Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 154


__ADS_3

Teriknya sang surya hari ini benar-benar menguji keimanan seorang Selvi agar tak terus mengumpat karena panasnya yang seakan menembus sampai ke tulang.


"Bapaaak.. Aku mau ke warung beli es!" Ini orang, meski usianya sudah tak lagi pantas dikatakan sebagai bocah tapi kelakuannya malah melebihi anak TK saja.


"Bapakmu ini nggak budek Sel, pergi tinggal pergi. Nggak usah teriak seperti lagi di hutan." Seru pak Darmaji geleng kepala.


"Kali aja bapak nggak denger. Bapak mau nitip es apa?" Tanya Selvi bersemangat.


"Nggak usah. Kamu bisa lebih kalem sedikit saja sudah bikin kepala bapakmu ini adem." Yang artinya pak Darmaji mengakui jika anaknya itu memang rada barbar!


"Aku emang kalem pak! Ah ya udah, aku ke warung dulu lah.." Tak sadar diri berkata jika dirinya kalem!


Oiya, mengenai Theo yang dulu katanya mau berkunjung ke rumah Selvi, pada kenyataannya lelaki itu tidak bisa merealisasikan rencananya karena tiba-tiba Theo ada urusan yang tak bisa ditinggalkan.


Theo yang kala itu sudah mengirimkan cv lamaran kerja ke anak perusahaan Djaduk akhirnya mendapat panggilan untuk interview. Tak ingin melewatkan kesempatan emas dengan kembali bekerja sebagai karyawan kantoran, Theo langsung berangkat dengan penuh semangat berharap dirinya bisa diterima berkerja di sana.


"Mau kemana Sel?" Tanya seorang tetangganya, melihat gelagat si tetangga yang bertanya sambil melihat ke arah perut Selvi yang mulai kelihatan menonjol juga di barengi pandangan lumayan sinis, Selvi langsung membuang muka. Males banget sebenarnya bertemu orang-orang seperti ini.


"Warung." Selvi jutek karena dia tahu niat ibu itu bertanya hanya ingin memanjangkan list dosa untuk menggunjing dirinya.


"Ngapain? Kok tumben berani keluar rumah? Itu perut udah gede aja ya.. Pernah diperiksain nggak?"

__ADS_1


Nah kan, udah ketebak.. Selvi tahu dari cara ibu tetangga itu bertanya seakan ingin menjatuhkan mental Selvi. Lumayan kan siang hari pas lagi terik teriknya gini bisa bergosip ria bersama genk mak emak lainnya meski tema gosip mereka ya itu itu aja. Tak apa, bagi mereka yang penting bisa ngumpul lalu bertukar informasi diselingi celetukan membully adalah kesenangan terhaqiqi.


"Kenapa ya? Masalahnya sama situ apa?" Selvi udah pasang kuda-kuda bersiap adu mulut dengan tetangganya yang tersenyum sinis.


"Ya lucu aja.. Sekarang ini banyak orang nggak tau malu merajalela ternyata. Udah hamil di luar nikah tapi lagaknya kayak nggak punya dosa apa-apa.. Iyuuuuuh, jyjyx banget nggak sih sama orang modelan gini? Bisanya cuma bikin aib, bikin malu keluarga juga lingkungan sekitarnya!"


Selvi sudah kebal. Dia santai mendekati ibu itu.


"Dulu aku malu, duniaku seakan runtuh ketika aku mengandung anak ini. Ibu ku meninggal, bapakku tak begitu peduli dengan kehadiran ku. Semua seakan memusuhiku, iya dulu aku merasa ingin mati saja.. Tapi, sekarang aku bisa dengan bangga mengangkat kepala ku menjawab semua hinaan orang-orang seperti anda ini kepadaku!"


