Bahu Bakoh

Bahu Bakoh
Bab 85. Berusaha mengungkap fakta


__ADS_3

Teguh tiba di rumahnya. Ada Ayu yang menyambut dengan senyum teduhnya. Ayu tahu bapaknya sedang mengalami masa sulit belakangan ini. Dia tak mau menambah beban bapaknya.


Secangkir kopi panas diletakkan di meja. Tanpa di suruh Ayu mengambilkan bapaknya sepiring nasi lengkap dengan sayur lodeh buatannya.


"Makan dulu pak. Bapak pasti seharian belum makan." Ayu bisa menebak dari raut muka bapaknya yang terlihat sayu.


"Maturnuwun ya nduk.. Bapak belum laper.." Ucapnya lesu.


Teguh masih teringat isak tangis Sakti. Masih terbayang candaannya bersama Wibi sebelum akhirnya Wibi ditemukan bersimbah darah dan dinyatakan meninggal di rumah sakit. Dan saat dia pejamkan mata, terlintas senyum Wibi saat berterimakasih setelah menerima bantuan tak seberapa darinya, justru membuatnya merasa tertekan.


Dia pernah kehilangan sosok yang teramat dicintainya. Istri dan juga kedua orang tuanya telah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa jauh sebelum Wibi meninggal. Tapi, ada yang berbeda Teguh rasakan saat Wibi meninggal. Ada bagian dari hatinya yang merasa menyesal. Tapi, dia sendiri tak tahu penyesalan apa yang sebenarnya dia rasakan.


"Pak.. Orang mau makan ndak perlu nunggu kelaparan dulu kan? Ini rejeki yang Allah kasih buat kita hari ini, masih ada yang bisa dimakan, masih ada yang bisa kita nikmati, masa mau dianggurin? Itu kan kata-kata bapak dulu.."


Teguh sebenarnya sudah kehilangan selera makan. Apapun yang ada di hadapannya terasa hambar. Tapi demi anaknya agar tak cemas memikirkannya, Teguh memaksakan diri untuk memasukkan beberapa suap nasi ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Dering nada panggil dari ponsel Teguh membuyarkan lamunan. Teguh melihat nama Wibi tertera di sana. Seketika matanya membola. Dengan cepat dia terima panggilan telepon tersebut.


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam, mas Teguh.. Ini aku Shopi.. Ada yang ingin aku tanyain sama kamu. Kamu bisa ke sini mas?" Bisa dipastikan di ujung sana mengatakan hal tersebut tanpa senyum menaungi wajahnya. Datar terkesan ketus.


Teguh mengangguk padahal apa yang dia lakukan untuk menjawab perkataan Shopiah itu tak bisa dilihat oleh si pemanggil.


"Yu.. Bapak ke tempat om Wibi bentar ya, kamu jangan keluar rumah nduk.. Udah mau malem. Jangan lupa makan juga. Dan itu pintunya dikunci aja. Bapak bawa kunci serepnya. Assalamu'alaikum." Teguh segera menyabet helm dan kunci motor setelah meminta ijin pada putrinya untuk berkunjung ke rumah Shopiah.


____


"Ini bukan jaket mas Wibi. Petugas rumah sakit memberikan semua barang-barang mas Wibi yang dia pakai malam itu.. Tapi, ini bukan kepunyaannya. Aku hafal semua baju mas Wibi." Shopiah meletakkan jaket yang dibungkus plastik bening di atas meja. Jaket yang menjadi saksi bisu terenggut nya nyawa seseorang dari raganya.


Shopiah menunjukkan jaket itu kepada Teguh. Tentu saja Teguh tahu siapa pemilik jaket itu. Teguh masih menunggu Shopiah menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


"Tadinya polisi bilang kalau mas Wibi adalah korban perampokan tapi, hal itu dibantah dari nggak ada satupun barang mas Wibi yang hilang."


Shopiah menatap Teguh yang sepertinya ingin bicara. Dia diam guna mempersilahkan tamunya mengatakan apa yang perlu dia ketahui.


"Itu jaket ku mbak. Malam itu, tak sengaja aku ketemu Wibi di depan ruang tunggu pasien, aku lagi jenguk temen yang dirawat di sana. Katanya, dia habis beli pulsa buat mbak. Aku melihat bajunya basah kuyup.. Jadi aku menawarkan jaket ku untuk dipakai Wibi. Itu pertemuan terakhir ku sama dia.. Sampai.. Sampai aku melihat sendiri dia sudah.. meninggal.." Pelan Teguh menjelaskan apa yang dia tahu kepada Shopiah tentang jaket itu.


"Mas Teguh, besok pagi bisa ikut aku ke kantor polisi?" Shopiah memicingkan mata.


Teguh tak mengerti arah pembicaraan Shopiah, tapi dia berusaha tetap tenang. Dia tahu saat ini Shopiah dan Sakti adalah orang yang paling sedih atas kematian Wibi, kehilangan orang yang disayang secara mendadak bukan suatu yang mudah untuk mengikhlaskan.


"Iya mbak." Kata Teguh tanpa banyak bertanya.


"Aku memang orang miskin, hidupku dan keluarga ku jauh dari kata cukup.. Rumah masih numpang, orang tua sakit-sakitan, tapi.. Aku ingin keadilan untuk mas Wibi. Aku ingin tahu siapa dan kenapa mas Wibi sampai dihilangkan nyawanya. Kesalahan apa yang dia lakukan sampai harus dia tebus dengan nyawanya.. Jujur aja mas Teguh.. Aku sakit hati.. Aku nggak akan memaafkan orang yang menjadikan Sakti jadi anak yatim."


Tangis itu kembali pecah. Teguh memejamkan matanya sesaat, dia juga ingin tahu kenapa bisa Wibi jadi korban pembunuhan sadis seperti itu. Tanpa banyak bicara, setelah dirasa pertemuan itu sudah menemukan titik temu diantara keduanya, Teguh pamit undur diri pulang kembali ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2