Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 127. Bertemu tanpa silaturahmi


__ADS_3

Berjalan dan berjalan, Selvi seperti orang gila yang bicara sambil menapaki jalanan. Entah mau kemana? Dia sendiri bingung.


Ingatannya menangkap sesuatu, dulu saat berkenalan dengan Djaduk, lelaki itu menyebutkan lokasi mansion elitnya. Dia bisa ingat! Karena memang tak banyak orang yang bisa tinggal di kawasan berduit itu.


Tak butuh waktu lama, setelah menggerakkan jemarinya pada aplikasi onlen berbasis transportasi ijo lumut, Selvi segera diantar pada tempat yang dia tuju. Mansion Djaduk. Dia ingin membuktikan jika kali ini targetnya benar-benar orang kaya dan bisa dia manfaatkan!


"Tau dia beneran kaya, dari awal aku deketin dia aja! Kayaknya lelaki itu juga nggak pintar-pintar amat! Setelah rencana ku berhasil, bisa menikah dengan pemilik istana itu. Aku akan balas dendam sama Teguh!! Dia harus ngerti sakitnya tak bisa memiliki sesuatu meski dia sangat ingin itu kayak apa!! Tunggu aja giliran mu Guh!"


Selvi bergumam di depan pintu gerbang yang menjadi pembatas istana megah di depannya.


Dia ingin masuk ke dalam tapi bagaimana caranya? Setelah sekian menit berpikir, dia melihat seseorang yang muncul dari dalam mansion itu. Seseorang yang dia cari dan targetkan untuk menjadi ayah dari anak yang dia kandung. Djaduk Mangkulangit.


Memakai kaos oblong putih dan celana panjang, tak memperlihatkan jika Djaduk adalah orang kaya. Selvi jadi mikir lagi, jangan-jangan dia kena tipu lagi!



"Mas.. Mas Djaduk ya? Inget aku? Aku Selvi!" Teriak Selvi memanggil Djaduk dari luar gerbang.


Djaduk mengerutkan keningnya tapi tetap menghampiri Selvi. Sebaris senyum muncul, Djaduk menyuruh satpamnya membuka gerbang saat tahu ada wanita cantik memanggil namanya.



"Hai cantik.. Panggil aku ya? Ada apa ya?" Tanya Djaduk mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


'Bagus. Ini permulaan yang bagus, aku bisa dengan mudah memanfaatkan lelaki ganjen satu ini. Dia juga kelihatan nggak pinter-pinter amat! Gampang dikibulin.'


"Mas.. Aku butuh bantuan.." Mimik muka Selvi dibuat sesedih mungkin dan begitu menghayati peran sebagai gadis yang menanggung sejuta beban hidup di pundaknya.


"Bantuan apa dek? Kamu kok kayaknya sedih banget? Kenapa? Aku inget kamu lho, kamu yang dulu mau nikah itu kan ya? Gimana jadi nikah?" Djaduk bisa sekepo itu pada Selvi.


"Itu dia mas.. Aku mau minta tolong sama kamu, aku ditipu mas.. Bener kata kamu, cowok ku itu bukan orang baik.. Aku gagal nikah, aku sedih banget.." Selvi berakting sangat baik.


Memang bisa ya baru ketemu orang lalu cerita masalah pribadi seperti itu? Selvi membuktikan kalau tidak ada yang tak mungkin untuknya. Daripada kelamaan pedekate dan ujungnya tidak mendapat apapun seperti nasibnya saat mendekati Ervin, mending sat set saja.


Selvi tak ingin menanggung malu jika semua orang tahu jika dirinya hamil di luar nikah. Apalagi yang menghamilinya adalah sosok sepuh yang pantas di panggil kakek olehnya.


"Sedih kenapa dek? Aduduh.. kesiannya, ayo masuk yok ke rumahku itu! Itu rumahku lho ya.. Bagus kan? Di daerah sini belum ada yang punya rumah sederhana tapi segala macam ada kayak rumahku. Ada mini marketnya, ada waterboom nya, ada lapangan golf nya juga.. Tapi aku nggak sombong lho ya.. Aku cuma ngasih tau."


Baru membuka pintu, Djaduk dan Selvi langsung menerima tatapan membunuh dari Vera di sana yang tadinya sedang membaca berita onlen tentang perselingkuhan.


"Kamu bawa siapa ini?" Vera berdiri memperhatikan tangan suaminya bertautan dengan perempuan lain.


"Bawa siapa? Ini bakal jadi temen main kita dek, dia mau tinggal di sini katanya. Gimana seru kan?" Djaduk sedang membangunkan singa tidur rupanya.