"Aku hamil di luar nikah, tapi aku bukan pembunuh yang tega mengaborsi janin di perutku demi menutupi dosa yang aku lakukan. Tenang saja bu, meski kelian semua menghinaku, menuding ku pela_cur, atau wanita liar.. Aku tetap mendoakan kebaikan untuk kelian semua. Untuk keluarga kelian agar putra putri kelian dijauhkan dari pergaulan bebas seperti hal nya aku!"


"Terus saja omongin aku, anggap saja diri kelian adalah mahkluk paling mulia di muka bumi. Ingatlah bu.. Tuhan tidak pernah tidur, aku orangnya suka ngaduan sekarang. Kalo aku aduin ketidakadilan yang aku terima terus menerus dari kelian semua lalu Tuhan ku ngasih azab ke kelian, aku nggak ikut ikutan lho ya.. Permisi."


Berjalan kembali, karena sudah mendapatkan es yang dia inginkan. Selvi dikejutkan dengan munculnya lelaki yang beberapa hari ini menari di pikirannya, Theo berdiri di samping motor yang mungkin miliknya.


"Hai.." Sapa Theo tersenyum.


"Maaf anda siapa?" Selvi kesal setengah mati karena Theo suka muncul menghilang sesuka hati.


"Iya maaf.. Kemarin itu aku nggak bisa ke rumah mu karena ada urusan mendadak." Theo tau Selvi lagi ngambek.

__ADS_1


"Nggak ngerti, anda ngomong apa?" Kembali Selvi berakting seperti memang tak mengenal siapa Theo.


"Ngerti.. Aku tau kamu ngerti kok. Aku minta maaf, yok sekarang ke rumah mu." Ajak Theo tanpa dosa.


"Bisa nggak orang-orang nyebelin modelan gini di ambil dulu sama malaikat, diajak hiling ke rahmatullah! Bikin sepet mata!" Selvi mendengus kesal. Theo terkekeh karena tahu Selvi tak serius marah padanya.


"Emang kamu mau menjanda sebelum tak nikahi? Nggak baik ngomong kayak gitu, aku pergi pasti kamu nangis kejer nyariin." Modal yang Theo punya adalah pede, pokoknya pede aja dulu. Sisanya, biar waktu yang melancarkan semuanya.


"Dieh! Tadi emak emak minus ahklak sekarang duda yang tingkat kepedeannya udah di atas rata-rata! Emang boleh orang-orang di sekitarku semua pada nyebelin gini?" Selvi mulai berjalan melewati Theo.


"Iya iya maaf.. Gitu amat sih marahnya, ayo naik sini biar ku anterin. Ada motor kok milih jalan kaki, kesian itu kaki mu pada bengkak." Masih mencoba meluluhkan hati Selvi.


Selvi tak peduli pada Theo, dia mengambil satu cup es yang dia beli tadi dan meminumnya untuk meredakan panas di dalam dan luar tubuhnya. Sekarang tak hanya matahari saja yang membuatnya kegerahan tapi juga makhluk yang sekarang mengikutinya.


"Assalamu'alaikum.. Pak." Sampai di rumah, Selvi meletakkan satu lagi es yang dia belikan untuk bapaknya di kursi depan rumah.


"Wa'alaikumsalam." Pak Darmaji muncul dari samping rumah.


Kening orang tua itu berkerut melihat anaknya datang bersama lelaki yang asing untuknya karena memang pak Darmaji tak pernah bertemu dengan Theo sebelumnya.


"Assalamu'alaikum pak, aku Theo.. Aku calon ayah dari anak yang dikandung putri bapak sekarang ini." Theo menyalami pak Darmaji yang langsung melotot karena ucapan lelaki di depannya yang tengah menggenggam tangannya.

__ADS_1


Tak jauh berbeda dengan pak Darmaji, Selvi langsung terbatuk-batuk karena keselek minuman yang baru dia seruput. Matanya membulat sempurna. Yang Theo lakukan malah terlihat santai dengan senyum menghiasi sudut bibirnya sambil menatap ke arah Selvi yang memberikan tatapan membunuh padanya.


__ADS_2