Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 74. Sakit


__ADS_3

Di larikan ke rumah sakit karena benturan keras pada kepalanya, Vera belum juga sadarkan diri. Di sana ada Dinda dan Djaduk yang menemani. Sedangkan Hermiku, dia minta ijin menjemput anak-anaknya pulang sekolah dulu baru nanti kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Vera.


Di ruangan itu Dinda melihat mamahnya terbaring tak berdaya. Matanya sudah sembab karena terus menangis. Gadis itu berpikir bagaimana jika nanti mamahnya tak sadarkan diri untuk selamanya. Dia belum siap menjadi yatim piatu. Meski sering bertindak sesukanya dan terkesan tak memiliki sifat baik satupun dalam diri Vera tapi tetap saja wanita yang terbaring di ranjang dengan mata yang masih terpejam itu adalah ibu kandung Dinda.


Tak bisa Dinda tak peduli pada perempuan yang melahirkannya. Perempuan yang dulu selalu mengutamakan dirinya. Apalagi saat papahnya masih ada di dunia, Vera memperlakukan Dinda seperti princess kecilnya.


"Makmu pasti sembuh. Jangan mewek terus gitu. Pusing aku liatnya." Djaduk berucap tanpa memandang Dinda sedikitpun.


"Semua ini gara-gara anda! Kenapa anda segitu teganya minta mamah tinggal bareng istri pertama anda? Apa anda tidak berpikir dampak apa yang akan terjadi jika para istri anda itu hidup dalam satu atap?? Mereka mungkin akan saling bersaing mendapatkan perhatian anda. Dan lihat.. Mamah ku sekarang yang jadi korban! Anda jahat!!" Dinda menatap sinis pada Djaduk.


"Wo wo wooooo.. Kamu kira rumahku itu tempat adu ilmu kanuragan apa? Sampai kamu mikir di sana manusianya pada bersaing segala. Mikirmu terlalu jauh bocah! Makmu itu tinggal di rumahku ya karena kemauan dirinya sendiri. Apa aku minta? Apa aku maksa? Enggak.. Apa kamu pikir istri pertama ku itu orang jahat sejenis lampir yang hobi ribut atau cari masalah sama makmu? Enggak. Makmu sendiri yang tiap hari kayak panci dipukulin, berisik. Anak-anak ku aja pada takut sama makmu!" Djaduk membuat kalimat pembelaan panjang saat berbicara dengan Dinda.


__ADS_1



"Tapi anda penyebab mamah dirawat di sini!!" Dinda masih ngotot.


"Apaan?? Kok nyalahin aku terus. Makmu jatuh gara-gara kepleset dari tangga. Kamu pikir aku serajin itu cosplay jadi tangga dan bikin makmu guling gulingan di atasku? Enggak perlu jadi tangga juga makmu suka gegulingan di atasku kok.." Untuk kalimat terakhir Djaduk mengucapkan sedikit pelan. Dan Dinda diam setelah berpikir tak ada gunanya berdebat dengan lelaki aneh di sampingnya itu. Dinda bahkan menjaga jarak dengan bergerak menjauh beberapa langkah agar tak lagi berinteraksi dengan bapak sambungnya itu.


_____


Seseorang melihat benci ke arah Teguh yang sedang mengobrol dengan Ervin di area parkir sebuah pertokoan.


"Mas.. Ayu udah umur berapa sekarang ya?" Ervin menelisik.


"Tujuh belas tahun. Kenapa?" Teguh sempat melihat sekelebat sosok yang dia kenal beberapa tahun lalu, tak pernah muncul lagi karena menjalani hukuman penjara atas kesalahan yang diperbuat. Tapi, tadi dia sangat yakin jika yang dilihatnya adalah pak Jatmiko.

__ADS_1


"Weleh.. Udah gede mas, udah punya pacar belum ya dia?" Ervin kembali bertanya.


"Tanya sama orangnya sendiri Vin. Aku nggak tahu." Teguh masih penasaran dengan sosok yang sekarang sudah menghilang.


"Masa enggak tahu sih mas.. Dari tadi liat apa to mas? Diajak ngobrol kok kayak enggak fokus gitu."


"Yang pertama, emang kenapa kamu tanya-tanya Ayu udah punya pacar apa belum? Yang kedua, aku tadi lihat pak Jatmiko. Tapi, masih belum yakin sih.. Benar dia apa bukan. Rame banget gini." Memang sekarang kondisi parkiran sedang sangat ramai.


"Hehehe.. Ya tanya aja sih mas, kok rasanya cepet banget waktu berlalu ya mas.. kita jadi makin old. Tau-tau Ayu udah gede aja."


"Si Ijat kan di penjara mas. Lagian kalau emang udah keluar dari rutan ngapain juga dia ke sini? Minta disambut pake bogem ku apa." Lanjut Ervin.


Selesai bekerja, Teguh seperti biasa mengecek dulu pembukuan toko agar tak terjadi kesalahan. Semua dia teliti, karena dia tak ingin mengecewakan orang yang sudah menaruh kepercayaan kepadanya. Bermodalkan kepercayaan, mbak Gendis dan mas Dewa memberikan Teguh pekerjaan yang tak mungkin dia dapatkan di tempat lain.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Teguh sudah berada di jalan menuju pulang ke rumahnya. Saat tiba-tiba dia dikejutkan dengan sosok yang tergeletak di jalan. Penasaran dan kasihan membuat Teguh menghentikan laju motornya. Dia mendekati sosok yang telungkup di pinggir jalan itu.


__ADS_2