
Berita kematian mbah Ribut terekspos di berbagai media. Wajar saja karena meninggalnya lelaki sepuh itu sungguh sangat tragis. Banyaknya media yang memberitakan kematiannya yang tragis justru malah menguak fakta lain.
Beberapa orang yang pernah berobat atau bisa disebut korban dari tipu dayanya satu persatu muncul ke permukaan. Sayangnya, mereka berani buka suara setelah dukun yang dikenal juga bisa menggandakan uang itu telah terbujur kaku, telah berbentuk jasad yang ditinggalkan rohnya.
Semasa hidup, mbah Ribut jarang bersosialisasi. Kenalannya hanya seputar pasien yang datang berobat dan meminta bantuannya. Jadi tak begitu mengagetkan jika pemakaman lelaki sepuh itu hanya dihadiri ketua rt dan beberapa pihak berwajib saja.
Di sana.. Di dalam tanah yang sudah menjadi selimut abadinya terkubur seorang yang dulunya dianggap sakti. Banyak cerita tentangnya tapi sayang bukan kebaikan yang akan menjadi pengiring setiap namanya disebutkan. Seorang dukun, seorang penipu, penjahat kel_amin, dukun ca_bul, dan masih banyak lagi gelar yang dia dapat setelah kematiannya.
Mendengar dan melihat berita di televisi yang menampilkan berita kematian mbah Ribut, Selvi yang awalnya senang jadi menangis tersedu-sedu. Beberapa kali dia memukul perut juga kepalanya sendiri.
Tangisannya mampu membuat pak Darmaji yang ada di depan rumah tengah sibuk dengan beberapa ayam yang sedang dia beri makan langsung menuju ke dalam rumah. Beliau mengecek apa yang terjadi.
"Astaghfirullah! Selvi.. Kamu kenapa? Selvi istighfar nduk.. Istighfar. Ya Allah.." Tangan yang ingin kembali memukul perutnya sendiri kini dikunci pak Darmaji.
"Aku nggak mau punya anak dari kakek sialan itu pak.. Pak, hidupku bisa hancur kalau sampai semua orang tahu aku mengandung anak dukun penipu itu! Aku nggak mau pak, aku nggak mau!!" Tangisnya makin menjadi. Kalimat penolakan terus menggaung di udara.
Mata pak Darmaji melihat ke arah televisi yang masih menampilkan berita kematian mbah Ribut. Memang, kejadian meninggalnya mbah Ribut bisa dikatakan viral, maka dari itu banyak stasiun televisi yang memutar berita itu berulang-ulang.
"Innalillahi wainnailaihi raji'un." Kalimat pertama yang pak Darmaji ucapkan saat melihat kemunculan berita itu lagi.
"Dia udah mati pak, tapi penderitaan yang dia beri akan aku rasakan seumur hidupku. Tolong biarin aku gugurin anak ini pak.. Aku sendiri yang tanggung jawab atas perbuatan ku pak, aku nggak akan libatkan bapak!" Selvi terus meracau tak karuan.
Pak Darmaji bergegas keluar dari kamar Selvi dan datang kembali dengan satu ember hitam air di tangannya, dan sedetik kemudian air dari ember itu sudah berpindah tempat dari ember ke badan Selvi. Selvi gelagapan menghentikan tangisan juga aksi gilanya yang terus menerus memukul perutnya.
__ADS_1
"Mau siapapun bapak dari anak yang kamu kandung, tapi kamu tetap ibunya! Mikir nggak kamu? Membunuh janin di perutmu sama saja menghilangkan nyawa anakmu sendiri. Tega kamu berbuat begitu?" Bentak pak Darmaji berusaha membuat Selvi sadar akan kesesatan yang sudah berakar dalam caranya berpikir.
"Tapi pak.. Aku nggak mau! Aku nggak siap jadi ibu, aku nggak bisa! Dia terlahir pun percuma, aku benci dia! Bahkan sebelum dia lahir! Aku udah benci dia! Aku jijik tiap kali merasakan hadirnya di dalam sini! Mengingatkan ku pada kebodohan ku, aku benci dia!!" Selvi berteriak di depan bapaknya.
Pak Darmaji ingin memukul Selvi tapi dia urungkan.
"Biar aku saja yang merawatnya. Setelah kamu melahirkan, pergi saja sesukamu.. Aku tidak akan melarang mu."
