Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 46. Sabar


__ADS_3

Wibi memarkirkan motor. Belum sampai menutup pintu, dia sudah dihadang sambutan ibunya yang mengadu tentang istrinya yang manja.


Hanya mengiyakan saja omongan ibunya, Wibi segera melangkahkan kaki ke kamar. Niatnya mau ambil baju lalu mandi, beristirahat setelahnya.. Rasanya raga itu capek sekali. Tapi, melihat istrinya yang menangis sambil mendekap Sakti, anaknya niatnya tadi diurungkan.


"Dek.." Wibi menyentuh pundak itu.


"Mas.. Ayo pulang mas, aku enggak betah di sini.. Bisa cepet mati aku mas kalau kayak gini terus. Sakti nangis melulu dari bangun tidur, maunya gendongan aja, aku enggak bisa ngapa-ngapain.. Ibumu juga enggak bantu aku sama sekali mas."


"Lagian kamu kok jam segini baru pulang, kamu sengaja ya? Mentang-mentang kita lagi di rumah orang tuamu.. Kamu mau bales aku? Mas.. Kalau besok kamu enggak mau pulang, biar aku sendiri aja yang pulang.. Aku engga kuat mas.."


Wibi belum mandi, dia sendiri juga capek baru pulang kerja. Sudah disambut curhatan ibu dan istrinya. Badan basah kuyup terkena hujan, perut lapar belum makan, emosi hampir meledak. Tapi, Wibi langsung beristiqhfar dalam hati.


Secapek-capeknya dia, pasti istrinya lebih capek lagi. Dia lapar tapi tidak menyusui, tak apa baginya menahan lapar seharian. Tapi, istrinya.. Untuk makan saja harus menunggu orang lain menggendong Sakti. Masalahnya, Sakti tak terbiasa digendong orang lain selain bapak dan ibunya. Meski yang menggendong adalah neneknya, Sakti masih saja menangis karena tak terbiasa.


"Aku ambilin kamu makan dulu ya, jangan nangis. Kasihan Sakti.. Dia sedih karena kamu juga sedih. Bentar.."


Wibi memang lebih sabar sekarang ini. Itu semua karena nasehat dari Teguh. Temannya itu selalu memberi nasehat dan memotivasi dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan, semua itu berhasil.


"Nah.. Itu tuh.. Manja! Suami baru pulang kerja aja udah disuruh-suruh! Biar apa kayak gitu? Biar orang nyangkanya aku enggak perhatian sama dia! Enggak ngurusin dia?? Pinter banget sih aktingnya. Lagian ya.. Anak nangis itu paling karena laper! Tuh di kulkas ada pisang, jangan males makanya. Anak laper aja enggak ngerti!" Ibu Wibi kesal melihat anaknya akan masuk kamar membawa sepiring nasi dan segelas air.

__ADS_1


"Bu.. Ibu udah makan belum?" Tanya Wibi kepada ibunya.


"Udah!! Bi.. Jangan dibiasain sih manjain Shopi, punya tangan punya kaki kok! Biar dia ambil makan sendiri." Bentak ibunya Wibi.


Wibi hanya menanggapi dengan senyuman. Dia sendiri sudah sangat pusing hari ini.


"Kamu kasih apa ke anakku nyampe dia malas ngomong sama aku? Denger enggak kamu Shop?? Keluar kamu kalau denger!!" Seperti sengaja mencari keributan, ibu Wibi berteriak memancing emosi.


"Makan dulu ya.. Sini Sakti sama ayah dulu. Ibu biar makan dulu ya." Wibi ingin menggendong Sakti.


"Kamu ganti baju dulu sana mas. Bajumu basah!" Wibi mengangguk setuju. Matanya yang tadi merah penuh amarah, berubah ke tatapan penuh kasih sayang saat melihat buah hatinya menggeliatkan tubuh mungilnya.


Shopiah makan, Wibi bersenandung meninabobokan Sakti.


"Dek, aku lembur cari sampingan. Kalau cuma ngojek enggak bakal cukup buat memenuhi kebutuhan kita. Ke depannya, kita butuh banyak biaya kan. Untuk pendidikan Sakti, untuk mimpi kita memiliki rumah sendiri, juga kebutuhan tak terduga lainnya.. Semua itu perlu banyak biaya dek. Ini... Dua hari ini aku kerja di pasar abis narik. Buat kamu." Wibi menyerahkan uang tiga ratus ribu kepada Shopiah.


Jatuh lagi air mata itu. Pikirannya yang tadi melayang kemana-mana terjawab, dia sudah salah paham dan suudzon pada suaminya sendiri.


"Mas... Maafin aku, aku cuma capek mas.." Shopiah merasakan dadanya sesak.

__ADS_1


"Iya enggak apa-apa. Tadinya aku bawa kamu ke sini karena ibu sering nanyain kamu dan Sakti, katanya kangen sama cucunya. Tapi, kalau kamu enggak betah di sini ya udah.. Kita pulang aja besok." Wibi menciumi buah hatinya.


"Maaf mas.." Kembali kata itu terucap.


"Kamu mau mandi dulu? Mumpung Sakti udah bobo. Nanti gantian." Wibi menaruh Sakti di tempat tidur.


Banyak masalah, banyak hal yang membuat marah, tapi semua bisa diselesaikan jika menggunakan kepala dingin. Jangan melulu mementingkan ego dan kepentingan diri sendiri. Merasa paling benar dan paling menderita, tak akan menyelesaikan masalah.


____


"Bapak sakit?" Tanya Ayu melihat bapaknya yang sesekali bersin. Tampak wajah Teguh memang lebih pucat saat ini.


"Enggak Yu. Ayo, mumpung masih pagi. Nanti bapak beliin payung lipet ya, biar bisa dimasukin dalam tas. Jadi pas pulang sekolah enggak takut kehujanan." Teguh merasakan bibir dan tenggorokannya kering ketika bicara.


"Bapak yakin enggak apa-apa? Kok pucet. Nah kan tangan bapak anget, bapak sakit ini..." Ayu meraih tangan bapaknya.


"Nanti beli obat sakit kepala di warung aja pasti langsung sembuh." Teguh sudah mengayuh sepeda tuanya.


Hanya flu ringan takkan membuatnya tumbang. Pagi-pagi sekali, Teguh meminjam pompa angin kepada tetangganya. Ternyata ban sepedanya tidak bocor hanya kurang angin saja. Dan untungnya, tetangga Teguh mau meminjamkan pompa angin meski jam empat pagi dipaksa membuka mata karena memang belum bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Yu.. Sekolah yang pinter ya, jangan banyak mikir aneh-aneh. Bapak kerja dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam pak. Bapak bener ya, nanti beli obat. Hati-hati kerjanya ya pak." Ayu mencium takzim punggung tangan bapaknya. Dia tak beranjak dari gerbang sekolah sampai bayangan bapaknya menghilang di tikungan jalan.


__ADS_2