Dengan mata melotot tak suka dia berkata, "Temen main? Orang setua kamu mau main apa? Seru dengkulmu minta diamplas? Jangan bikin aku praktekin berita yang aku baca tadi ya!!" Bentak Vera maju tak gentar langsung menarik tangan Djaduk menjauh dari sisi Selvi.


"Berita apa?" Djaduk bertanya polos seperti tak mengerti apa-apa.

__ADS_1


"Berita tentang istri bakar suami serta selingkuhannya karena tega bermain api di belakang istrinya! Suaminya nggak mati, cuma cacat permanen. Bagian intinya diinjak sampe dua telornya hancur lebur! Dan selingkuhannya cuma kritis, mungkin sekarang lagi main petak umpet sama malaikat Izrail." Vera mendorong baju Selvi keras.


"Eh apa ini? Jangan main fisik dong! Biasa aja kelees!!" Selvi mulai paham situasi di sini. Lagi-lagi lelaki yang dia dekati ternyata suami orang.


Dari awal juga Selvi sudah menduga jika lelaki sekaya Djaduk pastilah sudah miliki istri. Tapi dia tak menyangka bisa secepat dipertemukan dengan istri Djaduk.


"Jelasin ada apa ini?" Hermiku keluar dari kamarnya setelah menidurkan kedua buah hatinya.


"Eh mamah.. Ini mah, aku mau minta ijin.. Hmm adek ini lagi kesusahan mah.. Dia gagal nikah, nggak punya tempat tinggal, kesian kan mah.. Makanya aku nawarin dia buat tinggal di sini." Djaduk menjelaskan kerumitan ini kepada istri pertamanya.


Tidak seperti Ervin, Djaduk hanya terpesona oleh kecantikan yang dipancarkan Selvi tanpa efek sedahsyat yang Ervin terima jika berhadapan dengan Selvi. Karena memang Djaduk bukan target buruan Selvi dan mbah Ribut. Oleh sebab itu Djaduk masih bisa mengendalikan dirinya tapi, mau dikendalikan seperti apapun yang namanya pelet ditambah sifat ganjen alami yang Djaduk punya, pasti akan membuat Selvi dengan mudah memanfaatkan kesempatan yang ada.


"Ini rumah, bukan panti sosial! Paham?!" Kata Hermiku menatap tajam ke arah suaminya.


"Hehehe.. Nggak boleh ya mah? Tapi kan kesian mah, apa aku bikinin rumah buat adek ini ya mah? Gimana?" Djaduk sedang menguji kesabaran Hermiku.


Tak seperti Hermiku yang santai tapi selalu punya kata-kata pedas yang stoknya tak ada habisnya, Vera lebih cerewet dan gemas ingin menyeret Selvi keluar dari istana mereka.


"Mah? Dia mamah mu?" Tanya Selvi bingung. Bagaimana bisa orang secantik Hermiku bisa dipanggil 'mah' oleh Djaduk.


"Dia ratu di sini dek. Istri pertama ku. Dan dia.. Si manis galak tapi ngangenin itu permaisuri ku, istri kedua ku." Perkataan Djaduk sukses membuat Selvi menutup mulutnya tak percaya. Jadi lelaki itu sudah punya dua istri?? Lelucon apa lagi ini? Menghadapi satu orang seperti Vera aja belumm tentu dia menang apalagi ditambah sosok lain yang lebih menyeramkan dari pada istri kedua Djaduk. Ya, di mata Selvi, Hermiku lebih menyeramkan dari pada Vera!


"Buatin rumah? Dia siapa mu? Kalau hanya penjelasan singkat dari mu tadi jika dia gagal nikah dan tak punya siapa siapa, aku lebih senang jika kamu antar dia ke panti sosial. Di sana dia bisa dibekali keterampilan untuk melanjutkan hidup dan tentu tanpa merugikan orang lain seperti contohnya menggoda suami orang." Hermiku berkata tenang tanpa bentakan.

__ADS_1


Tentu saja Selvi tersinggung tapi mau melawan pun percuma, cara satu-satunya agar dia bisa mendapat simpati Djaduk adalah meminta bantuan mbah Ribut. Selvi akan kembali saat dia siap. Cukup untuk kali ini, dia bertemu Vera dan Hermiku tanpa silaturahmi. Jalan masih panjang, Selvi pasti kembali untuk mendapatkan apa yang dia inginkan! Setidaknya itulah yang Selvi pikirkan.


__ADS_2