"Bapak ngusir aku? Pak.. Aku harus pergi kemana? Ibu sudah nggak ada.. Aku cuma punya bapak, dan sekarang bapak nyuruh aku pergi??" Selvi tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Nggak usah nunggu anak setan ini lahir pak, aku pergi sekarang aja. Aku tahu.. Sejak aku lahir hanya membawa luka untuk bapak juga ibu. Aku bukan anak yang baik, aku nggak seperti Ayu yang sukses di usia muda, sholehah, juga bisa membanggakan Teguh! Aku nggak kayak gitu! Aku produk gagal! Iya kan pak? Bapak mau bilang gitu kan?"
Kali ini pak Darmaji tak bisa menahan tangannya untuk tidak melayang memberi tanda merah di pipi Selvi. Selvi diam. Tangisnya berhenti.
Selvi menangis tegugu. Dia merutuki kebodohannya, dia merutuki obsesinya, sifat keras kepala dan pembangkang nya. Saat itu juga dia baru sadar jika selama ini dia tidak bersyukur dengan apa yang dia miliki. Selalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang terlihat bahagia di matanya.
"Paak.. Aku harus gimana.." Selvi masih betah menangis.
Pak Darmaji mengambil mukena bu Indun yang terlipat paling bawah di lemari pakaian milik mereka. Menyerahkan mukena itu untuk Selvi, "Bertaubatlah nduk, terima semua jalan yang digariskan oleh Allah SWT untuk mu. Kamu masih punya aku, punya Teguh, juga Ayu. Kita semua keluarga. Ada masalah kita selesaikan bersama, kamu jangan takut.. Kedepannya kamu pasti bisa menjadi pribadi yang lebih baik."
___
Vera melihat ke arah kebun bunga mawar di depan mansion milik suaminya. Dia diam. Tapi pikirannya berkelana kemana-mana. Yang pasti dia sedang memikirkan seseorang.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Hermiku memergokinya sedang terdiam begitu lama.
"Ada kebon, tuh!" Vera menunjuk dengan dagu kebun bunga yang membuatnya tak jemu melihat ke arah sana. Agak kaget juga dia, karena tak biasanya Hermiku mau ngobrol dengannya.
Selama ini, meski tinggal bersama Vera dan Hermiku mempunyai area masing-masing. Hal itu mereka lakukan untuk menandai wilayah satu sama lain agar tak terjadi perseteruan jika salah satu diantara mereka memasuki wilayah yang mereka daulat sebagai kuasanya.
"Hmm.. Aku kasih tau, kalo hamil jangan sering melamun. Nanti anakmu mirip bapaknya!" Hermiku melipir pergi.
Vera melongo tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Hermiku. Memang ada yang salah jika anak mirip ayahnya? Tidak! Tentu saja tidak. Tapi hal itu akan jadi salah kaprah untuk Hermiku yang tak ingin anak-anaknya menjadi kloningan bapaknya, siapa bapak dari anakny? Ya siapa lagi kalo bukan Djaduk Mangkulangit.
"Mbak.. Aku mau ngomong." Vera mencegah kepergian Hermiku yang sudah siap dengan kunci mobil dan tas branded di tangannya.
"Oke. Ada apa?" Hermiku berhenti di samping Vera.
"Mbak.. Kemarin aku ketemu mantan suamiku. Aku kok curiga kalo mas Djaduk ada hubungannya sama mantan suamiku." Vera bicara terus terang.
"Mantan suami? Om Cokro maksudmu? Curiga? Sama Suamimu? Emang tampang tampang kayak suamimu itu patut dicurigai. Tapi, setahuku.. Om Cokro emang deket sama suamimu."
Vera menghela nafas.. Rupanya Hermiku melupakan sosok Theo. Ya sudah lah..
"Mbak, mas Djaduk kan juga suamimu. Kok manggilnya kayak orang asing gitu." Vera menelisik kenapa Hermiku seperti anti sekali dengan sosok Djaduk.
"Dulu nggak. Meski dia jelek, tapi dia setia. Itu dulu. Sekarang.. Udah jelek, sok poligami, aku nggak suka." Tegas Hermiku langsung menembus dinding hati Vera yang selembut tisu dibelah jadi tujuh.
__ADS_1