
Hujan pertama di bulan ini. Tanah kering yang diguyur air langit dan menyerap airnya hingga menimbulkan aroma khas tanah mampu menghipnotis indera penciuman.
Tapi Selvi cemas, bukan karena hujan yang makin lebat tapi karena bapaknya belum juga pulang dari sawah. Hanya membawa satu botol kecil air minum untuk bekal di sawah tanpa mengisi perutnya dengan makanan apapun terlebih dulu makin membuat Selvi khawatir.
Dia ambil ponsel miliknya yang tadi di charge di kamar. Sebuah kontak di ponselnya dia geser ke ke tombol hijau untuk dipanggil. Tapi, tak ada jawaban dari seberang sana. Selvi berdecak. "Apa sesibuk itu sampai angkat telepon aja nggak bisa kamu Guh?"
Kembali berjalan ke ruang tamu, melihat ke arah halaman depan harap harap orang yang ditunggu kepulangannya muncul menampakkan diri. Lagi-lagi Selvi dibuat cemas setelah menatap lama ke arah yang sama beberapa menit tak ada tanda-tanda bapaknya akan pulang.
"Aku susul aja kali ya? Siapa tahu bapak nggak bisa pulang karena hujan lebat." Selvi berinisiatif menjemput bapaknya yang ada di sawah.
Mengambil mantel dan juga helm, tak lupa ponsel dia tinggal karena itu satu-satunya alat komunikasi yang dia punya. Dia tak ingin karena kecerobohan membawa ponsel di tengah hujan mengakibatkan ponselnya yang tidak waterproof itu jadi terpaksa mati sebelum waktunya.
Motor dikendarai dengan pelan, karena derasnya hujan membuat air tumpah ruah ke jalanan. Jika tidak hati-hati, bisa saja Selvi terperosok jatuh memeluk aspal karena memang jalanan tidak rata dan banyak lubang di sana.
"Aduuuh kenapa malah mati sih ini motor?!" Selvi turun dari motornya setelah beberapa kali dia coba hidupkan tapi tak bisa.
"Ayolah! Mogok jangan pas hujan gini, mana nggak bawa HP lagi!" Dia bicara dengan motornya sambil terus mencoba menghidupkan kembali motor yang sudah dia tepikan itu.
"Aaah sial!!" Dengan keras dia pukul jok motornya.
Dia tak mengerti kenapa motornya yang dia rasa baik-baik saja tiba-tiba mogok seperti itu. "Bapak sih ada-ada aja, harusnya tadi pas tahu kalo mendung ya langsung pulang aja! Ke sawah kok nggak inget wayah! (waktu)."
Masih mencoba menghidupkan motor dengan ditemani derasnya hujan juga suara omelan nya sendiri, Selvi makin kesal karena ada kendaraan yang melintas dan mencipratkan air ke arahnya. Selfi anggap itu sebuah kesengajaan karena dia sudah menepi dan jalanan sepi harusnya kendaraan bisa melaju pelan. Tapi mobil tadi seperti sengaja membuatnya makin emosi.
"Setan!! Punya mata nggak sih?! Mentang mentang naik mobil bisa seenak jidat!!" Teriak Selvi tak terima.
Di tengah kesalnya yang makin menjadi, sebuah motor berhenti tepat di sampingnya. Tanpa menggunakan mantel, pengendara motor tadi malah membuka helmnya dan berjalan mendekati Selvi.
"Kenapa motornya? Kamu hujan deres gini kok keluyuran di luar, mau kemana?" Tanya lelaki itu kepada Selvi. Dari caranya bertanya seakan dia sudah mengenal Selvi dengan akrab.
Bukan menjawab tapi malah memberi pandangan tak suka. Tak menghiraukan kehadiran Theo, Selvi berusaha menghidupkan motor kembali.
__ADS_1
"Mungkin karburatornya basah. Coba sini." Tak ada pilihan, Selvi mundur dan membiarkan Theo mengecek motornya.
Dan benar saja, motor tersebut karburatornya basah sehingga alat transportasi itu jadi mati mendadak. Dengan sat set Theo mengeluarkan air tersebut dengan cara menutup kran bensin yang mengarah ke karburator lalu dengan cekatan Theo mengendurkan baut pembuangan bensin. Setelah air keluar bersama sisa bensin, Theo memastikan jika motor Selvi bisa kembali hidup.
"Aku beliin bensin dulu, kamu di sini aja." Theo membereskan alat yang dia pakai sebagai montir dadakan tadi lalu berjalan kembali ke motornya.
