mu! Harusnya kamu lebih belain aku!!" Kali ini taring yang sejak awal ditunjukkan Selvi hilang sirna tertiup angin ketakutannya.
Dia tahu, peletnya tak akan bekerja jika Ervin mendapat ruqiyah dengan cara yang tadi budhe Efa katakan. Gugup sudah pasti, tapi sebaik apapun dia menutupi kegugupannya.. Sorot mata ketakutan itu telah terbaca oleh budhe Efa.
"Vin, sini! Aku mau tanya.. Kamu kenal dia?" Tanya budhe Efa menunjuk dengan dagu ke arah Selvi.
Selvi memperlihatkan senyum termanisnya, Ervin mengangguk mengiyakan.
"Iya budhe.. Dia-" Ucapannya tertahan.
"Aku pacarmu kan mas? Mas.. dengerin aku! Aku hamil mas, aku hamil anakmu.. Anak kita.. Mas, inget kan waktu itu kita lakuin di mana?" Selvi lebih dulu mencekoki Ervin dengan sugesti yang dia karang sebelum Teguh memberikan pujaan hatinya itu air yang terlihat sudah dia bacakan ayat suci sebelumnya.
"Tenang mbak, jangan menggebu-gebu gitu. Kalau memang kelian ada hubungan spesial ya nggak perlu maksa Ervin buat ngakui jalinan kasih kelian juga. Santai gitu lho mbak, bisa kan?!" Ucap budhe Efa menatapnya sinis.
Dia mulai menunjukkan ketidaksukaan yang nyata pada gadis yang mengaku hamil anak saudara iparnya itu.
"Biarin mas Ervin ngomong dulu dong! Kelian ini bikin mas Ervin bingung tau nggak!! Kelian mau misahin aku sama dia hah?? Sengaja mau misahin anak dari ayahnya?? Jahat ya kelian?!!" Selvi berdiri menuding budhe Efa dan Teguh bergantian.
Ervin sudah terlihat bingung tak karuan, pikirannya mulai bercabang lagi. Ada rasa iba dalam dirinya untuk Selvi. Pelet mbah Ribut sudah seperti hipnotis, setiap apa yang dikatakan Selvi merupakan titah untuk Ervin. Meskipun begitu, ada penolakan yang dia rasakan. Hati dan pikirannya terbagi jadi dua bagian. Siapa yang bisa kuat dengan deraan jampi dan kepulan asap kemenyan yang ditiupkan terus menerus seperti itu?
__ADS_1
"Minum dulu Vin, kayaknya kamu haus kan? Jangan lupa baca basmallah dulu. Apa-apa itu harus di awali basmallah dan di akhiri alhamdulillah." Teguh menyodorkan air mineral yang dia doakan pada Ervin. Meski tak tahu kenapa budhe Efa menyuruhnya berbuat hal itu tapi demi kesejahteraan bersama, Teguh manut manut saja.
"Jangan mas.. Mas Ervin dengerin aku, mereka itu mau misahin kita!! Mas, aku sayang sama kamu.. kamu juga gitu kan? Mereka mau ngasih kamu racun mas!! Minggir!! Lepasin tanganku! Mas Ervin jangan minum itu racun mas!!" Selvi terus berteriak berusaha menghalangi niatan Ervin meminum air dari Teguh, tapi cengkraman kuat tangan budhe Efa pada tangannya membuat gerakan Selvi terbatas. Dia hanya bisa berteriak seperti orang kehilangan akal.