"Ya di sini aja.. Emang mau kemana, motornya aja nggak mau nyala!?" Selvi bergumam sendiri.
Tak sampai sepuluh menit, Theo datang lagi. Tanpa terasa senyum itu muncul dari wajah Selvi. Dia pikir lelaki itu hanya basa-basi membantunya ternyata penilaian Selvi salah, Theo tak setengah setengah menolong Selvi.
"Udah bisa jalan nih. Nanti setelah ini motormu harus rutin di servis ya. Oiya, selang bensin juga nggak ada salahnya dibersihkan biar suplai bensin dari tangki bensin ke karburator lebih lancar. Klep nya juga-"
"Sttttt.. Uwes, aku nggak ngerti gitu gituan. Ini aku buru-buru mau jemput bapakku di sawah jadi terimakasih bantuannya dan permisi." Selvi memotong ucapan Theo dan kembali menaiki motornya yang sudah bisa digunakan kembali.
"Nama kamu siapa?" Tanya Theo sedikit berteriak di tengah lebatnya hujan. Karena memang dari awal pertemuan mereka dan beberapa kali pertemuan itu, Theo tak mengetahui nama Selvi.
"Selvi!" Jawab Selvi sambil berlalu pergi.
_____
Ayu menatap ke arah langit yang belum memberi tanda jika hujan akan reda. Dia memilih berteduh di pinggir jalan tepatnya di depan kios bersama beberapa orang lainnya.
Iseng, Ayu menengadahkan telapak tangannya memberi kesempatan kepada hujan untuk membasahi jari jemarinya.
Memilih agak menjauh dari orang lain yang berteduh bersamanya, Ayu berani jongkok memejamkan mata. Tangan itu masih terbuka dan diulurkan ke udara.
Namun tiba-tiba saja dia merasa jika hujan tak lagi membasahi tangannya. Segera mata itu terbuka, dan Ayu menemukan Reza ada di sana. Menjadikan badannya sebagai tameng agar Ayu tak terkena cipratan air langit.
"Lho kok ada kamu Za.. Kamu dari mana?" Ayu berdiri tak enak hati karena separuh pakaian Reza sudah basah oleh air hujan.
"Dari rumah, ikut aku yok Yu.."
__ADS_1
"Eh, tapi aku bawa motor Za.. Ngajak kemana emangnya?"
"Makan. Mau ya?" Reza terlihat agak aneh kali ini. Seperti ada hal yang ingin dia sampaikan ke Ayu.
"Tapi deket sini aja ya, gimana? Lagian masih hujan gini." Ayu memberi saran.
Reza mengiyakan saja. Setelah memastikan kendaraan mereka terparkir aman, mereka berjalan beriringan tanpa suara. Hanya gemericik air hujan serta kendaraan yang sesekali lewat saja sebagai pemecah kesunyian diantara mereka.
Setibanya di tempat makan, Reza mempersilahkan Ayu memesan makanan sesuai keinginannya. Dia pun demikian.
Reza melihat Ayu yang menopang dagu dengan kedua tangan. Begitu manis.
"Kemarin.. Waktu di tempat ibu, kamu kenapa langsung pergi Yu?" Reza bertanya sambil melihat kedalaman netra Ayu.
"Aku..."
Pesanan datang. Pembicaraan terhenti. Keduanya melanjutkan acara makan.
"Za.. Kamu marah sama aku?" Tanya Ayu sambil memegang sendok sup nya.
"Mana bisa aku marah sama kamu. Lagian juga nggak ada alasan yang bikin aku marah sama kamu, kamu kok lucu.." Ucapnya sambil menenangkan degup jantungnya yang makin tak karuan.
"Aku tahu kamu mau tanya apa.. Tapi kita makan dulu ya, nanti kalo kita ngobrol terus makannya dibantu setan lho." Ucap Ayu tersenyum khas dia.
'Senyum itu... Emang boleh kamu semanis itu Yu? Aku nggak kuat lama-lama liatnya, bisa diabet meski nggak konsumsi gula kalo tiap hari deket kamu kayak gini'
"Yu.. Apa kamu lagi suka sama seseorang?" Tanya Reza setelah mereka menyelesaikan makannya.
__ADS_1
Ayu menggeleng pelan. "Za.. Aku mau fokus ke kuliahku dulu, biar cepet lulus. Tentang kejadian di makam ibu kemarin itu.. Aku denger kamu meminta ijin ke ibuku, mau deketin aku.. Karena.. Karena kamu sayang aku.. Tapi...-"